• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Kamis, Juni 11, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Mengenal Politeknik Negeri Manado dari Founding Father

by Redaksi Barta1
5 Desember 2022
in Edukasi
0
Mengenal Politeknik Negeri Manado dari Founding Father

Gedung utama Politeknik Negeri Manado. (foto: istimewa)

0
SHARES
722
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Sebuah nama di Auditorium Politeknik Negeri Manado bertuliskan Prof Ruddy Tenda menjadi pertanyaan bagi setiap mahasiswa. Cerita singkat datangnya dari mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis, Oswald Jonathan Wokas. Ketika ditanya soal nama yang dicantumkan di Auditorium Politeknik Negeri Manado, ia menjawab tidak tahu.

 

Civitas Politeknik Negeri Manado seharusnya mengetahui cerita Dr Ir Ruddy Tenda selaku founding father dari Politeknik Negeri Manado, di mana ia berperan penting dengan hadirnya lembaga pendidikan ini. Ruddy Tenda merupakan Direktur pertama Politeknik Negeri Manado sejak tahun 1987 hingga 1996.

 

Hadirnya lembaga pendidikan ini, diceritakan kembali oleh Dr Ir Ruddy Tenda saat memberikan sambutan pada perayaan  wisuda kedua, Rabu (23/11/2022). “Ada baiknya kita mencoba merefresh dan mengingat kembali bagaimana dan apa sebenarnya lembaga pendidikan Politeknik ini. Mengapa pula lembaga pendidikan ini diadakan. Indonesia di bawah  pemerintahan Orde Baru memutuskan untuk menyelenggarakan pembangunan secara besar-besaran, melalui program yang disebut pembangunan 5 tahun. Dalam suatu rancangan besar, yang disebut pembangunan jangka panjang 25 tahun. Saat itu juga sebuah program pembangunan sudah ditetapkan,” ujarnya.

 

Kemudian, pada tahun 1970-an ketika pemerintah melaksanakan pembangunan secara besar-besaran disebuah aspek kehidupan, disitu timbul konflik dari dunia kerja. Khususnya dunia industri jasa maupun industri menufaktur. Masalahnya adalah ketidakmampuan dan ketidaksiapan dari  sumberdaya manusia, untuk menyelenggarakan proses produksi dalam rangka peningkatan produktivitas nasional.

 

“Untuk menyelenggarakan pembangunan secara besar-besaran, Pemerintah harus  menumbuhkan  pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan prasyarat untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah peningkatan produktivitas nasional di semua bidang,” tuturnya.

 

Namun, sebuah industri mengalami apa yang dimaksud dengan krisis tenaga kerja. Krisis tenaga kerja ini, bukan menyangkut aspek kuantitatif, tetapi menyangkut kualitatif, yang diartikan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja maupun industri.

 

“Apa yang diperoleh oleh para lulusan perguruan tinggi pada waktu itu, di mana mereka tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, dan kondisi ini menyebabkan upaya untuk peningkatan produktivitas nasional dalam rangka mencapai sebuah pertumbuhan ekonomi yang tinggi gagal,” bebernya.

 

“Melihat hal itu, pemerintah melakukan evaluasi, kemudian bertanya-tanya kenapa lulusan perguruan tinggi pada waktu itu tidak mampu menjawab tantangan-tantangan di dunia kerja. Persoalannya adalah kurikulum pada saat itu di universitas dan institut komposisinya 85% aspek sains atau keilmuan, sehingga aspek terapan sangat minim, hanya berkisar 20 sampai 30%. Ini menyebabakan, lulusan-lulusan perguruan tinggi pada saat itu, tidak dapat menjawab tantangan-tantangan di dunia kerja, dan tidak memiliki keahlian terapan. Sedangkan saat itu dibutuhkan  tenaga-tenaga kerja yang memiliki keahlian-keahlian khusus terapan,” beber Tenda sembari menyebut dari hal itu lahirlah politeknik, yang kemudian dikelompokkan menjadi bagian dari vokasi di Indonesia.

 

Menurutnya, politeknik sebagai lembaga yang baru ditempelkan dengan Universitas. Pada gelombang kedua, pemerintah memutuskan untuk mengembangkan pendidikan politeknik. Kemudian  produk-produk lulusan Politeknik universitas gelombang pertama mendapatkan respon positif dari dunia kerja.

 

“Jika saya tidak keliru, pada gelombang kedua ada sebelas Politeknik didirikan, termasuk Politeknik Negeri Manado, yang pada awalnya Politeknik Universitas Sam Ratulangi. Itulah awal berdirinya Politeknik Negeri Manado,” katanya.

 

“Pada tahun 1987 memulai pendidikannya dengan Diploma II dan itulah solusi pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang mengemuka di dunia kerja dan industri, yaitu kemampuan dan kompetensi dari perguruan tinggi,” terangnya.

 

Berjalannya waktu, Politeknik Negeri Manado dengan segala kelebihan dan kekurangannya mengalami tantangan di tengah jalan, karena Politeknik sebuah pendidikan yang baru dan belum diketahui oleh banyak masyarakat yang berjasa dengan universitas, yang lulus kemudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Sehingga images dari masyarakat, bahwa Politeknik ini ketika lulus mau jadi apa. Kemudian ini menjadi suatu yang baru dan sebuah tantangan pada saat itu,  di mana juga saya terlibat sebagai pendidik.

 

“Namun, lama kelamaan images itu menghilang dengan kompetensi dan keahlian yang ditunjukkan oleh lulusan Politeknik Negeri Manado di dunia kerja dan industri,” tambahnya.

 

“Perubahan-perubahan yang berlangsung, semakin lama semakin cepat disebut disrupsi. Sekarang kita berada di era disrupsi, sehingga demikian para lulusan Politenik ini, perlu memikirkan pola yang cocok dan sesuai dengan perkembangan-perkembangan, yang semakin lama berlangsung, maka semakin cepat perubahannya,” ucapnya.

 

Walaupun demikian, dirinya meminta setiap lulusan Politeknik tidak  meninggalkan sebuah identitas, karena Politeknik  lahir dari sebuah masa lalu dan masalah, dan hingga saat ini  masalah seperti itu masih relatif sama.

 

“Saya tadi mendengar hal yang tercantum dalam mars politeknik. Ada 3 unsur didalamnya yaitu tepat waktu, tepat aturan, dan tepat ukuran. Itulah, identitas Politeknik, yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan universitas lainnya,” imbuhnya.

 

Lanjutnya, jangan bermimpi akan menjadi akademisi terkenal. Itu tidak perlu, karena basis politeknik bukan disana. Politeknik harus mementingkan pada identitasnya, dan itu  harus dikembangkan.

 

“Jangan sampai kita terbawa dengan keadaan-keadaan yang sudah ada. Jika kita kembali kepada keadaan sebelumnya, maka tidak ada manfaatnya. Melalui pemahaman yang tepat dan saran yang dikembangkan, kemudian dengan karya-karya yang tepat waktu, aturan, dan ukuran. Kita akan melihat sebenarnya proses dalam pendidikan produktivitas itu adalah  ketiga aspek tersebut,” cetusnya.

 

Selanjutnya, produktivitas jika tidak didukung dengan tenaga-tenaga kerja profesional, dengan indikator-indikator tepat waktu, aturan dan ukuran, maka produktivitas itu tidak akan meningkat, dan tidak mencapai apa yang diharapkan.

 

“Saya dalam kesempatan ini, hanya untuk merefresh kembali dari mana Politeknik ini lahir dan bagaimana menjawab tantangan-tantangan perubahan yang terus berlangsung, yang semakin lama semakin cepat,” tangkasnya.

 

Dirinya mengakui bukan asli dari Politeknik Negeri Manado, hanya seorang staf di Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado. Karena sebuah perintah dan tugas dari negara saat itu. Dengan kesediaan diri, ia menjalankan tugasnya itu di Politeknik.

 

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: politeknik negeri manadoRuddy Tenda
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Festival Media 2022 Kolaborasi AMSI Sulteng, IJTI dan PFI

Festival Media 2022 Kolaborasi AMSI Sulteng, IJTI dan PFI

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Forkopimda Sangihe Bertolak ke Marore Salurkan Bantuan Gempa 10 Juni 2026
  • Jaga Populasi Ikan Langka, KKP Lepasliarkan 1.300 Ekor Cheilinus Undulatus 10 Juni 2026
  • Donor Darah Rutin, Wujud Nyata Kepedulian KSR PMI UPT Polimdo 10 Juni 2026
  • PBM – MB, Jurusan Teknik Elektro Polimdo Bawa Energi Hijau ke Permukiman Warga 10 Juni 2026
  • DPRD dan Polda Sulut Perkuat Pengawasan BBM Subsidi 10 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In