Tagulandang, Barta1.com – Letusan dahsyat Gunung Ruang di Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) telah menyisakan duka yang mendalam. Dua kampung, Pumpente dan Laingpatehi, luluhlantak oleh amukan material vulkanik yang maha dahsyat, yang meletus pada tanggal 17 dan 30 April 2024.
Puing-puing yang tersisa, tanpa ampun, hanya menjadi saksi bisu bagi kehancuran tak hanya bangunan, tetapi juga harapan dan impian ratusan jiwa yang telah kehilangan tempat mereka berpijak. Sebanyak 301 Kepala Keluarga, dengan total lebih dari 828 jiwa, kini menggantungkan nasib mereka pada kebijakan pemerintah.
Meskipun relokasi telah diinisiasi oleh pemerintah Sulawesi Utara dan pemerintah pusat, dengan merancang rencana khusus untuk memindahkan warga dua kampung tersebut ke Modisi, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, penduduk setempat masih berharap agar diberikan tempat di daratan pulau Tagulandang, yang masih terasa dekat dengan tanah kelahiran mereka.
Sius Hatibae (61), salah satu warga Laingpatehi, masih terperangah oleh kekuatan letusan. “Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa erupsi kali ini akan sedahsyat ini. Meskipun pernah terjadi pada tahun 2002, namun dampaknya tidak sehebat ini. Sekarang kami hanya bisa menunggu arahan dari pemerintah,” ungkapnya dengan nada getir.
Sentimen yang sama juga dirasakan oleh Katrina Gaghiwu (64), yang kembali ke kampung bersama Sius dan Kepala Desa Laingpatehi, hanya untuk mengambil barang-barang yang masih dapat diselamatkan. “Kami harus menggali barang-barang itu karena tidak mampu membeli yang baru. Banyak yang tidak bisa kami bawa karena terkubur,” kata dia, Sabtu (4/5/2024).
Sius dan oma Katrina bersama-sama dengan Kepala Desa mereka, Hardi Manuho, di Sabtu siang itu mencoba mengambil kesempatan kembali ke Laingpatehi, meski Gunung Ruang masih mengeluarkan asap tebal. Mereka berusaha mengambil barang pribadi serta aset kampung yang masih bisa diselamatkan, bahkan dengan menggali material vulkanik sekalipun.
Baca juga: https://barta1.com/v2/2024/05/05/dua-kampung-terdampak-erupsi-gunung-ruang-akan-direlokasi/
Hardi Manuho, menggambarkan pemandangan yang menyayat hati saat ia dan beberapa masyarakat kembali ke kampung mereka yang hancur oleh erupsi dasyat itu. Dengan suara terbebani, dia menjelaskan, “Saya tidak sempat mengangkat barang, karena kesibukan mengurus pengungsian di sini. Namun, hari ini, saya memiliki kesempatan untuk melihat keadaan kampung kami.”
Dengan sorot mata yang pilu itu ia melanjutkan, “Khusus aset kampung di sana, semuanya rusak. Ini yang dibawa kursi, meja, barang dapur, piring, belanga. Kampung Laingpatehi, kalau saya pikir memang sudah tidak layak huni. Kerusakannya parah sekali.” Jelas Manuho.
Dia dan masyarakatnya terpaksa menghadapi kenyataan bahwa kampung yang pernah menjadi tempat mereka berbagi cerita dan tawa, kini hanya tinggal kenangan yang terkubur di bawah lapisan material vulkanik. “Jadi kami akan menyampaikan kepada masyarakat bahwa pulau Ruang, termasuk kampung Laingpatehi, tidak bisa dihuni lagi.” Ujar Manuho.
Sementara soal relokasi menurut Manuho, masyarakat mengharapkan mereka bisa ditempatkan di daratan pulau Tagulandang. “Kami masyarakat berharap pemerintah dapat mencari tempat di pulau Tagulandang yang masih dekat dengan pulau Ruang,” ungkapnya.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post