Oleh:
Vincentius Pantow, SS M.Hum
Wingston Londong, SS M.Hum
Dra. Selvie R.I Mandang MM
(Dosen Politeknik Negeri Manado)
Bahasa merupakan sarana komunikası antar manusia, tanpa Bahasa tidak akan ada komunikasi. Dalam berkomunikasi manusia menggunakan dua bentuk bahasa yakni bahasa verbal dan nonverbal. Pemandu selam pulau Bunaken merupakan suatu komunitas orang yang memiliki kebiasaan tertentu yang digunakan dalam berinteraksi di antara sesama mereka. Dalam melaksanakan kegiatan sebagai pemandu selam mereka menggunakan ungkapan verbal berupa kata, frase, klausa dan kalimat yang muncul dalam bentuk tuturan.
Ungkapan verbal tersebut mengandung makna budaya. Dalam berkomunikasi sehari-hari pemandu selam pulau Bunaken menggunakan tiga bahasa sekaligus; yakni bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Melayu Manado. Akan tetapi, bahasa yang paling sering digunakan yakni bahasa Melayu Manado dan sedikit bahasa Inggris. Dengan demikian, inilah yang menjadi fokus dalam penelitian ini.
Metodologi penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan linguisıik antropologi. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yakni metode simak dan cakap dengan teknik dasar sadap dan pancing. Penyadapan dilakukan dengan teknik simak, libat, cakap; dalam hal ini peneliti terlibat langsung dalam pembicaraan dan menyimak pembicaraan tersebut.
Teknik pancing dilakukan dengan teknik cakap semuka, peneliti mengadakan percakapan langsung dengan penutur atau narasumber. Selanjutnya, teknik rekam dengan menggunakan tape recorder, kemudian dicatat. Untuk memperoleh data yang akurat, peneliti melakukan wawancara tambahan model wawancara etnografıs, dengan mengajukan pertanyaan deskriptif seperti pertanyaan Grand Tour, pertanyaan Mini Tour, pertanyaan contoh dan pertanyaan pengalaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan verbal yang digunakan pemandu selam pulau Bunaken terdiri atas tiga bagian: istilah lingkungan dalam lingkup penyelaman, istilah-istilah teknis penyelaman, dan ranah-ranah penyelaman. Pertama, istilah lingkungan dalam lingkup penyelaman diklasifikasikan atas kawasan laut berdasarkan tingkat kedalaman air, kawasan laut berdasarkan relief dasar laut, pasang surut air laut, angin dan cuaca, arus laut, jenis ikan dan biota laut. Kedua, Istilah-istilah teknis penyelaman terdiri atas istilah dive dan istilah selama proses penyelaman.
Ketiga, ranah-ranah penyelaman meliputi dive guide, alat-alat selam, dive spot, perahu menyelam, dan penyakit akibat menyelam. Ungkapan-ungkapan tersebut berbentuk kata, frase dan kalimat. Hasil penelitian ini dibahas berdasarkan teori dan konsep ungkapan,(Kridalaksana, 1984; Chaer, 1990) dan teori dan konsep kata, frase dan kalimat (Cook, 1969; Ba’dulu dan Herman, 2005) serta teori dan konsep makna budaya (Eco, 1979•, Endraswara, 2009).
Penulis mengambil 3 contoh pembahasan yang dapat mewakili isi penelitian ini yakni ungkapan verbal berupa kata, frase, dan kalimat.
Ungkapan berbentuk kata
Ujaran: Briefing akang dang dulu pa dorang ‘tolong mereka di briefing dulu’
Ungkapan briefing dalam ujaran ini berdasarkan kelas katanya briefing merupakan verba, dan dari bentuk katanya merupakan kata kompleks yakni kata yang masih dapat diuraikan menjadi bagian-bagian konstituen yang menyatakan suatu makna yang dapat dikenal. Briefing terbentuk dari kata dasar brief dan mendapat penambahan ing. Kalau dari segi leksem, bentuk sleep, slept, sleeps, dan sleeping merupakan bentuk-bentuk dari leksem sleep.
Makna Semantis: Briefing yakni penyampaian singkat, petunjuk teknis, diberikan oleh dive guide.
Makna Semiotis: Tanda bahasa berupa bunyi ujaran dalam ungkapan briefing. Simbol budaya yakni ungkapan briefing itu sendiri yang menandakan sesuatu yang wajib dilakukan sebelum memulai pekerjaan.
Makna Budaya: Sebelum memulai pekerjaan perlu mendapat arahan dan petunjuk dari orang yang lebih tahu dan berpengalaman. Secara keseluruhan makna ini mengandung makna mekanisme.
Ungkapan berbentuk frase
Ujaran: Ngana pe kira itü cuma ada punggu di pinggir pante ‘kamu kira hal tersebut hanya diambil dari pesisir pantai’ Ungkapanpinggir pante dalam ujaran ini merupakan frase endosentris. Berdasarkan jenis kata yang menjadi unsur intinya, ungkapan ini merupakan frase nomina.
Makna Semantis: Pinggir Pante memiliki komponen makna tidak berair, darat, berpasir, tempat aktifitas makhluk hidup.
Makna Semiotis: Tanda bahasa berupa bunyi ujaran dalam ungkapan briefing. Simbol budaya yakni ungkapan Pinggir Pante itu sendiri yang menandakan sesuatu yang lazim atau bahkan remeh.
Makna Budaya: Jangan mengangap remeh terhadap sesuatu, jika sudah diperoleh harus dijaga dengan baik, karena untuk mendapatkannya memerlukan waktu, tenaga dan uang. Secara keseluruhan makna ini mengandung makna nasehat.
Ungkapan berbentuk kalimat
Ujaran: Napa barat so kamari ‘lihat angin barat sudah datang’ Ungkapan napa barat so kamari berdasarkan fungsinya, napa barat sebagai subyek, so kamari sebagai predikat. Berdasarkan kategorinya napa barat merupakan frase nomina, so kamari merupakan frase verba. Berdasarkan perannya, kalimat ini merupakan kalimat aktif dan berdasarkan jenisnya kalimat ini merupakan kalimat inti.
Makna Semantis: Angin barat merupakan angin kencang dan sudah mulai dating
Makna Semiotis: Tanda berupa bunyi ujaran dalam ungkapan ‘napa barat so kamari’. Simbol budaya yakni ungkapan ‘napa barat so kamari’ itu sendiri yang menandakan suatu tantangan yang akan di hadapi sehingga kita perlu waspada.
Makna Budaya : Kita perlu menyikapi tanda-tanda di sekitar kita, kita perlu sedia payung sebelum hujan artinya kita perlu waspada.
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ungkapan-ungkapan verbal pemandu selam pulau Bunaken mengandung berbagai makna seperti nasehat, kewaspadaan, keindahan, keunikan, kegotong-royongan, keadaan, kepercayaan, kebijaksanaan, warna, kebiasaan, kedisiplinan, mekanisme, kemampuan dan ketelitian. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa pemandu selam pulau Bunaken memiliki budaya komunitas mereka sendiri yang dipengaruhi oleh kearifan budaya lokal dan budaya-budaya luar sehingga memperkaya budaya yang telah mereka miliki sebelumnya. Disarankan penelitian berikutnya memfokuskan pada ungkapan nonverbal.
DAFTAR PUSTAKA
Ba’dulu A.M. dan Herman. 2005 Morfosintaksis, Rincka Cipta, Jakarta.
Cook, Wolter A. 1969. Introduction to Tagmemic Analysis London: Holt, Rinehart and Winston
Djojosuroto, K. 2007. Filsafat Bahasa Pustaka Book Publisher, Yogyakarta.
Duranti, A. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press
Eco, Umberto 1979. A Theory of Semiotier. Bloomington: Indiana University Press
Endraswara, S. 2009. Metodologi Penelitian Folklor Konsep Teori dan Aplikasi MedPress, Yogyakarta.
Foley, WA. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction, Oxford: Blackwell Publisher.
Kridalaksana, Harimurti dkk, 1984. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia Sintaksis
Lalamentik, W.HCM dan M. Salea – Wamuw. 1985. Partikel Bahasa Melayu Manado. Manado: Proyek P2T Unsrat
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Srategi, Metode Dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Saeed, J. 2001. Semantics, Blackwell Publishers Ltd, Massachusetts
Salea Warouw Martha, 1985. Kamus Manado Indonesia Past Pemban dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.
Spradley, J.P. 1978. The Emographic Interview. Holt, Rinehart and Wilson USA.
Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknis Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistik. Duta Wacana Universitas Press. Yogyakarta. (*)


Discussion about this post