Manado, Barta1.com – Forum Group Discussion (FGD) pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Kepemudaan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Sulut, Rabu (2/7/2025), memanas antar sesama OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda).
Hal itu dipicu oleh pernyataan dari perwakilan HIPMI, Natanael Pepah, yang menuding aktivis yang hadir pada FGD Ranperda Kepemudaan “mendramatisir”.
Ketua DPD IMM Sulut, Fikli Olola, dengan tegas membantah pernyataan tersebut.
“Mengatakan aktivis mendramatisir adalah bentuk kemalasan berpikir,” tegas Fikli saat menutup pernyataannya dalam forum tersebut.
Pernyataan Pepah muncul setelah Ketua DPD GMNI Sulut, Taufik Poli, berupaya meminta waktu kembali untuk menanggapi pernyataan dari anggota Panitia Khusus (Pansus) Ranperda dan Dinas Pemuda dan Olahraga, terkait pandangan tentang materi wawasan kebangsaan pada draf Ranpeda Kepemudaan. Taufik kemudian terpaksa keluar dari ruangan FGD karena izin dari perusahaan tempatnya bekerja hanya sampai pukul 12.00 WITA. Apalagi, permintaan waktunya ditolak oleh anggota Pansus, Pierre Makisanti.
Setelah itu, moderator FGD yang juga merupakan tim ahli DPRD Sulut, Deni Pinasang, mempersilakan Pepah menyampaikan pandangannya terkait isi draf Ranperda. Dalam pernyataannya, Pepah menyebut:
“Saya melihat para aktivis ini mendramatisir. Padahal, poin per poin, butir per butir sudah jelas. Kenapa harus mendramatisir lagi? Apa kalian tidak melihat bahwa butir A dan B sudah jelas?”
Pernyataan anggota DPRD Kota Manado yang juga kader PDI Perjuangan itu sontak menuai reaksi. Pasalnya, hampir seluruh organisasi kepemudaan (OKP) yang hadir mengaku belum menerima maupun mengkaji draf Ranperda secara menyeluruh. Hal ini menimbulkan pertanyaan atas klaim Pepah bahwa semua poin dalam draf sudah jelas.
Usai FGD, Fikli Olola kepada Barta1.com menambahkan bahwa apa yang dilakukan Taufik Poli bukanlah bentuk dramatisasi, melainkan murni keinginan untuk menyampaikan pandangan penting terkait wawasan kebangsaan.
“Ketua GMNI Sulut hanya ingin menjelaskan soal pemahaman kebangsaan. Tapi karena ada keterbatasan waktu kerja, dia harus memilih keluar. Jadi tidak tepat kalau dibilang mendramatisir. Siapa yang meragukan nasionalisme seorang Ketua GMNI Sulut,” pungkasnya. (*)Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post