Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen pada Selasa 20 Februari 2024 diberi judul: Ketegasan Seorang Gembala sesuai bacaan Alkitab Zakharia 11:9-11.
Akibat pelanggaran, dosa dan kejahatannya, orang Yehuda dan Israel dihukum Allah. Mereka ditawan di negeri asing, Israel di Asyur sedangkan Yehuda di Babilonia yang kemudian berpindah tangan di bawah kerajaan Persia. 70 tahun lamanya mereka menderita. Namun para pemimpin dan juga umat, belum juga bertobat. Itulah sebabnya, karena kasih sayang Allah, Dia mengutus nabi Zakharia untuk menegur mereka dengan tegas dan keras.
Karena tugas para gembala Yehuda gagal total, dombanya dibiarkan terlantar, tetapi juga saling memakan antara satu dengan yang lain, maka Zakharia ditugaskan Allah untuk menjadi gembala kepada umat-Nya itu. Dia membawa 2 tongkat menghadapi para gembala yang pandir atau jahat itu. Tongkat kemurahan itu sebenarnya merupakan bentuk kasih karunia Allah lewat Zakharia agar mereka bertobat, jera dari kejahatannya dan kembali kepada Allah. Sehingga mereka kembali mendapat kasih karunia Allah, menerima berkat dan keselamatan yang kekal.
Jadi, tongkat kemurahan itu merupakan perjanjian yang mengikat umat dengan dengan kebaikan dan kasih karunia Tuhan. Yakni bahwa tongkat itu akan menolong mereka dari hukuman. Mereka akan dibebaskan dari tawanan dan akan dipulangkan ke negerinya, Yehuda dan Yerusalem oleh kemurahan Allah. Akan tetapi, para gembala dan juga domba memang sudah hanyut dalam dosa. Mereka sulit memisahkan diri dari kejahatan. Padahal, Zakharia datang kepada mereka demi kebaikan mereka sendiri.
Zakharia tentu kecewa dan marah. Dia tidak mau lagi menggembalakan baik para gembala maupun umat Yehuda dan Israel sendiri. Dia menolak menggembalakan mereka. Dia berkata, biarlah gembala yang menderita tetap menderita. Yang akan mati, biarlah mati, yang hendak biarlah lenyap, yang masih hidup biarlah saling memakan daging temannya.
Saking kesalnya, Zakharia mematahkan Tongkat Kemurahan. Sehingga, tidak akan ada lagi kemurahan sesuai dengan perjanjian yang Allah lakukan untuk keselamatan, kebebasan dan kebahagiaan hidup mereka. Padahal, sudah ada perjanjian terutama dengan bangsa yang menjajah mereka bahwa umat Tuhan itu segera dipulangkan ke negerinya sehingga mereka menikmati hidup yang layak dan terbaik sebagai orang yang merdeka. Saat itu juga, Zakharia mematahkan Tongkat Kemurahan dan membatalkan perjanjian dengan segala bangsa.
Ketika mereka melihat Zakharia bertindak tegas dan berbicara keras, apalagi sudah mematahkan Tongkat Kemurahan, barulah mereka sadar dan tahu bahwa apa yang dia lakukan dan katakan itu berasal dari Allah. Dan mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri jika Allah bertindak. Apalagi jika semua perjanjian dengan Allah itu dibatalkan. Pasti mereka semakin menderita hidupnya di negeri yang tidak mengenal Allah.
Padahal, ketika itu Allah telah berjanji memulihkan keadaan mereka dengan memulangkan mereka agar bisa menerima kasih karunia Allah dan menikmati kasih dan pertolongan-Nya. Tapi karena mereka degil dan suka melawan Allah, maka mereka akan menanggung akibat pelanggaran dan kejahatan mereka sendiri.
Inilah yang akan terjadi dan dialami oleh orang-orang yang menolak jalan Tuhan. Siapa yang melawan Tuhan, pasti dihukum. Gembala pandir pasti dibinasakan. Domba yang tidak mau mendengarkan gembalanya dan berlaku jahat serta suka melawan Tuhan, akan dihukum berat, sesuai pelanggarannya masing-masing.
Demikian firman Tuhan hari ini: “Lalu aku berkata: “Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu; yang hendak mati, biarlah mati; yang hendak lenyap, biarlah lenyap, dan yang masih tinggal itu, biarlah masing-masing memakan daging temannya!” Aku mengambil tongkatku “Kemurahan”, lalu mematahkannya untuk membatalkan perjanjian yang telah kuikat dengan segala bangsa. Jadi dibatalkanlah perjanjian pada hari itu, maka tahulah pedagang-pedagang domba yang sedang mengamat-amati aku, bahwa itu adalah firman TUHAN, (ay 9-11).
Allah memang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih karunia. Namun itu tidak berarti Dia berkompromi dengan kejahatan manusia. Dia tetap berlaku adil dan benar kepada semua manusia yang adalah ciptaan dan milik kepunyaan-Nya. Maka taatilah gembala dan domba yang baik. Gembala harus menjadi teladan dan bersifat mengayomi. Sedangkan sebagai domba harus setia dan taat menuruti tuntunan, pengajaran dan teladan gembala yang baik dalam hidup kita.
Jika kita adalah gembala, lakukanlah tugas kegembalaan kita dengan penuh tanggungjawab. Jika kita seorang domba, turutilah tuntunan dan pengajaran gembala dalam ketaatan dan kesetiaan. Lakukanlah apapun yang menjadi tugas dan tanggungjawab kita dengan penuh ucapan syukur. Karena pasti, Tuhan menyertai dan memberkati kita bersama keluarga sampai selamanya, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post