Manado, Barta1.com – Paus yang diterdampar di pantai Kalasey, Minahasa, Jumat (5/2/2021) pukul 09.00 WITA, ternyata berjenis paus pilot.
“Setelah melakukan identifikasi, jenis paus ini menurut saya paus pilot. Dikarenakan di bagian kepala itu datar,” ujar Muhamad Yaser dari Balai Pengolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSP) Makassar Cabang Manado kepada Barta1.com.
Kalau diidentifikasi dalam penanganan mamalia yang terdampar ada empat kategori. Kata dia, kategori pertama merupakan kategori masih hidup. Jika hidup tandanya masih bisa diselamatkan. “Kategori dua itu kondisinya sudah mati tapi belum membusuk. Seperti yang saat ini ditemukan di pantai Kalasey ini,” ujarnya.
Sedangkan kategori ketiga yakni mulai membusuk dan keempat biasanya sudah terurai atau tinggal bangkai. “Khusus paus di pantai Kalasey ini masih kategori paus anakan. Diidentifikasi kelaminnya betina terus banyak terdapat luka gores di kepala. Bisa jadi awalnya kena benturan, akan tetapi kita tidak tahu pasti kematiannya. Tapi secara teori ada beberapa hal yang bisa disorientasi, disorientasi itu di kedelaman kemudian terdampar ke arah dangkal. Itu yang membuat paus sulit untuk menemukan rute awalnya,” beber Yaser.
Bisa juga sambung dia, misalnya, parasit dalam perutnya. “Sekali lagi, khusus kasus ini kami belum tahu penyebab kematian. Tapi ada dampak juga dari gempa bumi tiba-tiba dari dalam naik ke atas. Nah, untuk penanganan paus terdampak itu ada 3 kategori. Pertama itu dilakukan penguburan seperti saat kita lakukan, kedua dibakar dan ketiga ditenggelamkan,” tuturnya.
Peneliti paus Indonesia, Veryanto Madjowa, dihubungi terpisah, mengatakan paus yang terdampar di pantai Kalasey berjenis pilot, yang masuk kategori keluarga lumba lumba atau dolpin.
“Kenapa disebut paus pilot? Paus pilot di laut jalan bersama. Ada satu paus yang jadi pemandu atau pemimpin. Semua akan ikut kemana saja pimpinan rombongan bawa. Paus pilot dengan nama Indonesia paus pemandu sirip pendek, sedangkan nama ilmiah globicephala macrorhynchus,” ujar lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Manado.
Ia menyebutkan ada dua kejadian seminggu ini, dimana pada Jumat (29/1/2021) lalu, ditemukan paus berukuran 10 meter terdampar di Pantai Liang, Taman Nasional Bunaken. “Kemudian hari ini, juga ditemukan paus di Pantai Kalasey Satu. Untuk mengetahui penyebab kematian paus ini perlu dilakukan nekropsi atau pemeriksaan organ bagian luar dan dalam. Untuk organ bagian dalam perlu diperiksa apakah ada plastik yang mengganggu organ pencernaan atau parasit. Kemudian untuk memastikan dilakukan uji laboratorium. Kalau melihat dari organ luar, tidak ada tanda-tanda kekerasan,” ucap mantan jurnalis TEMPO ini.
Kendati perlu penelitian lebih dalam, dirinya meyakini kematian dari dua paus ini diakibatkan memakan plastik. “Bisa jadi karena makan plastik,” tutur Veryanto.
Data BPSPL menyebutkan ukuran panjang paus yang ditemukan di Pantai Kalasey Satu, yakni 1,56 meter. Kemudian sirip punggung 45 cm, sirip kiri-kanan 46 cm, lebar ekor 69 cm, lingkar pangkal ekor 30 cm. Kemudian lingkar badan pas kelamin 74 cm, lingkar badan di bawah sirip 1.2 cm, lingkar kepala di bawah mata 1.12 cm, dan ukuran mata 3 cm.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post