• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Amburara, Kayu Bakar Alternatif dan Perekat Budaya Baku Tolong di Pulau Kabaruan

by Ady Putong
11 September 2019
in Budaya, Kultur
0
Amburara, Kayu Bakar Alternatif dan Perekat Budaya Baku Tolong di Pulau Kabaruan

Beberapa warga Pulau Kabaruan tengah melakukan aktivitas bakore kopra. Tempurung dan sabut kelapa dipisahkan dan dijadikan pengganti kayu bakar. (foto: Evan/Barta1)

137
SHARES
155
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Amburara (bahasa lokal) yaitu tempurung dan sabut kelapa yang dibelah untuk diambil daging kelapanya, menjadi kayu bakar alternatif masyarakat Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Tidak seperti proses pengolahan daging kelapa menjadi kopra pada umumnya yakni sabut kelapa dipisahkan dari tempurung, masyarakat Kabaruan memilih membelah langsung buah kelapa. Hal ini bertujuan, selain mempercepat proses pembuatan kopra, Amburara bisa digunakan sebagai pengganti kayu bakar yang digunakan sehari-hari.

Seperti diungkapkan warga, Amburara menjadi kayu bakar alternatif karena mudah diperoleh dan daya nyalanya lebih lama dari kayu.

Abrianto Taarega salah seorang pemuda yang dijumpai saat sedang melakukan aktifitas bakore kopra mengatakan, Amburara sangat membantu masyarakat dalam sebagai bahan bakar aktivitas rumah tangga sehari-hari seperti memasak.

“Selain gampang mo dapa tu Amburara itu irit. Jadi bagus kalo jaga pake hari-hari,” kata pemuda yang akrab disapa Anto ini, Rabu (11/09/2019).

Hal ini diamini oleh Erni Essing salah seorang ibu rumah tangga. “Memang Amburara ini pas sekali digunakan untuk memasak. Bukan cuma untuk memasak makanan, Amburara ini juga bagus dipakai untuk merebus air. Apalagi sebagian besar warga mengonsumsi air minum yang direbus sendiri,” jelas Erni.

Candra Essing warga Pulau Kabaruan lainnya menerangkan, manfaat lain dari Amburara selain baik digunakan dalam aktifitas di dapur, Amburara ini dapat mengurangi perambahan hutan sebagai bahan kayu api.

“Jumnlah penebangan pohon untuk dijadikan kayu api mulai berkurang sejak warga menggunakan Amburara dalam memasak,” jelas Candra.

Tak hanya itu, Erens Gumansalangi pentua adat setempat menilai, proses mengeluarkan daging kelapa dari tempurung (Bakore kalapa) untuk menghasilkan Amburara ini menjadi perekat tali kekeluargaan. Pasalnya, dalam tahap ini warga datang berbondong-bondong ke lokasi tersebut untuk membantu.

“Warga akan datang membantu proses bakore kopra ini. Setelah itu, Amburara yang ada diberikan kepada warga yang datang untuk dibawa pulang sebagai bahan bakar di rumah masing-masing,” ujar Ratu Banua Kabaruan.

“Tetapi Amburara yang diberikan tersebut bukan untuk membayar tenaga warga dan bukan itu tujuan utama dari warga yang datang tersebut tetapi untuk membantu,” terang Ernes.

Lanjutnya, ketika mereka akan ba kopra, warga yang sebelumnya mereka bantu akan datang juga dan ikut membantu dan begitu seterusnya. Tradisi baku tolong ini tidak mengenal lokasi dimana proses bakore kopra ini dilaksanakan baik di kebun maupun di kampung. (*)

Peliput : Evan Taarae

Barta1.Com
Tags: amburaraKabaruanTALAUD
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
25 Anggota DPRD Mitra Resmi Bertugas

25 Anggota DPRD Mitra Resmi Bertugas

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Jeane Laluyan Soroti Anggaran Belanja Tak Terduga Rp5 Miliar untuk Tahun 2027 27 Oktober 2026
  • Prodi DIII Teknik Listrik Polimdo Optimistis Raih Akreditasi Unggul 27 Oktober 2026
  • Direktur Polimdo Maryke Alelo Tekankan Pentingnya Personal Branding kepada 814 Wisudawan 27 Oktober 2026
  • GM PLN UID Suluttenggo Perkuat Sinergi Strategis Bersama Stakeholder Kunci di Sulawesi Utara 27 Oktober 2026
  • Pemkab dan DPRD Sitaro Rapat Penyempurnaan Hasil Evaluasi RAPBD TA 2026 27 Oktober 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In