Manado, barta1.com – Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) Ke-3 Cabang Poli Kairagi, Tondano dan Tomohon bersama beberapa organisasi Kerukunan (sorong sampai merauke) yang berdomisili di Sulawesi Utara (Sulut) melakukan aksi penggalangan dana atas bencana alam longsor dan banjir yang terjadi di Ibu Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis, Jumat- Jumat (8-9-16/05/2025).

Berawal dari hujan lebat semenjak awal bulan april hingga bulan mei dan sampai hari ini masih terlihat rumah warga, perkebunan, kolam ikan dan kandang ternak ayam dan babi terendam banjir di
pinggiran sungai Balim yang membuat warga sekitar sungai tersebut masih mengungsi, sehingga mereka (warga) sangat membutuhkan bantuan dari semua pihak, sembari menunggu air surut.

Atas peristiwa Bencana Alam tersebut dan melihat dari situasi dan kondisi warga di sana, Jeptinus Loho, salah satu pengurus IMIPA mengungkapkan aksi ini dimulai sejak 08 mei 2025 di Tondano, Manado Dan Tomohon yang dilanjutkan dengan tari-tarian di Tomohon pada 09 mei 2025 dan berlanjut pada 16 mei 2025, di Manado Sulut.
“Pendapatan total dari Aksi Penggalangan Dana tersebut mencapai jumlah Rp: 37.991.000.00 (Terbilang: Tiga Puluh tujuh Juta, Sembilan Ratus Sembilan puluh satu ribuh rupiah). Yang di mana telah dikirim langsung kepada tim (alumni), yang keberadaannya di Ibu Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan dan bantuan tersebut dijadikan bahan makan (BAMA) dan telah disalurkan langsung kepada warga yang sedang dan sangat membutuhkan bantuan pada hari sabtu, 24/05/2025, di antarannya distrik aslokobal, kampung Hamelalua, distrik Pisugi, Kampung Wara, Berobaga Dan Tulem, Distrik Libarek Kampung Wenabubaga Dan Distrik Hubikosi, Kampung Hubikosi, Pipokmo, Kosihilapok Dan Distrik Musalfak, Kampung Musalfak, Elabukama, Abulukmu, Temia Dan Amukmo,” ungkapnya.
Apa yang diberikan oleh mahasiswa/i Papua dan masyarakat indonesia di Sulut tidak lebih dan tidak banyak. Akan tetapi sekiranya dapat menjadi berkat bagi warga yang mendapatkan bantuan dibeberapa tempat yang masih terendam banjir dan susah mendapatan
bahan makan. “Kami (IMIPA) hanya alat, selebihnya kami serahkan kepada Tuhan sebagai
Sumber Kehidupan.”
“Kami juga prihatin dan meminta kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan
(PEMPROV-PP) ataupun POSKO UMUM Peduli Kemanusiaan di wamena, agar lebih
memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh warga di pinggiran sungai baliem yang sampai saat
ini masih belum bisa mendapatkan makanan untuk bertahan hidup karena dibeberapa tempat masih mengalami banjir dan air pun belum surut untuk berkebun,” ujar Jeptinus.
Ia menambahkan, juga melihat ada begitu banyak bantuan yang masuk dari berbagai pihak misalnya PT. Freport indonesia bahkan dari kemensos dan dari beberapa Kabuten di Papua pegunungan, akan tetapi di beberapa distrik dan kampung datanya masuk ke IMIPA menyebutkan dan mengeluhkan atas ketidaknetralan pemerintah atau pun posko umum, misalnya di distrik libarek hanya mendapatkan bantuan sekali dan itu pun dibagi ke 5 kampung, akan tetapi belum cukup untuk bertahan selama seminggu.
“Padahal yang sangat urgen hanya tiga kampung dan setelah bantuan tahap pertama
berjalan, hujan pun belum berhenti sampai hari ini,” terangnya sembari meneruskan ungkapan dari salah satu warga.
Oleh karena itu, Pihak IMIPA, sangat prihatin dan memohon kepada posko umum agar
terbuka, jujur dan transparan kepada warga yang terkena bencana alam tersebut.
“Di luar dari itu, kami juga mau mengucapkan banyak termakasih kepada warga Sulut
dan semua pihak yang mana telah membantu, mendukung, mejaga dan berkerja sama dan
berpartisipasi dengan kami dibeberapa titik penggalangan dana, baik itu keterlibatan dan membantu transportasi hingga bantuan tersebut tersalurkan ke warga yang membutuhkan. Hormat Kami
Penanggung-jawab kegiatan Jeptinus loho, Timon peyon, Supri wenda, BPC-IMIPA TOMOHON, BPC-IMIPA TONDANO dan BPC-IMIPA POLI,” pungkasnya. (*)
Editor: Meikel Pontolondo


Discussion about this post