• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Mei 2, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Anggota Jemaat Dibatasi, Begini Jalannya Ibadah di Gereja Tua

by Agustinus Hari
25 Desember 2020
in News
0
Anggota Jemaat Dibatasi, Begini Jalannya Ibadah di Gereja Tua

Suasana GPIB Beth-El Magelang. (foto: suara)

0
SHARES
228
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Umat Kristiani penuh sukacita merayakan Natal, Jumat (25/12/2020). Meski berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, namun tak mengurangi khidmatnya warga beribadah.

Seperti di GPIB Beth-El Magelang. Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) ini adalah gereja tertua di Kota Magelang. Pada masa pandemi Covid-19 misa perayaan Natal di GPIB Beth-El diselenggarakan penuh pembatasan. Dari kapasitas gedung sekitar 300 jemaat, hanya 50 orang yang dizinkan mengikuti misa secara langsung. Sebagian besar jemaat mengikuti misa secara streaming dari rumah masing-masing. Misa natal dimulai pukul 09.00-10.30 WIB dipimpin Pendeta Monica BS Joris Latumaerisa.

Tahun ini GPIB Beth-El Magelang menginjak usia 203 tahun. Berada di kawasan Alun-alun Kota Magelang, bangunan gereja yang didirikan tahun 1817 itu tampak sangat terawat. “Iya, kami (gereja) umurnya itu dari 1817. Diperkirakan berarti 203 tahun. Ya (didirikan tahun) 1817, sesuai dari cagar budaya,” kata Pendeta Monica yang dikutip dari Suara.com, media jaringan Barta1.com, Jumat (25/12/2020).

Menurut Pendeta Monica, misa Natal tahun ini menjadi sejarah baru karena dilangsungkan di tengah pandemi. Jemaat yang mengikuti misa harus mengikuti protokol kesehatan.

“Natal di tengah pandemi tahun 2020 memberikan sejarah kehidupan yang baru. Tentunya secara manusia tidak menyenangkan, jadi kita harus terbatas dengan kursi, tidak bisa semua (hadir), dan sangat terbatas. Harus mengikuti protokol kesehatan,” ujar Pendeta Monica.

Dia berharap, jemaat yang menjalani misa secara streaming tetap khidmat mengikuti prosesi ibadah. “Biarkan kerinduan mereka untuk beribadah di rumah masing-masing itu tetap ada suka cita dan damai sejahtera di Natal tahun ini.

Dalam kondisi normal, GPIB Beth-El Magelang mampu menampung 300 jemaat yang mengisi seluruh kursi hingga balkon. Saat ini hanya sekitar 50 orang yang bisa hadir dengan pengaturan jarak duduk.

Ia berpesan agar masyarakat menjalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Dia mengajak jemaatnya mewaspadai penyebaran hoaks terkait pandemi.

“Jangan mengikuti hoaks-hoaks itu. Itu yang akan memberikan pengaruh bagi kita, sudah takut semakin takut. Tambah takut, imunnya akan turun,” kata Pendeta Monica. Dia meyakini apa yang terjadi saat ini adalah anugerah Tuhan dan masyarakat tinggal bekerja sama dengan pemerintah.

“Umat Kristen harus ikut peraturan pemerintah karena itu adalah bagian dari amahnya yang telah diberikan kepada kita semua,” katanya.

Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Beth-El Magelang diperkirakan dibangun bersamaan dengan pengesahan kota Magelang sebagai ibu kota Karesidenan Kedu (Besluit van Comissaris General der Nederlandsch Indie tanggal 14 Maret 1817 Nomor 4).

Gereja kemudian dikelola oleh De Indische Kerk (sebelumnya bernama De Protestantche Kerk), institusi perwalian gereja Protestan yang didirikan di Ambon, Maluku tahun 1605. Pada masa pendudukan Belanda, gereja ini khusus diperuntukan untuk jemaat Kristen Protestan warga Eropa dan warga Ambon yang saat itu banyak menjadi serdadu.

Hal itu yang menyebabkan GPIB Beth-El Magelang dulu sering disebut sebagai gereja Ambon. Sedangkan jemaat pribumi dibangunkan gereja lainya di daerah Kebonpolo yang didirikan tahun 1927. Pasca kemerdekaan Indonesia, De Indische Kerk melepas tanggung jawab pengelolaan gereja dan menyerahkannya ke De Protestansche Kerk in Westelijk Indonesia (GPIB) pada 31 Oktober 1948.

Sejauh catatan sejarah yang diketahui, bangunan gereja GPIB Beth-El Magelang belum pernah dipugar. Perawatan gedung hanya sebatas renovasi ringan dan beberapa kali pengecatan ulang.

Editor : Agustinus Hari

Barta1.Com
Tags: GPIB Beth-El Magelang
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Piala Dunia U-20 di Indonesia Ditunda Gara-gara Covid-19

Piala Dunia U-20 di Indonesia Ditunda Gara-gara Covid-19

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Supriyadi Pangellu: Pak Gubernur, Evaluasi Dulu Kinerja Calon Sekprov! 2 Mei 2026
  • Pemkot Kotamobagu Sebut Perda APBD 2026 Sudah Lolos Evaluasi Gubernur 2 Mei 2026
  • Pemkab Sangihe Gelar Layanan Terpadu di Pulau Kalama 2 Mei 2026
  • BNPB ke Bupati Sitaro: Jangan Intervensi Belanja Material! 2 Mei 2026
  • Polisi Fasilitasi Perdamaian Dua Kelompok Pemuda di Kota Bitung 1 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In