Manado, Barta1.com – Renungan Kristen pada hari ini Sabtu, 3 Februari 2024 berjudul: Penasihat, Bukan Penjahat sesuai bacaan Alkitab 2 Samuel 15:12.
Absalom merasa diri cukup kuat posisinya untuk merebut kekuasaan dari ayahnya, raja Daud. Ketika dia mempersembahkan korban sebagai bentuk ibadahnya kepada Tuhan sesuai nazarnya yang sesungguhnya hanyalah modus agar dia dapat dengan leluasa mempersiapkan diri dalam proses kudeta yang dilakukannya itu, dia mengundang seorang kepercayaan raja Daud, yakni Ahotofel yang adalah penasihat ayahnya. Daud sangat mengenal Ahitofel. Maka ketika dia mendengar Ahitofel sudah berpihak kepada Absalom, maka spontan Daud berdoa kepada Tuhan: “gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya Tuhan.” (2 Sam 15:31b)
Daudpun mendapatkan hikmat untuk menyusupkan sahabat baiknya Husai, orang Akri untuk berpura-pura berpihak kepada Absalom, dengan maksud menggagalkan segala nasihat Ahitofel kepada Absalom. Ketika ditanya Absalom mengapa Husai meninggalkan kawan karibnya itu, Husai menjawabnya bahwa dia hanya akan berpihak kepada raja yang disertai Tuhan dan berpihak kepada rakyat. Maka seperti menjadi hamba Daud, demikian juga dia menjadi hamba anak Daud, Absalom yang telah menjadi raja. Hal ini tidak dicurigai oleh Absalom dan dia mempercayai pembelotan Husai yang mengikuti penasihat raja, Ahitofel.
Si penasihat yang jahat yakni Ahitofel, juga tidak curiga. Absalom pun meminta nasihat Ahitofel tentang apa yang harus dilakukan oleh Absalom terhadap Daud. Yakni Absalom harus meniduri semua gundik ayahnya dengan diketahui semua rakyat sehingga semua mereka semakin tahu dan membenci Daud. Itu dituruti dan dilakukan oleh Absalom. Dia meniduri semua isteri selir ayahnya dengan diketahui semua rakyat.
Nasihatnya yang kedua adalah dia meminta Absalom mengizinkan dia memilih dua belas ribu orang mengejar Daud pada malam itu juga. Saat dia lelah, maka dia menangkap dan membunuh Daud. Sedangkan orang yang mengikuti Daud, selamat dan mengabdi kepada Absalom. Tapi nasihat ini digagalkan oleh nasihat Husai. Dia berkata tidak segampang itu mengalahkan Daud karena dia sangat kuat. Pastilah mereka dikalahkannya. Karena itu, nasihat Husai lebih didengar dan diterima oleh Absalom.
Yakni bahwa Absalom harus mengumpulkan semua orang Israel kemudian bersama Absalom menyerbu dan menangkap raja. Sehingga dengan tangannya sendiri dia mengalahkan raja. Husai kemudian secara diam-diam menyuruh Daud bersembunyi agar dia selamat. Absalom menganggap bahwa nasihat Husai lebih baik dari Ahitofel. Hal ini membuat Ahitofel kecewa. Karena malu naaihatnya ditolak raja, Ahitofel pulang mengurusi rumahnya kemudian menggantungkan diri. Yah, nasihat jahat dari penasihat jahat membawa damai, bukan permusuhan, pertentangan dan perpecahan. Penasihat jangan jadi provokator. Tapi jadilah penasihat yang menyampaikan suara kenabian yang berisi pesan kebaikan yang mendamaikan dan mempersatukan. Sehingga kita hidup bersama dalam terang sinar kasih Allah. Bukan memecah belah jadi sumber masalah dalam keluarga, jemaat, masyarakat bahkan di lingkungan pekerjaan dan pergaulan kita. Jauhkan itu dari prilaku hidup kita.
Demikian firman Tuhan hari ini: Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo itu, penasihat Daud, dari Gilo, kotanya. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom, (ay 12).
Janganlah melakukan persepakatan gelap yang mencelakakan sesama. Apalagi kepada keluarga dan orangtua kita sendiri. Itu ciri-ciri orang yang masih hidup dalam kegelapan dan dikuasai oleh kuasa gelap. Ketika kita berkumpul, bersekutulah untuk kebaikan dan hidup yang saling membangun. Bukan memecah belah. Janganlah bersekongkol dengan yang jahat agar hidup kita tidak hancur oleh kejahatan kita sendiri. Karena yang jahat akan selalu meminta korban atau tumbalnya.
Sebaliknya, hiduplah sesuai kehendak firman Tuhan. Jadilah teladan dalam hal berbuat baik dan mewujudkan kasih kepada Tuhan dan kepada sesama. Hendaklah kita hidup menyenangkan hati Tuhan dengan terus setia dan taat pada-Nya.
Ke mana saja kita pergi dan berada, apapun yang kita lakukan dan kerjakan, jadilah berkat dengan terus hidup berkenan kepada Tuhan. Kasihilah dan hargailah sesama, seperti yang kita inginkan orang lain lakukan juga untuk kita. Jika kita tidak berkompromi dengan yang jahat, tetapi hidup dalam Tuhan, pastilah kita diberkati dan terus dikasihi-Nya dalam segala hal, secara heran, dahsyat, ajaib dan luar biasa. Karena bersama Yesus mujizat itu pasti nyata sebab kasih-Nya tiada terbatas dan tiada berkesudahan bagi kita, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post