Nasib malang benar-benar dialami para perupa di Sulawesi Utara. Sejak awal 2020, saat pandemi COVID-19 menerjang keras dan menjadi bencana besar di suluruh dunia, pasar karya seni rupa pun terpuruk. Tak ada lukisan laku. Bagaimana para pekerja seni itu mengais nafkah?
Ada ratusan perupa di Sulawesi Utara, baik pelukis atau pemantung yang terpaksa beralih konsentrasi mengerjakan karya seni by order seperti melukis mural pada dinding bangunan, mengerjakan taman, dan melukis potret pesanan.
Mereka mengaku, merambah pekerjaan serabutan tersebut karena tak ada pilihan lagi dalam mempertahankan hidup di era pandemi selain mengerjakan pekerjaan alternatif semacam itu.
Dampak pandemi khususnya untuk seni lukis Sulut paling besar adalah terbatasnya para perupa melakukan pameran offline di dalam atau luar ruangan. Akibatnya, karya mereka berjarak dengan para kolektor.
Persoalan tentu tidak sekadar pada ruang pamer, tapi fakta dan kecenderungan orang saat ini lebih menahan diri membelanjakan uangnya ke karya seni. Orang lebih memprioritaskan pembelanjaan untuk survival, makanan dan obat-obatan.
“Keadaan kian pelik karena hotel-hotel membatasi diri untuk tidak lagi menerima pameran. Imbasnya peluang teman-teman untuk memasarkan karya secara konvensional jadi menurun,” ungkap Alfred Pontolondo, salah seorang pelukis terkemuka Sulut.
Pengecualian memang terjadi bagi para pelukis yang memiliki eksistensi kuat. Para pelukis yang mapan ini di masa pandemi, dari sisi ekonomi, relatif tidak terlalu terdampak karena karyanya tetap saja laris manis .
Di lain sisi, peluang berpameran secara virtual justru semakin banyak dan terbuka. Para perupa bisa berpameran dengan berbagai platform baik di tingkat Nasional maupun galeri dunia.
“Masalahnya perupa di sini siap atau tidak. Siap berkompetisi dan membuka diri terhadap kecenderungan baru untuk akrab dengan teknologi atau tetap dengan pendekatan konvensional?”
Dalam pameran virtual, sangat ditekankan kesiapan karya dari tiap perupa, dan kesediaan untuk lebih rajin mendapatkan peluang di dunia maya yang jumlahnya ratusan event berkualitas setiap bulannya.
“Persoalannya, sangat dibutuhkan portofolio dan kualitas karya yang baik. Peluang pasar karya pun jauh lebih luas dan lebih terbuka bagi teman-teman perupa Sulut,” kata Pontolondo.
Dikatakan, kalau perupa di Sulut tetap bertumpu pada pameran konvensional, sudah pasti akan tereksekusi oleh keadaan. Jadi butuh kesediaan untuk berubah dan memakai mindset “digital way”.
Saat ini, kata Pontolondo, yang survive adalah anak-anak muda yang tidak banyak dikenal, yang tidak pernah berpameran offline tapi karya-karya “digital art” mereka merambah ke berbagai penjuru dalam wujud komik, karya ilustrasi, fitur game online.
“Mereka berasal dari Sulawesi Utara. Saya sandiri tidak mengenal mereka.Tapi karya mereka sangat eksis,” ungkapnya. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki


Discussion about this post