Talaud, Barta1.com – Pembangunan Gedung Rawat Inap Puskesmas Kakorotan, Kecamatan Nanusa, berbandrol miliar rupiah diduga menjadi lahan meraup keuntungan bagi segelintir orang. Gedung yang pekerjaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Kesehatan tahun 2019 ini sudah dilakukan proses provisional hand over (PHO) atau diserahterimakan.
Namun, kondisi di lapangan belum mencapai 100% pekerjaan selesai. Pasalnya, masih terdapat beberapa item pekerjaan yang belum dikerjakan.
Penelusuran di lapangan, diantaranya pengecatan dinding, pasangan profil gypsum, pengecatan plafon, mata kran, westafel dan beberapa item pekerjaan lainnya. Bahkan, kondisi dalam gedung puskesmas tersebut sudah becek dan berlumut karena saat hujan, air bisa tembus, mengalir dari dinding dan masuk ke dalam ruangan.
Rein Ria, aktivis asal Kakorotan, dengan tegas meminta para pelanggar aturan dalam pelaksanaan proyek tersebut segera ditindak tegas. “Saya berharap adanya tindak lanjut pemeriksaan yang transparan dari Pemda Talaud serta pihak penegak hukum. Dan menindak tegas kontraktor,” tutur Ria.
Sebagai anak Kakorotan dia berharap fasilitas tersebut segera dirampungkan dan digunakan. “Jika ada pengawasan yang tidak maksimal dari instansi teknis perlu ditindak dan diberi sanksi,” ungkapnya.
Ketua KPW PRD Sulut, Jim R Tindi menanggapi serius persoalan ini. Ia juga menegaskan, aparat penegak hukum dalam hal ini Kejaksaan segera menindak tegas hal tersebut.
“Kalau melihat kondisi puskesmas seperti itu, saya kira itu bukan hanya terjadi di Pulau Kakorotan. Di Karatung juga ada puskesmas yang belum selesai sampai sekarang termasuk ipal yang masih bermasalah. Saya mendesak aparat penegak hukum harusnya menjemput bola. Sebagai putra Nanusa, saya menegaskan, jangan karena ini di pulau terluar terus terkesan sulit sehingga proyek-proyek di pulau terluar ini menjadi sarang para koruptor yang meraup keuntungan pribadi,” tegasnya.
Kepala Puskesmas (Kapus) Kakorotan, Oktaviyanto Malaa, saat ditanyakan mengenai beberapa jenis barang yang tidak terpasang, mengatakan ada beberapa yang sebelumnya sudah terpasang namun hilang. “Seperti pompa, mata kran dan lampu. Itu sudah terpasang namun hilang,” ujar Malaa.
Ia juga mengatakan, secepatnya ia akan membenahi persoalan tersebut, termasuk mengganti barang yang hilang dan akan berkantor di sana. “Kalo urusan di sini so beres, kita ke sana membenahi. Agar segera bisa bekantor. Termasuk cat dan pompa. Kalau pompa sudah beli pompa baru,” ungkap Malaa.
Sering material seperti pasir terlambat di kapal. Waktu lalu terlambat karena kapal tidak mau muat. Terpaksa pasir saleng ulang di feri. Pasir sudah di tahuna, dan balik lagi ke Bitung
Kadis Kesehatan Talaud, dr Kery Monangin menerangkan duduk persoalan yang terjadi saat pembangunan tersebut sedang berlangsung. “Ada kan tu paving di belakang yang dibongkar. Kita bongkar waktu pasang alat pipa itu. Itu kan sudah jadi duluan, tapi karena pasang pipa dari jaringan ke gedung, terpaksa pipa itu dibuka dulu. Seharusnya pasang ulang. Tukang pulang Natal itu, sudah tidak balik. Balon lampu juga banyak yang ilang,” kata Kadis.
Terkait pengoperasian puskesmas dia mengatakan, semua akan dirampungkan dan akan dioperasikan dalan waktu dekat, tetapi masih terkendala dengan situasi.
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post