Manado, Barta1.com – Sebagai aktivis, Jull Takaliuang telah melewati banyak tahun dan hari-harinya dalam pertarungan keras di luar ruang parlemen. Saat melangkah ke panggung politik seiring Pemilu 2024, harapan baru kini terasa membersit di Nusa Utara.
Ia bahkan disebut sebagai figur paling tepat menjadi representasi Nusa Utara di DPRD Sulut. Sebab majunya Dra. Jull Takaliuang sebagai Caleg PSI untuk DPRD Sulut Dapil Nusa Utara, dapat dipandang sebagai upaya riil memindahkan titik perjuangannya langsung ke dalam ruang-ruang parlemen.
“Karena DPRD Sulut sebagai salah satu episentrum lahirnya peraturan perundang-undangan serta kebijakan pembangunan, maka upaya perjuangan hak-hak rakyat dan perlindungan lingkungan hidup saatnya saya lakukan langsung dari dalam parlemen,” ungkap Jull Takaliuang, membeberkan alasannya maju ke panggung politik dalam diskusi di Manado, Rabu, 30 Agustus 2023.
Di Nusa Utara, Jull Takaliuang dikenal luas masyarakat kepulauan itu atas kiprahnya ikut berjuang bersama rakyat menolak tambang yang dikelola PT Tambang Mas Sangihe yang berencana mengaruk lahan berdasarkan konsesi dalam kontrak karya seluas 42.000 hektare atau lebih dari setengah pulau Sangihe.
Selaku inisiator gerakan Save Sangihe Island (SSI) dalam perjuangannya di Sangihe lewat jalur hukum, Jull dan kawan-kawan tercatat berhasil mendepak kapitalisme perusahaan tambang yaitu PT. Tambang Mas Sangihe (TMS) sebuah anak perusahaan dari Baru Gold Corp, perusahaan eksplorasi sumber daya mineral dari Kanada yang berfokus pada pengembangan proyek produksi logam mulia di Indonesia.
“Kendati konsen saya terus mendampingi masyarakat pulau kecil seperti Sangihe dan Nusa Utara pada umumnya dari kapitalisme perusahaan tambang, namun perjuangan di ruang-ruang parlemen sangat penting dilakukan saat ini untuk menyelamatkan alam dan lingkungan hidup masyarakat di sana,” ujarnya.
Dikatakannya, tak dapat disangkal bahwa Sangihe bahkan Nusa Utara butuh aliran dana investasi. Tapi untuk klaster pulau-pulau kecil seperti di Nusa Utara yang dibutuhkan adalah investasi yang ramah terhadap lingkungan.
Sesungguhnya apa yang telah tersedia di Pulau Sangihe sangat melimpah, dan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat, paparnya. Namun kelimpahan itu bagi sekelompok orang rakus dan tamak, pasti selalu terasa kurang.
“Kalau bukan kita ‘tau i kite’ lalu siapa lagi yang harus menyelamatkan pulau ini demi kelangsungan hidup anak cucu nanti. Integritas dan harga diri orang Sangihe dipertaruhkan menghadapi godaan menjadi kaya dengan mengeruk emas,” ungkapnya Takaliuang.
Penerima Penghargaan Dari PBB
Di lain sisi, perjuangan panjang Jull Takaliuang membela kaum perempuan, anak, dan masyarakat miskin telah mengantar dia ke panggung Internasional. Tepatnya di kantor PBB, New York City, sosok perempuan asal Nusa Utara ini menerima penghargaan N-Peace Awards 2015 dalam kategori Untold Stories: Woman Transforming their Communities.
Dia adalah Jull Takaliuang. Aktivis yang sangat dikenal di Sulawesi Utara. Ia sosok yang mengabdikan dirinya di tengah persoalan keadilan dan kemanusiaan. Kendati banyak pengalaman traumatik yang dihadapinya, tak membuat ia surut dalam membela kaum perempuan, anak, dan masyarakat miskin.
Pergulatan sepenuh hati selama 17 tahun bersama masyarakat tertindas dan berjuang merebut hak-hak mereka, membuahkan N-Peace Awards yang merupakan penghargaan untuknya sebagai perempuan yang memperjuangkan perdamaian dan menciptakan perubahan dari akar rumput, hingga tingkat nasional di Asia.
Melawan Korporasi-korporasi Besar
Berperang melawan korporasi besar tidaklah mudah. Namun kegigihan perlawanan yang ditunjukan sosok aktivis satu ini tak dapat dipandang sebelah mata.
Kendati di tingkatan lokal hingga nasional ia sering dianggap sebagai musuh, karena menolak pembangunan yang berdampak buruk bagi lingkungan dan masyarakat serta dipandang berseberangan dengan pemerintah, namun di dunia internasional perjuanganya mendapatkan apresiasi.
“Selama konsep kesejahteraan antara pemerintah dengan masyarakat tidak ketemu, di situ akan terjadi persoalan. Di situ pula saya melawan,” ungkapnya.
Dikatakannya, pertambangan memiliki dampak yang bisa merasuk ke semua sendi kehidupan. Setelah lingkungan rusak, manusia juga akan terkena dampaknya. Ini sebabnya kata dia, penting tetap ada orang yang konsisten, dan berkomitmen berjuang menyelamatkan lingkungan. Kalau tidak tulus, maka tidak pernah ada advokasi untuk masyarakat yang berjalan baik.
Kendati banyak klaim mengatakan bahwa industri pertambangan identik dengan investasi dan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat. Justru menurutnya dengan adanya tambang, masyarakat akan kehilangan keseimbangan.
“Saya tidak pernah lihat keuntungannya. Kalau merugikan, iya. Masyarakat hanya dijanjikan bahwa tambang akan membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan, akan membuka akses jalan. Saya tidak melihat adanya kesempatan masyarakat untuk bertumbuh sesuai dengan kemampuannya,” kritik dia.
Mari kita lihat, lanjut dia, di mana transparansi royalti pertambangan? Siapa yang terima dan dimanfaatkan untuk apa?
“Kalau bicara royalti pertambangan, saya tidak yakin. Lihat saja di daerah-daerah lain yang banyak industri pertambangannya, Kalimantan, Bangka-Belitung hingga Papua, sejauh mana masyarakat di sana sejahtera,” tantang Jull.
Bukan berarti kita tidak mensyukuri tambang yang ada, katanya, tapi di saat teknologi kita belum bisa mereduksi dan mengatasi dampak buruk tambang bagi lingkungan dan masyarakat, kenapa harus dipertahankan?
“Sekarang masih ada sektor-sektor yang lebih ramah lingkungan yang bisa dimajukan. Di Sulut, misalnya, potensi perikanan bisa mencapai Rp 900 miliar per tahun. Itu belum dikembangkan,” ujarnya.
Menurut Jull, hingga saat ini, masyarakat masih harus terus banyak berjuang supaya keadilan bisa diperoleh, karena mafia hukum ada di mana-mana. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki


Discussion about this post