Manado, Barta1.com – Selain Patrik Paendong, ada juga pendaki asal Sulawesi Utara yang menjejaki Gunung Latimojong tetapi dengan jalur yang berbeda, yaitu jalur timur. Dia adalah Fitran Domili.
Gunung yang keberadaannya di To’lajuk, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sering dikunjungi oleh wisatawan lokal. Bahkan ada beberapa jalur dari Gunung tersebut yang bisa diikuti oleh setiap pendaki. salah satunya adalah jalur timur.

Jalur timur Latimojong kebanyakan orang menyebutnya. Jalur ini lebih menantang dari jalur yang biasanya diikuti oleh kebanyakan pendaki. “Jalur yang kami ikuti ini trackingnya begitu ekstrem dan naik terus perjalanannya,” ungkap Fitran kepada Barta1.com, kamis (11/04/2024).
“Sebenarnya kami ingin mengikuti jalur utama yang biasanya diikuti kebanyakan orang atau pendaki, tapi saat itu lagi ditutup karena masih dalam situasi covid-19. Jadi kami memaksakan untuk mengikuti jalur timur yang menguras banyak tenaga itu,” ujarnya.
Jalur tersebut, kata Fitran, selain trackingnya menantang, jalur tersebut kesulitan menemukan air. Dari 7 pos yang dilewati, keberadaan air itu hanya ada di pos 2. “Bahkan setiap pendaki yang melakukan perjalanan ke Gunung Latimojong dengan jalur timur ini bisa memakan waktu 7 hari.”
“Kemudian dibutuhkan fisik yang memadai, mental yang teruji, mengingat dalam perjalanan kemarin ada teman kami yang tidak mau meneruskan perjalanannya, karena tidak mampu lagi dengan medan yang diikuti, tapi kami mencoba memberikan motivasi dan semangat agar dia bisa melanjutkan perjalanannya hingga mencapai puncak,” terangnya.
Anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Rusli Domili dan Renni Seden Arbi menambahkan, dari setiap tantangan yang diceritakan, pada perjalanan tersebut setiap pendaki pastinya akan melihat berbagai kekayaan alam yang masih asri di Gunung Latimojong, seperti hutan lumut, kebun kopi dan pohon kelapataru.
“Selain melihat berbagai tumbuhannya, setiap pendaki juga akan melihat fauna, seperti tikus berbulu panjang, babi hutan dan monyet,” terang perintis Gelang Rimba Manado ini.
Setelah melihat kekayaan alam dan melewati tracking dari 7 pos yang ada, setiap pendaki pastinya akan menemukan 3 puncak di Gunung Latimojong, yakni puncak Bubundirangkan dengan ketinggian 3217 MDPL, Puncak Nenemori dengan ketinggian 3379 MDPL, dan puncak Rante Mario dengan ketinggian 3443 MDPL.
“Ketika menginjak salah satu dari 3 puncak ini, setiap pendaki akan dipertemukan dengan akar dan lumut yang begitu tebal, bahkan diselimuti dengan kabut yang tebal, jadi setiap pendaki yang akan melakukan pengambilan gambar harus menunggu kabutnya hilang dahulu,” tuturnya.
Dari perjalanan itu, tambah Fitran, sebenarnya ada pembelajaran hidup yang bisa didapatkan dan kadang itu terpikirkan oleh setiap pendaki. “Saya pribadi mendapatkan pembelajaran hidup bagaimana melatih kesabaran, kesetiaan terhadap sahabat, kemudian bagaimana mengambil sebuah keputusan untuk kepentingan bersama. Jika mau jujur, sebenarnya mengikuti jalur timur Latimojong membuat saya meneteskan air mata karena jalurnya yang begitu ekstrem,” singkatnya sembari menyebut bersyukur dari semua itu banyak pembelajaran yang bisa didapatkan.
“Di luar dari tantangan, kekayaan alam, dan keindahan dari Gunung Latimojong yang sudah saya sampaikan. Adapun hal yang tidak bisa dilakukan oleh setiap pendaki dan itu menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat di sekitar Gunung tersebut, yakni dilarang untuk membawa telur, dilarang menggunakan pakaian berwarna kuning, dan dilarang untuk ribut,” sahutnya.
Ketika ditanya menggunakan kendaraan apa ke Gunung Latimojong. Fitran menyebut bahwa tujuan awal dirinya dan 2 temannya adalah menjadi relawan untuk bencana alam angin puting beliung di kecamatan lamasi timur, Kabupaten luwu. Menuju ke lokasi tersebut, dengan cara menumpang mobil dengan waktu 5,6 hari.
“Ketika tiba di posko bantuan. Saya dan teman-teman memberikan donasi yang sudah terkumpul, kemudian menlajutkan perjalanan ke Gunung Latimojong. Apalagi saat itu masyarakat menyebut, Gunung Latimojong sangat dekat dari posko ini,” tambahnya.
Tidak banyak pertimbangan, Fitran dan teman-temannya langsung menuju lokasi tempat registrasi untuk pendakian, Gunung Latimojong. “Kami disambut baik di lokasi registrasi, di mana kami diberikan makanan dan tempat untuk menginap. Selama perjalanan sampai balik lagi ke Kota Manado memakan waktu 11 hari,” pungkasnya.
Selain Gunung Latimojong, diketahui Fitran sudah melakukan pendakian dibeberapa Gunung, di antaranya Gunung Tilongkabila, Gunung Klabat, Tampusu, Soputan dan Lokon. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post