Manado, Barta1.com – Gunung Awu merupakan gunung merapi yang keberadaannya di Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di Kepulaun Sangihe. Gunung yang memiliki ketinggian 1.320 meter itu, rupanya banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal hingga mancanegara. Salah satunya adalah Indra Ivannovic Samuel Paransi.
Pemuda kelahiran Manado, 06 Maret 1993 itu, mencoba menceritakan pengalamannya saat melakukan pendakian ke Gunung Awu. Melalui Desa Talawid, ia bersama rombongan memulai perjalanan.

“Ada beberapa jalur untuk melakukan pendakian di Gunung Awu, tapi kami memilih untuk mengikuti jalur Talawid, di mana jalur tersebut jarang dilalui oleh para pendaki lokal maupun mancanegara. Dalam perjalanan juga kami ditemani oleh penduduk setempat, jadi perjalanannya sedikit dimudahkan,” ungkap Indra.
Di jalur Talawid, kata anggota KPPA Tarantula Adventure, belum memiliki pos yang jelas, kemudian jalur pandakiannya baru dibuka, track pendakian yang terjal dan kurang pasokan air. “Jadi, jika ada yang akan melakukan pendakian ke Gunung Awu melalui desa Talawid, sedianya mempersiapkan fisik, mental, pengetahuan dan bekalnya secara memadai.”
“Bersyukur saat itu, kami bisa melalui setiap jalur yang ada dengan bekal dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga bisa mencapai puncak Gunung Awu nan indah itu. Dan untuk mencapai puncaknya memakan waktu 8 sampai 9 jam,” ujar anak ke 2 dari 4 bersaudara dari pasangan Laba’Ary dan Nelton R. Paransi.
Indra menambahkan, bahkan di ketinggian 1000 Mdpl saja setiap pendaki akan disuguhkan dengan pemandangan laut dan savana yang begitu indah, begitupun ketika berada di puncak Gunung Awu.
“Bahkan lokasi yang mengarah ke tombong (sebutan masyarakat Sangihe) Gunung Awu itu menjadi titik di mana setiap pendaki mengambil momen untuk berfoto, mengambil video, bahkan santai menikmati dan melihat keindahannya,” terang Indra sembari menyebut area tersebut pernah terlihat seperti danau di tengahnya, ketika letusan terjadi sudah tidak terlihat lagi airnya dan hanya tersisa sebuah bukit kecil yang disebut tombong oleh masyarakat Sangihe.
Di luar dari keindahannya itu, lanjut Indra, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pendaki, mengingat di sana masih ada mistisnya, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh masyarakat setempat, di mana setiap pendaki yang mau melakukan pendakian ke Gunung Awu untuk tidak menggunakan pakaian berwarna merah, serta tidak menempatkan barang pribadinya secara sembarangan.
“Untuk itu, sebelum melakukan perjalanan, sedianya setiap pendaki harus mempelajari terlebih dahulu medan Gunung yang akan dikunjungi beserta budaya dari masyarakat setempat.”
Berkaitan dengan masyarakat Sangihe sendiri, sangatlah ramah kepada setiap pendatang tanpa melihat suku, agama dan ras. “Apalagi selama di sana, kami disuguhkan dengan keindahan Alam dan makanan lokalnya,” ucapnya.
Ketika ditanya berapa materi (keuangan) yang dihabiskan dalam melakukan perjalanan ke Gunung Awu. Indra menjawab bahwa dirinya dan rekan-rekannya dari Kota Manado ke Pulau Sangihe menggunakan kendaran kapal laut dengan waktu satu malam, setiba di Pelabuhan Tahuna, kemudian melanjutkan perjalanan dengan menaiki mobil tujuan ke kaki Gunung Awu dengan waktu 2 jam. “Untuk pergi ke Pulau Sangihe kita bisa menghabiskan Rp. 400 – 500, itu baru pergi yeah,” singkatnya.
“Setiap perjanan tentunya ada cerita dan pembelajaran hidup yang bisa didapatkan. Dan saya sendiri sudah menjejaki 12 puncak Gunung di Sulawesi Utara, dan rencananya masih akan melakukan perjalanan sampai bisa mencapai 60 puncak, sesuai dengan apa yang direncanakan ke depannya. Jika teman-teman mau melihat aktivitas pendakian saya, bisa melihatnya melalui akun Ig @ivannovicparansi dan @planning_jelajah,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post