“Sebelum membicarakan gaya, teknik, perasaan, pemikiran, pengetahuan, nilai moral, sosial, psikologi, keagamaan, bagi saya film utamanya adalah tentang keindahan”—Bernaldy Laoming.
Tahun 2017, Bernaldy Laoming, sutradara film asal Sulawesi Utara (Sulut) yang akrabnya disapa Naldy memenangkan Festival Film Anak Nusantara “Piala Gatra Kencana 2017” yang diselenggarakan di Gedung TVRI Pusat Jakarta lewat film berjudul “Semateir”.
Kemenangannya itu mendapatkan liputan luas berbagai media massa di tanah air, karena selain dinobatkan sebagai film terbaik, film produksi TVRI Sulut ini mengantar Naldy sebagai Sutradara dan penulis Scenario terbaik. Semateir juga memenangkan kategori Editor Terbaik, Kameramen Terbaik, dan Aktor Terbaik.
Ketika ditanya apa filosofi dia dalam membuat film, sutradara yang mukim di Manado ini mengatakan, sebagai karya seni, film bagai cermin yang wajib memantulkan nilai spiritual. Sebuah karya film sebagai realitas harus mampu menembus, mengatasi dan melampaui pengalaman sehari-hari. “Bagi saya film merupakan ungkapan nilai kehidupan yang transenden,” ungkap dia.
Sebelum menyutradarai “Semateir”, pada 2016, ia juga sempat meraih piala Gatra Kencana pada Festival Film Anak Indonesia lewat film “Tulisan Dari Pulisan” yang menggondol terbaik III.
Penyandang S1 Teknik Elektro Universitas Teknologi Sulawesi Utara ini sudah menyukai dunia seni film dan fotografi jauh sebelum ia memulai kariernya di dunia pertelevisian yang diawalinya sejak 1012 sebagi Editor Non Linier di TVRI hingga 2015 kariernya menajak sebagai Program Director di TVRI.
Di TVRI, ia dikenal aktif membuat produksi program televisi “Pesona Indonesia” dan “Anak Indonesia di Sulawesi Utara untuk TVRI Nasional sebagai Program Director dan sekaligus Produser.
Pehobi diving dan traveling ini juga sempat mengikuti Travel Journalism Program di Addis Ababa Ethiopia, Afrika Timur, April 2019. Sementara karya-karya independennya berupa film dokumenter, reportase, dan fotografi masih terus diproduksinya bekerjasama dengan berbagai pihak.
Dalam memproduksi karya filmnya, Naldy mengatakan ia banyak bekerjasama dengan sanggar-sanggar seni yang ada di Sulut. Untuk film “Semateir” sebagai misal, ia mengatakan bekerjasama dengan komunitas seni Sanggar Kreatif Manado tempat ia ikut bernaung. “Para pemainnya diambil dari para aktor dan aktris Sanggar Kreatif. Aldes Sambalao dan sutradara terbaik Festival Teater Remaja Nasional 2016 Vick Chenore Baule, penata music teater terbaik Indonesia Zadrick Dauhan dan tim Sanggar Kreatif, juga ikut ambil bagian sebagai penata laku dan musik dalam produksi kolaborasi ini, “ ujar dia.
Dikatakan Naldy, sebuah karya film yang baik hanya mungkin lahir lewat kolaborasi para profesional di bidangnya. “Itu yang selalu saya lakukan hingga saat ini,” imbuhnya.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post