Manado, Barta1.com – Sebuah nama di Auditorium Politeknik Negeri Manado bertuliskan Prof Ruddy Tenda menjadi pertanyaan bagi setiap mahasiswa. Cerita singkat datangnya dari mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis, Oswald Jonathan Wokas. Ketika ditanya soal nama yang dicantumkan di Auditorium Politeknik Negeri Manado, ia menjawab tidak tahu.
Civitas Politeknik Negeri Manado seharusnya mengetahui cerita Dr Ir Ruddy Tenda selaku founding father dari Politeknik Negeri Manado, di mana ia berperan penting dengan hadirnya lembaga pendidikan ini. Ruddy Tenda merupakan Direktur pertama Politeknik Negeri Manado sejak tahun 1987 hingga 1996.
Hadirnya lembaga pendidikan ini, diceritakan kembali oleh Dr Ir Ruddy Tenda saat memberikan sambutan pada perayaan wisuda kedua, Rabu (23/11/2022). “Ada baiknya kita mencoba merefresh dan mengingat kembali bagaimana dan apa sebenarnya lembaga pendidikan Politeknik ini. Mengapa pula lembaga pendidikan ini diadakan. Indonesia di bawah pemerintahan Orde Baru memutuskan untuk menyelenggarakan pembangunan secara besar-besaran, melalui program yang disebut pembangunan 5 tahun. Dalam suatu rancangan besar, yang disebut pembangunan jangka panjang 25 tahun. Saat itu juga sebuah program pembangunan sudah ditetapkan,” ujarnya.
Kemudian, pada tahun 1970-an ketika pemerintah melaksanakan pembangunan secara besar-besaran disebuah aspek kehidupan, disitu timbul konflik dari dunia kerja. Khususnya dunia industri jasa maupun industri menufaktur. Masalahnya adalah ketidakmampuan dan ketidaksiapan dari sumberdaya manusia, untuk menyelenggarakan proses produksi dalam rangka peningkatan produktivitas nasional.
“Untuk menyelenggarakan pembangunan secara besar-besaran, Pemerintah harus menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan prasyarat untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah peningkatan produktivitas nasional di semua bidang,” tuturnya.
Namun, sebuah industri mengalami apa yang dimaksud dengan krisis tenaga kerja. Krisis tenaga kerja ini, bukan menyangkut aspek kuantitatif, tetapi menyangkut kualitatif, yang diartikan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja maupun industri.
“Apa yang diperoleh oleh para lulusan perguruan tinggi pada waktu itu, di mana mereka tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan industri, dan kondisi ini menyebabkan upaya untuk peningkatan produktivitas nasional dalam rangka mencapai sebuah pertumbuhan ekonomi yang tinggi gagal,” bebernya.
“Melihat hal itu, pemerintah melakukan evaluasi, kemudian bertanya-tanya kenapa lulusan perguruan tinggi pada waktu itu tidak mampu menjawab tantangan-tantangan di dunia kerja. Persoalannya adalah kurikulum pada saat itu di universitas dan institut komposisinya 85% aspek sains atau keilmuan, sehingga aspek terapan sangat minim, hanya berkisar 20 sampai 30%. Ini menyebabakan, lulusan-lulusan perguruan tinggi pada saat itu, tidak dapat menjawab tantangan-tantangan di dunia kerja, dan tidak memiliki keahlian terapan. Sedangkan saat itu dibutuhkan tenaga-tenaga kerja yang memiliki keahlian-keahlian khusus terapan,” beber Tenda sembari menyebut dari hal itu lahirlah politeknik, yang kemudian dikelompokkan menjadi bagian dari vokasi di Indonesia.
Menurutnya, politeknik sebagai lembaga yang baru ditempelkan dengan Universitas. Pada gelombang kedua, pemerintah memutuskan untuk mengembangkan pendidikan politeknik. Kemudian produk-produk lulusan Politeknik universitas gelombang pertama mendapatkan respon positif dari dunia kerja.
“Jika saya tidak keliru, pada gelombang kedua ada sebelas Politeknik didirikan, termasuk Politeknik Negeri Manado, yang pada awalnya Politeknik Universitas Sam Ratulangi. Itulah awal berdirinya Politeknik Negeri Manado,” katanya.
“Pada tahun 1987 memulai pendidikannya dengan Diploma II dan itulah solusi pemerintah untuk mengatasi permasalahan yang mengemuka di dunia kerja dan industri, yaitu kemampuan dan kompetensi dari perguruan tinggi,” terangnya.
Berjalannya waktu, Politeknik Negeri Manado dengan segala kelebihan dan kekurangannya mengalami tantangan di tengah jalan, karena Politeknik sebuah pendidikan yang baru dan belum diketahui oleh banyak masyarakat yang berjasa dengan universitas, yang lulus kemudian menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Sehingga images dari masyarakat, bahwa Politeknik ini ketika lulus mau jadi apa. Kemudian ini menjadi suatu yang baru dan sebuah tantangan pada saat itu, di mana juga saya terlibat sebagai pendidik.
“Namun, lama kelamaan images itu menghilang dengan kompetensi dan keahlian yang ditunjukkan oleh lulusan Politeknik Negeri Manado di dunia kerja dan industri,” tambahnya.
“Perubahan-perubahan yang berlangsung, semakin lama semakin cepat disebut disrupsi. Sekarang kita berada di era disrupsi, sehingga demikian para lulusan Politenik ini, perlu memikirkan pola yang cocok dan sesuai dengan perkembangan-perkembangan, yang semakin lama berlangsung, maka semakin cepat perubahannya,” ucapnya.
Walaupun demikian, dirinya meminta setiap lulusan Politeknik tidak meninggalkan sebuah identitas, karena Politeknik lahir dari sebuah masa lalu dan masalah, dan hingga saat ini masalah seperti itu masih relatif sama.
“Saya tadi mendengar hal yang tercantum dalam mars politeknik. Ada 3 unsur didalamnya yaitu tepat waktu, tepat aturan, dan tepat ukuran. Itulah, identitas Politeknik, yang membedakannya dengan lembaga-lembaga pendidikan universitas lainnya,” imbuhnya.
Lanjutnya, jangan bermimpi akan menjadi akademisi terkenal. Itu tidak perlu, karena basis politeknik bukan disana. Politeknik harus mementingkan pada identitasnya, dan itu harus dikembangkan.
“Jangan sampai kita terbawa dengan keadaan-keadaan yang sudah ada. Jika kita kembali kepada keadaan sebelumnya, maka tidak ada manfaatnya. Melalui pemahaman yang tepat dan saran yang dikembangkan, kemudian dengan karya-karya yang tepat waktu, aturan, dan ukuran. Kita akan melihat sebenarnya proses dalam pendidikan produktivitas itu adalah ketiga aspek tersebut,” cetusnya.
Selanjutnya, produktivitas jika tidak didukung dengan tenaga-tenaga kerja profesional, dengan indikator-indikator tepat waktu, aturan dan ukuran, maka produktivitas itu tidak akan meningkat, dan tidak mencapai apa yang diharapkan.
“Saya dalam kesempatan ini, hanya untuk merefresh kembali dari mana Politeknik ini lahir dan bagaimana menjawab tantangan-tantangan perubahan yang terus berlangsung, yang semakin lama semakin cepat,” tangkasnya.
Dirinya mengakui bukan asli dari Politeknik Negeri Manado, hanya seorang staf di Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado. Karena sebuah perintah dan tugas dari negara saat itu. Dengan kesediaan diri, ia menjalankan tugasnya itu di Politeknik.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post