Manado, Barta1.com – Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Daerah Sulut, Sri Ratna Pasiak angkat suara terkait viralnya konten tik tok siswi SMA di Kota Manado. Konten itu terlihat jelas logo pada seragam. Kemudian, hotel tempat nginap siswi itu bersama temannya.
“Sehubungan dengan kasus yang sempat viral, terutama di SMA Negeri 9 Manado. Kami sudah melakukan kroscek di lapangan. Ternyata ini kejadian yang sudah lama, dan sudah beberapa bulan yang lalu,” ungkap Pasiak, Jumat (2/12/2022) lalu.
Anak tersebut sudah dikembalikan kepada orangtuanya. Meskipun dalam video itu adalah keluarganya. Jadi, didalam kamar itu lebih dari satu orang, bukan hanya mereka berdua, sambung Pasiak.
Jadi, yang di atas tempat tidur itu adalah keluarganya. Mereka berkumpul untuk memberikan ucapan ulang tahun kepada siswi itu. “Apapun alasannya konten itu tidak beretika. Dari pihak sekolah ternyata sudah mengambil tindakan, dengan mengembalikan anak ini kepada orang tuanya,” tutur perempuan asal Nusa Utara ini.
Kasus yang viral kedua terjadi di SMA 4 Manado. “Melalui petunjuk pimpinan. Dan Pak Kaban BKD juga sudah turun tangan. Kemudian, ibu kadis juga menyebut hal ini jangan dianggap sepele,” ucapnya.
Pasiak menyebutkan, baik sekolah dan orang tua siswa yang merasa anaknya dipulangkan menurut bahasa media itu dipanggil. “Saya mencoba menggali informasi. Satpam sekolah juga saya tanyakan. Pertanyaan saya ke satpam terkait hari Senin adakah siswa yang keluar di jam ujian, jawabnya tidak. Kenapa saya harus tanyakan itu ke satpam, karena SMAN 4 Manado cuman satu akses keluarnya. Jika ada siswa keluar pasti satpam tau,” jelasnya.
“Kedua mereka ujian tidak lagi menggunakan kertas dan pulpen. Mereka sudah menggunakan aplikasi dan anak-anak memiliki akun secara online. Walaupun ujiannya melalui online, anak-anak ini harus datang ke sekolah untuk mengambil kartu. Kartu ini dipegang oleh seorang guru. Nah, kartu ini bukan pembayaran uang partisipasi. Kartu ini adalah peserta ujian permata pelajaran,” cetusnya.
Ia mencontohkan siswa yang sudah mengambil kartu dari seorang guru, maka guru itu akan membuka akun online siswa tersebut untuk mengikuti ujian. Mengapa dibuat seperti itu, agar anak-anak bisa ke sekolah. Jika tidak dibuat seperti ini, anak-anak ini tidak akan ke sekolah karena akunya bisa dibuka sendiri. Itu penjelasan dari pihak sekolah.
“Bisa saja di rumah orang lain yang mengerjakan tugas anak ini, dan anak ini hanya tidur. Dengan mengambil kartu di sekolah bagian dari mendisiplinkan anak-anak kita,” ujarnya.
Nah, dari pengambilan kartu ini ada yang merasa tidak diberikan karena tidak membayar uang partisipasi ini. “Saya bertanya kepada orang tua siswa. Apakah anak ibu hari Senin itu tidak ikut ujian, jawabannya ikut. Terus saya tanya lagi, apakah anak ibu dipulangkan, jawabnya tidak. Ini pengakuan seorang ibu,” katanya.
“Anak saya tidak dipulangkan dan ikut ujian kata orang tua siswa kepada saya. Ketua panitia juga membawa bukti bahwa semua anak mengikuti ujian pada hari Senin,” bebernya. Pasiak bertanya lagi ke orang tua siswa. Kenapa ada berita anak ibu dipulangkan dan tidak diikutkan ujian. “Ibu ini menjawab kepada saya bahwa anaknya ini menelpon dirinya dari sekolah, tapi tidak sempat angkat telfon itu. Anak ini menjadi panik di sekolah dan menelfon saudaranya. Dan, saudaranya ini sempat membantu membayar apa yang dimintakan siswi ini,” imbuh Pasiak sambil meneruskan penjelasan orang tua siswa SMAN 4 Manado ini.
“Kemudian saudaranya ini ke rumah ibu ini, bertepatan ibu siswi ini sedang melayani pembeli. Ibu ini memiliki warung. Saat di warung itu, saudaranya meminta agar ibu bisa melihat anaknya yang tidak diijinkan ujian dan mau dikeluarkan dari sekolah. Dari hal itu, maka timbullah berita itu dari kepanikan seorang siswi,” sambungnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post