Memilih jalan kesenian bukanlah hal tak beresiko. Namun ia tegas melaluinya, kerena, makna-makna kehidupan tak sekadar bilangan ekonomi. Ia memilih menjangkau kebahagiaan lewat jembatan estetika.
Julius Raymond Rorimpandey. Bertemu lelaki bertubuh gempal ini, pertama-tama kita dikesankan oleh gestiknya. Ia memang seorang aktor dengan kemampuan akting komikal yang memikat. Selain di panggung teater, ia juga eksis di sinetron dan film.
Di Manado ia akrab disapa dengan nama panggilan Inyo. Lahir di Manado, 5 Juli 1962. Pendidikan: SD 1974, SMP 1977, SMA 1981. Pernah kuliah di UKIT Fakultas Teologia. Pernah Kuliah di UKRIDA Jakarta Fakultas Psikologi dan Ekonomi. Namun bangku-bangku kuliah itu kemudian ditinggalkannya kerena ia memilih berkesenian.
Menikah di Manado dengan Deisy Elsje Kindangen pada 8 Agustus 1991 dan dikaruniai 2 orang anak: Oktaviany Insy Rorimpandey dan Prestika Dramawati Rorimpandey. Saat ini ia memiliki 2 orang cucu yaitu Shalomitha dan Sharon.
Jalan kesenian pilihannya itu bermula sejak belia, lewat sebuah pentas tonel di Gereja GMIM Galilea Teling. Lalu pada setiap perayaan gereja lagi-lagi terlibat pentas tonel hingga lulus SMP Negeri 2 Manado.
Tahun 1975 masuk SMA PSKD (Perkumpulan Sekolah Kristen Djakarta). Sejak masuk SMA PSKD ia terlibat kegiatan eskul drama/ teater sekolah dan sempat pentas 6 kali. Ketika itu juga sempat terlibat sebagai figuran dalam film yang disutradarai Frank Rorimpandey “Puspita Taman Hati”. Kemudian bermain dalam beberapa filmnya Frank lainnya.
Setelah lulus SMA, pulang ke Manado masuk UKIT Fakultas Teologia hanya sampai Tingkat 1. Kembali ke Jakarta dan masuk di UKRIDA Fakultas Psikologi hanya 1 tahun dan pindah di Fakultas Ekonomi hanya 1 tahun pula, karena keterpanggilan jiwa di bidang Seni.
Ketika itu orang tuanya sempat tidak setuju, sehingga ia harus pulang Manando. Kemudian bekerja di Direktorat Agraria Provinsi Sulut (saat ini BPN). Dengan aktifitas kantoran, ia bertemu dengan dramawan Fredy Pangalila. Mulai saat itu, ia terlibat serius dalam pelatihan teater dengan Fredy, baik pementasan sampai festival Pertujukan Rakyat Departemen Penerangan (Deppen).
Ia sempat melatih Teater di Akademi Perawat (Akper) ketika itu Rumah Sakit masih Gunung Wenang. Juga melatih teater di SPK ( Sekolah Perawat Kesehatan) Teling Manado dan beberapa kali pentas dalam acara Keperaratan. Sementara melatih di SPK, ia bertemu tokoh teater Sulut Masry Paturusi. Ketika itu Masry adalah Kepala Seksi Pertujukkan Rakyak di Deppen Sulut. Sejak itulah ia ikut pentas dengan kelompoknya Deppen. Di Deppen ia digodok dan berguru pada dramawan Richard Rhemrev lewat kegiatan reguler Pertunjukan Rakyat.
Bersama Richard Rhemrev, ia intens bergiat di panggung pementasan, dan berlakon dalam drama-drama TVRI Manado. Menjadi aktor tetap dalam mata acara TVRI Manado “Ruang Kamtibmas” bekerjasama dengan Humas Polda Sulut.
Dengan merebaknya stasiun televisi di Indonesia, membuat dia kerap main dalam berbagai sinetron. Bersama sutradara film Jeffry Luntungan, ia terlibat produksi serial “Mikro Om Alo” sebagai pemeran utama.
Dengan dramawan Frangky Kalumata, ia ikut berteater di Taman Budaya Sulut. Mengikuti pentas temu Taman Budaya di Samarinda, Kalimantan Timur. Lalu di Pontianak, Bandung dan Jakarta.
Ia juga sempat bergiat bersama dramawan Erick MF Dajoh di Jakarta pada 1994. Ikut beberapa kali dalam hajatan Balai Teater yang digawangi Dajoh di Manado dan Jakarta. Sepi kegiatan Balai Teater, ia ikut mendirikan Teater POOT diasuh Remi Sylado (Jappy Panda Abdeil Tambajong).
Awal pementasan Teater POOT bekerjasama ALUMANDO dengan lakon “Samua Ada Bae”. Di teater POOT ia tampil bersama Donna Keles, Josua Pandelaki, Ermi Kulit, Fonny Sumlang, Klono Gambuh, Imam Bumiayu, Pitres Sombowadile.
Ia kemudian kembali ke Manado pada tahun 1995 dan menjalani karier sebagai jurnalis hingga saat ini di sebuah media lokal. Kendati begitu, ia masih saja aktif dalam berbagai produksi film di Sulawesi Utara baik oleh rumah produksi nasional dan daerah.
Penulis: Iverdixon Tinungki


Discussion about this post