Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) kembali melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat-mahasiswa (PPM-M) di Bukittinggi, Kecaman Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
PPM-M itu dibuat di Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Jemaat Hosana Bukittinggi. Dari observasi lapangan, ditemukan berbagai persoalan seperti bagian depan bangunan Gereja tidak tersedia teras yang tertutup atap. Atap plafon bagian depan sangat tinggi, dan jarak tirisan luar atap dengan dinding bangunan gereja tidak cukup lebar sehingga mengakibatkan air hujan yang tertiup angin akan masuk ke dalam ruangan peribadatan. Hal ini menyebabkan lantai pada bagian dalam bangunan gereja menjadi licin dan basah, sehingga rawan kecelakaan.
Bukan itu saja, ketika hujan datang membasahi dinding luar Gereja, termasuk konsen pintu, jendela, dan daun jendela pada sisi bangunan gereja yang lama kelamaan akan rusak. Disamping itu, akibat pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia selama kurang lebih 2 tahun, berimbas pada kemampuan Jemaat GGP Hosana Bukittinggi. Hal ini berdampak pada kas keuangan pembangunan jemaat yang kurang, mengingat penerimaan kas Jemaat dari persembahan dan pemberian sukarela.
Dengan kondisi ini, Kemampuan Jemaat GGP Hosana Bukittinggi melakukan renovasi sangatlah rendah. Kondisi ini juga yang dikeluhkan Jemaat selama ini.
Dr Ir Jeanely Rangkang M.Eng.Sc, Ketua pelaksana PPM-M Polimdo, mencermati uraian permasalahan di atas, maka dipandang perlu memberikan bantuan melalui Program PPM-M untuk melakukan kegiatan pembangunan teras di depan bangunan Gereja GGP Jemaat Hosana Bukittinggi ini.
“Kegiatan yang kami lakukan ini juga meminimalisir terjadinya pelapukan kosen dan daun pintu pada bagian depan bangunan Gereja akibat air hujan. Disamping itu, pintu dan jendela Gereja dapat terus dibuka selama jemaat beribadat guna mendapatkan sirkulasi udara yang baik, walaupun dalam cuaca hujan,” ungkapnya Jeanely yang didampingi anggota PPM-M lainnya, Ferry Sondakh ST MT.
Lebih lanjut, pada perayaan hari-hari Gerejawi bagian depan bangunan menjadi ruang peribadatan tambahan bagi jemaat yang tidak mendapatkan tempat pada bagian dalam.
“Pembangunan teras di depan bangunan GGP Hosana Bukittinggi menggunakan teknologi baja ringan. Adapun luas teras yang akan dibangun selebar halaman Gereja, kurang lebih 10 meter dengan panjang kurang lebih 4 meter. Jadi luas teras yang akan dibangun sekitar 40 M2,” ujarnya.
Kegiatan ini, kata dosen, telah melibatkan mahasiswa dan jemaat . Keterlibatan mahasiswa akan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk membaur dengan masyarakat, serta peka terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Bahkan memberikan solusi, dari permasalahan yang dilalui berupa penerapan teknologi tepat guna.
“Keterlibatan mahasiswa juga dapat melatih jiwa kepemimpinan dan entrepreneur, serta membangkitkan kemampuan kerjasama dari mahasiswa yang terlibat,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post