Oleh: M Taufik Poli
Aktivitas berpikir selalu mendatangkan kepuasan jika masalah sudah terpecahkan, atau sekedar berhasil menumpahkannya secara lisan kepada orang lain. Aktivitas itu kadang menimbulkan konsekuensi—walau tidak semua orang mengalaminya—yakni mengisolasi diri dari lingkungan atau soliter. Tetapi selangkah kedepan kita akan dihadapkan pada persoalan: apakah berpikir hanya untuk berpikir? Atau lebih dermawan jika berpikir bersama orang lain dan bertindak bersama dengannya?
Dilema itu membawa saya pada upaya meruntuhkan pengisolasian pikiran demi tujuan deliberasi pemikiran. Kini sudah terdapat tempat untuk mendeliberasikan pikiran, bukan kelompok belajar, bukan kelompok akademik dan bukan kelompo diskusi.
Kelompok itu adalah pemuda desa yang bukan dari kalangan seperti sebelumnya, tetapi mereka yang sehari-hari berkutat pada persoalan mencari nafkah, merenung masa depan yang semakin tidak ramah dengan mereka, atau mengabaikan persoalan hidup dan menjalaninya tanpa beban.
Begitulah pergulatan hidup para pemuda desa Sea yang dengannya saya banyak belajar. Saya bukan orang yang suka menulis apa saja di luar ketertarikan pemikiran, tetapi pesona mereka membawa saya pada perenungan sedemikian matinya tentang jaringan sosial yang kecil tetapi mempunyai keunikan dan semangat produktivita a la pemuda desa.
Menciptakan Ruang Bersama
Mereka tidak menamai sedemikian rupa kelompoknya sebagaimana lazim kita temui pada kelas menengah perkotaan. Kelompok tersebut mengalir mengikuti ketertarikannya pada setiap isu. Kadang kala, mereka begitu kaku ketika menilai kinerja pemerintah desa, dan memilih cara aman mendiskusikanya dengan cara berbisik-bisik.
Hal itu mahfum, ketika kultur setempat begitu kaku berbicara politik, bahkan menjadi hal tabu. Yang menjadi persoalan, dan itu adalah ketakutan utamanya, adalah ketika sikap politik bertentangan dengan sikap politik keluarga dan saudara-saudara, dan bahkan membawa dampak tidak menguntungkan kepadanya.
Semua persoalan yang mencuat dari mulut mereka didiskusikan sedemikian rupa di ruang-ruang bersama. Jangan menghayal ruang ini sama seperti teori ruang publiknya Habermas, tetapi ruang bersama yang dimotori kalangan pleibian perdesaan.
Mereka pemuda dari keluarga petani, buruh dan pedagang kecil. Isu-isu yang berkembang di dalam ruang itu tidak melulu politis, tetapi persoalan kehidupan nampaknya problematis menurut mereka. Di sini, teori tentang kesedaran politik dan pendidikan politik tidak berlaku apabila struktur sosial dan politik tetap mengharuskan mereka untuk berpikir tentang makan di hari esok dan akan jadi apa dimasa depan.
Mereka mempunyai ambisi akan kebersamaan yang mengakar, kebersamaan yang disatukan dengan kesamaan nasib dan cita-cita kehidupan. Ruang bersama yang mereka ciptakan menjadi arena perjuangan untuk melampaui nasib dengan kerja keras, pendidikan, serta imajinasi politik yang berpihak terhadapnya.
Imajinasi Politik yang Berpihak
Kehidupan yang keras, tekanan yang menyakitkan dan ketidaktentuan masa depan turut membentuk imajinasi politik mereka. Tentu ini hanya imajinasi, dalam artian bahwa tidak ada pembacaan secara menyeluruh dan bernas tentang struktur politik seperti apa yang membuat mereka tetap marjinal. Marjinal bukan hanya dalam politik, tetapi marjinal dalam kehidupan secara menyeluruh.
Saya tidak membayangkan, ketika mereka diberi kesempatan yang sama terhadap pendidikan, mungkin revolusi akan dimulai dari tempat mereka. Ini mungkin akan dianggap terlalu romantis, tetapi itulah yang dipancarkan darinya. Lagi pula, memang tujuan tulisan ini untuk menguak kisah romantis nan menyesakkan tersebut.
Ketika belajar filsafat politik, angan-angan dan cita-cita mulia politik untuk kebaikan bersama nampak tidak hadir dalam dego-dego mereka, atau mungkin, terpenjara di dalam pikiran Plato dan Aristoteles yang sudah mati ribuan tahun lalu. Di sini yang lahir hanyalah imajinasi, imajinasi tanpa pembacaan menyeluruh, tetapi dengan kebulatan tekat untuk aksi. Ya, mereka tidak terpenjara dengan imajinasinya, mereka melakukan aksi kecil untuk memperbaiki posisinya, mereka menembus segala keterbatasa dan meruntuhkan sekat penghambat.
Ruang yang mereka bangun beserta imajinasi politik di dalamnya menjadi area di mana elite politik akan berpikir ulang betapa hinanya sebuah pertarungan kekuasaan digelar di atas kehidupan mereka yang sulit yang menjadi bagian tak terpakai dari pertarungan kuasa itu. Ketika mereka dilengkapi kemampuan satire dan pengetahuan politik yang bernas, lengkap sudah si politisi akan dihina secara cerdas oleh mereka.
Tidak Ada Pembatas, Tidak Ada Sekat
Jelas sudah kisah mereka dirangkai dalam hidup yang pilu dan kuasa politik yang tak berpihak. Sebuah jawaban atas pertanyaan besar mereka tentang kenapa kondisinya sedemikian sulit dan apa penyebabnya. Sebuah jawaban yang tidak dicari di dalam buku atau bangku kuliah, tetapi didapat dari berjalannya kehidupan dan pengamatan sekilas.
Bagi mereka tidak ada yang harus menjadi pembatas, sekalipun batasan terpaksa menghampiri, tetapi seketika menjadi lunak jika dihadapkan dengan tekat dan semangat mereka, suatu upaya menembus batas gaya pemda Sea. Jika batas adalah niscaya, maka kehendak untuk melampauinya juga niscaya.
Hidup memang tidak sekedar hidup, karena jika begitu babi di hutan pun hidup. Persis seperti itulah mereka, menembus keterbatasan kehidupan untuk hal-hal yang lebih berguna bagi sesama. Jangan artikan hal berguna itu adalah aksi sosial membantu yang miskin, karena mereka juga sedemikiannya. Tetapi artikanlah itu sebagai pemberian tanpa pamrih akan semangatnya, perjuangannya, tekatnya, tindakannya, yang semua itu lahir dari kondisi keterbatasan.
Menjadi marjinal dalam hidup dan politik memang menyakitkan, tetapi mereka membuat rumus untuk mengatasinya, yakni runtuhkan sekat untuk persamaan dan kesatuan hidup, lampaui batasan demi cita-cita dan imajinasi politik. Rumus yang melampaui kesulitan perhitungan matematis dan proposisi di dalam logika, tetapi dipraktikan begitu mudah dan nyata oleh mereka. (*)


Discussion about this post