Manado, Barta1.com — Aktivis perempuan dari berbagai organisasi di Sulawesi Utara tak menghentikan upaya mendesak pemecatan James Arthur Kojongian (JAK) dari DPRD Sulut. Terakhir Jumat (05/02/2021) sore, puluhan aktivis yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Sulut atau GPS, memproklamirkan upayanya dalam bentuk petisi online.
Di Warung Kopi Billy Mega Mas Manado, anggota GPS meluncurkan platform yang bisa ditandatangani di situs petisi change.org. Intinya, mendesak pimpinan DPRD segera memecat James dari kursi dewan.
“Mohon petisi ini bisa ditandatangani dan kita lawan bersama berbagai kasus pada perempuan dan anak,” seru Joice Worotikan dari GPS pada media yang turut hadir dalam peluncuran petisi bertajuk “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak, Pecat James Arthur Kojongian dari DPRD Sulut!”
Hingga pukul 23.00 Wita malam tadi, atau sekitar 6 jam setelah petisi online itu di-launching, sudah 600 yang melegitimasinya dan masih terus bertambah.
Vivi George dari Swara Parangpuan Sulut, salah satu lembaga yang mendukung GPS, mengaku inti perjuangan mereka sejatinya melakukan perlawanan terhadap berbagai kasus kekerasan pada perempuan.
Baca berita lainnya terkait JAK:
Aktivis Perempuan Sulut: JAK Harus Mundur
JAK Non Aktif Ketua Harian PG Sulut, PAW (Masih) Dikaji
Michaela Paruntu Penuhi Panggilan BK DPRD Sulut, Angel Kapan?
“Kita menunggu keputusan Badan Kehormatan DPRD pada kasus ini, tetapi yang sesungguhnya ingin kami tunjukkan adalah perlawanan secara global pada kasus kekerasan yang menimpa perempuan.”
Keterangan GPS bahwa kasus kekerasan yang dimaksud terjadi pada 24 Januari 2021 di Jalan Raya Tumatangtang, Kota Tomohon. Peristiwa yang videonya viral di media sosial maupun media massa memperlihatkan seorang perempuan berteriak minta tolong saat diseret sebuah mobil.
“Peristiwa itu terjadi, setelah perempuan tersebut memergoki suaminya bersama perempuan lain, yang diduga menjalin hubungan khusus dengan suaminya. Saat itu istri yang diketahui bernama MEP menghadang mobil yang dikendarai suaminya James Arthur Kojongian (JAK). Namun ternyata, bukannya berhenti suaminya malah menjalankan mobilnya di saat istrinya di depan mobil, sehingga istrinya terseret bersama mobil (berpegangan pada wiper mobil),” sebut GPS.
Sebelumnya pada awal pekan ini, puluhan aktivitas tersebut telah menyambangi kantor DPRD Sulut dan berkonsultasi dengan Badan Kehormatan dewan. Tuntutan mereka agar politisi Partai Golkar itu mundur dari jabatan anggota dewan, termasuk dari posisinya sebagai wakil ketua.
GPS mengklaim, perbuatan JAK yang adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulut, dan juga Pimpinan Partai Golkar Sulut, mengundang perhatian masyarakat luas. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang tidak manusiawi dan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan yang berisiko menghilangkan nyawa istrinya. (*)
Peliput: Ady Putong


Discussion about this post