Manado, Barta1.com – Pegunungan di Sulawesi Utara menjadi salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya ialah, Gunung Empung.
Gunung yang berjenis stratovolcano ini keberadaannya di atas daratan Kota Tohomon, yang berdekatan langsung dengan Gunung Lokon. Empung sendiri memiliki ketinggian 1.340 m.
Kemudian, Gunung Empung sendiri jaraknya tak jauh dari Ibu Kota Sulawesi Utara, yakni Kota Manado. Hanya memakan Waktu 55 menit, dengan menggunakan roda dua dan empat untuk tiba di bawah kaki Gunung Empung, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk mencapai puncaknya.
Lishaa Maramis, salah satu pendaki asal Sulawesi Utara itu kepada Barta1.com, Minggu (28/07/2024) menceritakan bahwa setiap orang yang melakukan pendakian ke Gunung Empung. Ketika tiba di puncak, lelahnya terbayarkan.
“Lelah terbayarkan ketika tiba di puncak Gunung Empung, di mana kita bisa melihat keindahan pada rentetan Gedung, perumahan, tumbuhan dan lautan yang ada di Kota Manado, kemudian melihat keindahan Gunung Klabat dan Gunung Manado Tua, apa lagi bertepatan dengan sunrise di pagi hari. Semua terasa indah,” ungkapnya.
Namun, kata perempuan kelahiran Likupang, 01 Juli 2004 itu bahwa mencapai setiap puncak pengunungan, semua memiliki tantangan, begitupun dengan Gunung Empung.
“Trayek menuju puncak Gunung Empung itu bertanjakan disertai dengan adanya kemiringan, jadi setiap pendaki harus berhati-hati dalam melakukan perjalanannya, kemudian juga akan melewati pepohonan yang sudah tumbang di jalur pendakian, bahkan juga ada bebatuan yang harus dilewati,” ujar Lishaa sambil menyebut jalur pendakian yang diikutinya itu, melalui kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara.
Lanjut anak kedua dari empat bersaudara, bahwa banyak pepohonan tumbang di jalur pendakian itu, kebanyakan terjadi Ketika musim hujan. “Sekali lagi, buat kita semua yang akan melakukan pendakian ke Gunung Empung di saat musim hujan, sedianya harus lebih berhati-hati.”
“Dari tantangan yang sudah diceritakan, baik itu berkaitan dengan trayek, pepohonan tumbang, bebatuan hingga cuacanya tidak membuat saya patah semangat, yang saat itu dipikiran ingin melihat keindahan dari puncak Gunung Empung, sekalipun perjalanannya sangat santai, namun akhirnya bisa mencapai puncaknya dan semua lelah bisa terbayarkan,” jelas anggota KPA Likupang itu.
Sebenarnya dari aktivitas pendakian ini, kata Lishaa, setiap orang bisa belajar meyakini akan dirinya sendiri, belajar mandiri, belajar bagaimana bertahan hidup di hutan, sekaligus melihat kekayaan alam di Gunung Empung, baik itu flora maupun fauna.
“Semua orang bisa melakukan pendakian, akan tetapi harus dengan kesiapan yang matang, seperti Kesiapan fisik dan mental yang memadai, kemudian perlengkapan, baik itu secara kelompok maupun perorangan harus dipenuhi,” tuturnya.
Menurutnya, Ketika persoalan fisik, mental dan perlengkapan sudah memadai sesuai dengan lokasi yang dituju, tentunya bisa mencapai puncak dari setiap Gunung yang akan didaki.
“Intinya, setiap perjalanan memiliki cerita tersendiri. Bahkan juga ada kesamaan. Karena kesiapan yang memadai, membuat saya bisa melakukan pendakian dibeberapa Gunung di Sulut, seperti Gunung Klabat, Soputan, Ambang, Lokon, Manado Tua, Empung dan Tampusu,” ucapnya.
Jika ada yang bertanya, kenapa suka dengan dunia pendakian ? jawabannya karena keterpanggilan hati. “Ketika kita melakukan pendakian, kemudian berada di puncak Gunung pikiran itu lebih tenang, dan sangat baik untuk menenangkan pikiran, dan Gunung Empung salah satu tempatnya,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post