Manado, Barta1.com – Direktur Politeknik Negeri Manado, Dra Mareyke Alelo MBA menyebutkan kompetensi mahasiswa maupun lulusan dari perguruan tinggi bukan ditentukan dari akreditasinya.
“Jika ada pihak yang menyampaikan bahwa masuk perguruan tinggi itu, kampusnya harus akreditasi A dan seterusnya. Ini bentuk-bentuk diskriminasi terhadap siswa-siswi kita,” tegas Alelo di depan kepala sekolah SMA-SMK se-Sulut yang ikut dalam kegiatan sosialisasi Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) di Ruang Theater Politeknik Negeri Manado, Senin (20/2/2023).
Menurutnya, akreditasi C dan A merupakan akuntabilitas dan pertanggungjawaban sekolah. Tetapi, apakah dengan akreditasi A semuanya pinter-pinter. “Standar sarana prasarana harus sebanding dengan jumlah mahasiswanya. Apakah, dengan lab yang terbatas kita tidak mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas, tidak. Justru dengan keterbatasan itu bisa menimbulkan terobosan yang memungkinkan bagi anak-anak kita menguasai kompetensinya, dan ini menjadi doa kita bersama untuk sebuah perubahan berstandar nasional pendidikan,” tegasnya.
Politeknik Negeri Manado kata dia, punya kelebihan dari universitas lainnya. Kelebihannya adalah anak-anak harus mengetahui ilmu pengetahuan dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan itu. “Politeknik Negeri Manado disiapkan untuk bekerja dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi sesamanya,” singkatnya.
“Kemampuan anak-anak untuk mengakuisisi ilmu di Politeknik Negeri Manado itu diajarkan. Kami memiliki 6 jurusan dan 19 program studi. Di 19 program studi ini, mahasiswa kami dilatih bukan hanya menguasai ilmu, tetapi juga skillnya. Milenium soft skill, jadi dilatih kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi dan tahan menderita,” ujarnya.
Lanjut Alelo, di Politeknik Negeri Manado menciptakan lingkungan skillnya tahan banting dan bermanfaat. Salah satunya, Politeknik Negeri Manado mengirim mahasiswanya di China, Singapore, Malaysia dan Taiwan. “Orang Cina itu mereka bicara cepat, bergerak cepat dan berpikir cepat. Tetapi, generasi kita saat ini berjalan saja slow,” ceritanya.
“Untuk itu, kami mengirim anak-anak ke tempat seperti itu, ketika kembali ke Politeknik Negeri Manado mereka menjadi mandiri. Dan mereka, mampu membuat bisnisnya sendiri. Karena, pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan,” imbuhnya.
Kemudian, beberapa universitas dan pemerintah di luar negeri sudah bekerjasama dengan Politeknik Negeri Manado. Dan, memungkinkan mahasiswa Politeknik Negeri Manado meningkatkan kapasitas dan keahliannya. “Di Politeknik Negeri Manado dosen selalu dilakukan pendampingan bagi mahasiswanya, yang memungkinkan bisa berkompetisi secara internasional. Ada ribuan mahasiswa tidak sebanding dengan universitas lainnya, yang memiliki 20 ribuan mahasiswanya. Tetapi ketika mengikuti penerimaan award IISMAVO (Indonesia Internasional Student Mobility Awards Vokasi). Kuliah satu semester, di luar negeri, Politeknik Negeri Manado mampu meloloskan 5 mahasiswanya, sedangkan universitas lainnya hanya 1 mahasiswa saja,” tuturnya.
“Dosen benar-benar mendampingi mahasiswanya. Baik itu, mengisi aplikasi, membantu mengarahkan tahapannya seperti apa, hingga tahap wawancara. Kami harus mendampingi, anak-anak kita sampai ke tingkat internasional,” jelasnya.
Apakah di Politeknik Negeri Manado anak bapak-ibu diserahkan hadir untuk bekerja saja, bukan itu. Bahkan, ada yang selesai langsung melanjutkan studinya di luar negeri. Jadi, justru mereka harus menguasai sains terapan.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post