Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo), melalui Direkturnya Dra Mareyke Alelo MBA mensyukuri kekerasan yang dialami mahasiswa baru terkuak ke publik, agar tidak ada lagi kejadian yang sama dilakukan oleh oknum-oknum yang merasa dirinya hebat.
“Namanya kekerasan tidak diijinkan di sini. Masalah ini harus diseriusi jangan sampai menjadi penyebar horor bagi generasi kedepannya. Teridentifikasi ada 2 pelaku yakni oknum alumni, dan kedapatan juga mahasiswa aktif turut hadir pada kejadian itu dan tidak melaporkannya. Ada 11 orang mahasiswa, nama-namanya sudah ada dan akan diberikan sanksi disiplin berat. Keputusan disiplin itu akan dirapatkan pihak Polimdo secepatnya,” tegas Alelo di Ruangannya didampingi Koordinator Humas Polimdo, Stevie Kaligis, Selasa (8/8/2023).
Menurut Alelo, mungkin saja pelaku ini kena pasal penculikan, dikarenakan menjemput korban dari kosnya yang kemudian dicekoki minuman keras, di tampar, dan menyundut rokok.
“Kejadian ini terjadi di luar kampus, seharusnya juga pihak kos-kosan bertanggungjawab dengan aktivitas yang ada, apalagi berkaitan dengan miras dan sebagainya,” pintanya.
Kejadian ini, kata perempuan asal Nusa Utara, terjadi sejak Kamis hingga Jumat sore. Dimana keluarga menghubungi pihak kampus di hari Jumat, dan memberi tahu bahwa Timoty Rondonuwu tidak ada kabarnya, serta tidak hadir dikegiatan PK2MB. Menanggapi itu, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Selvie Kalele langsung merespon pihak keluarga dengan mengatakan jika ada informasi selanjutnya bisa dikabarkan kembali.
Berselang beberapa jam, pihak kampus mendapatkan informasi bahwa Timoty mendapatkan perundungan dari oknum seniornya. Merespon itu, pihak Polimdo langsung mengarahkan keluarga membawah anaknya ke RS Bhayangkara untung melakukan pemeriksaan.
“Melihat hal itu, pihak Polimdo terus melakukan pendampingan terhadap korban hingga saat ini. Dan korban nantinya akan dipindahkan dari kosnya ke Asrama Polimdo agar mendapatkan pendampingan,” jelas wakil direktur bidang akademik pada periode sebelumnya itu.
Perlu diketahui, saat Polimdo melakukan kegiatan PK2MB itu di satu tempat saja, yakni Ruang Auditorium Prof Ruddy Tenda. Dimana mahasiswa baru diberikan fasiltas yang layak beserta pimpinan dan panitia memberikan bunga pertanda masuknya kaum akademis dan intelektual di perguruan tinggi Polimdo.
“Sejak tahun 2021 kami sudah melakukan perubahan ditingkatan organisasi mahasiswa. Setiap organsiasi harus mampu menampilkan kreativitasnya berupa seni, olahraga dan banyak lagi. Jangan ada lagi kekerasan, seperti diskriminasi, jalan jongkok dan sebagainya,” tuturnya.
Saat ini, bukan saja kekerasan fisik atau seksual yang bisa dikenakan hukuman, melainkan perkataan kasar bisa dikenai hukuman. Apalagi, kejadian ini sudah melakukan.
“Era saat ini kita harus menjawab kebutuhan jaman. Sudah tidak jaman lagi, melakukan pola yang lama. Mereka manusia, yang harus diperlakukan secara manusiawi pula. Dan perlu diketahui juga, Polimdo adalah kampus pertama di Sulut yang memilki standar operasional prosedur untuk pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang bekerja sama dengan pihak Internasional Labour Organization (ILO). Kita juga punya satgas PPKS,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post