TWabah yang melanda Indonesia sejak awal 2020 ini menyebabkan banyak hal di Indonesia tidak berjalan normal seperti biasanya. Di tengah mewabahnya Pandemi Covid-19, banyak yang memutar otak, mencari cara agar bisa bertahan hidup karena tuntutan memenuhi kebutuhan.
Seperti halnya yang dilakukan Yusak Dago, warga Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud. Saat Pandemi Covid-19 membuat panik masyarakat, pria yang akrab disapa Om Yusak ini justru bisa menghasilkan karya lampu dinding tempel. Jenis lampu hias yang diproduksinya ini menggunakan bahan sisa potongan kayu dan tempurung.
Munculnya ide kreatif secara tiba-tiba juga tidak jarang kita alami. Entah saat berada di pantai, saat berjalan-jalan, bahkan mungkin saat minum kopi. Kepada Barta1.com, dia menceritakan, bagaimana munculnya ide untuk membuat lampu tempel dinding tersebut. Kata Yusak, awalnya dirinya hanya iseng-iseng membuat sebuah karya dari sisa potongan kayu.
“Kan di samping rumah banyak sisa potongan kayu. Awalnya saya ingin membuat asbak. Setelah proses pembuatan asbak selesai, hasilnya malah jadi seperti vas bunga,” kata Jusak, Kamis (06/05/2021).
Lanjutnya, setelah vas bunga tersebut dipasangi tiang dari ranting pohon, ia mendapat ide untuk mengubahnya menjadi lampu tidur dengan balon lampu yang menggelantung pada sebuah tiang. Setelah lampu tidur tersebut selesai dikerjakan, maka di sinilah ide untuk membuat lampu tempel dinding muncul.
Saat ide kreatifnya menjadi sebuah karya, ia tidak menyangka bahwa dirinya menghasilkan rupiah saat buah tangannya dibeli orang.
“Saya tidak menyangka kalau ada yang mau membeli. Sekalipun tidak besar jumlahnya, hal itu bisa meringankan biaya sehari-hari,” katanya.
Hingga saat ini sudah puluhan lampu dinding tempel buatan om Yusak laku. Untuk harganya bervariasi sesuai dengan model dan ukuran.
“Kalau yang laku sudah puluhan. Ada juga yang datang memesan lampu dinding sesuai dengan konsep yang mereka berikan. Kalau harganya pasti bermacam sesuai ukuran dan modelnya,” ungkapnya.
Menurutnya, masa pandemi Covid-19 bukanlah penghalang bagi dirinya untuk berkarya. Justru bisnis yang baru ditekuninya itu bisa menjadi benteng pertahanan ekonomi keluarga yang melalui masa sulit akibat pandemi.
“Ternyata pandemi bukanlah alasan bagi kita untuk tidak kreatif. Kondisi pandemi membuat saya banyak waktu di rumah. Waktu yang cukup inilah membuat saya bebas berkarya,” cetus dia. (*)
Peliput: Evan Taarae, Ferdinand L. Putong (editor)


Discussion about this post