Coretan: Dj. Haem
KEPERCAYAAN Gubernur Sulut yang menunjuk Pelaksana Harian (PLH) Sekprov selain tuntutan manajemen dan organisasi dalam rangka percepatan pelayanan publik, ternyata telah meretas berbagai stagnatis (bukan stigma).
Tentu bukanlah soal sosok, meritokrasi profesionalisme, leadership yang tak jauh jauh panggang dari etos kerja seputaran plat merah, yang akan dijelentrehkan di sini, karena itu adalah wilayah preriogatif gubernur yang telah melalui kajian nilai, standar, prosedur dan kebijakkan.
Akan tetapi, ada sisi lain yang kelihatannya abstrak nan fiksi namun sejatinya adalah fakta fakta yang mencengangkan dan terang benderang. Ya, Gubernur Yulius S Komaling telah menunjuk Tahlis Galang (TG) selaku PLH Sekprov Sulut karena melihat dari dedikasi, kinerja dan teruji kala memegang dua jabatan sekaligus baik selaku Kadis dan Asisten di Setprov.
Mantan sekda di tiga kabupaten kota berbeda ini, sempat diapresiasi gubernur sebelumnya, almarhum SH Sarundajang karena memecahkan rekornya, selaku sekda kabupaten/kota termuda yang dilantik selaku Sekda Bolsel pada usia 39 tahun,
Di sisi lain orang hanya melihat TG yang lahir, besar, dididik dan berkarir di BMR setelah diminta Bupati Bolmong kepada Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, karena selaku lulusan terbaik PT kedinasan dirinya adalah sekretaris pribadi (Sespri) sang menteri.
Padahal dalam diri TG juga mengalir kental darah salah satu sub etnis Minahasa, yaitu etnik yang melahirkan sosok pahlawan nasional seperti Robert Wolter Monginsidi, sehingga diangkatnya Tahlis sejatinya mewakili juga ptara/putri terbaik Etnik Minahasa dari Sub suku Bantik.
Boleh dibilang TG adalah suksesor atau penerus jalan ninja perjuangan sang pahlawan asal Bantik, Robert Wolter Mongisidi. Dan itulah Tahlis Galang, selain pemecah record dan mitos, juga selalu menempatkan segala sesuatunya dalam jalur yang seharusnya.
Jalan itu terkadang diluar nalar dan penerawangan kita, yang tak jarang kita anggap mitos, dan fiksi padahal sesuai kaidah sejatinya. TG kini adalah milik Sulawesi Utara, sebagaimana benang merah yang melekat padanya, punya irisan kuat dengan Minahasa/Bantik, Bolmong, dan Sangihe Talaud.
Akhirnya, sebagaimana biografi perkuliahan TG yang diulas secara fiksi dalam novel bertajuk sang Abdi Praja, kin dirinyai sedang menapaki fakta diluar keinginan dan kendalinya, karena begitulah Tuhan menunjukkan kebesarannya, demikianlah cara Sang Pencipta bekerja. (*)
Penulis adalah ASN asal Bolaang Mongondow Raya


Discussion about this post