Oleh: Iverdixon Tinungki
Pada bagian awal tulisan ini, saya sadar, saya sangat provokatif menuding Pearly Eirene dan Latirka Toar sebagai sepasang manusia sedang dilanda cinta. Dan menurut Carl Gustav Jung, cinta itu sesuatu yang berbahaya.
Mengapa berbahaya? Menurut Jung, cinta sama saja dengan penyakit obsesif kompulsif. Cinta mengaburkan batasan antara kesehatan mental dan psikopatologi. Cinta melepaskan zat-zat kimia yang memicu hiperaktif, kesembronoan dan kegembiraan yang berlebih.
Baca Juga:
Dan, astaga! Baru satu jam setelah tulisan bagian pertama saya dilansir situs Barta1.com (26/8), dan dibaca ratusan viewers, actor penyandang gelar 2 titel sarjana Allan Zeffo Umboh yang ikut bermain dalam ‘Nyanyian Angsa” langsung menyerang saya di media social.
Allan –sapaan actor yang juga penyair ini— merasa, apa yang saya tulis, jauh dan menabrak esensi dan realitas pertunjukan yang bakal ditaja Walekofiesa, sebuah komunitas pekerja teater Manado, pada Pentas Sastra 2019 , Sabtu, 31 Agustus 2019, di aula Balai Bahasa Sulawesi Utara, jalan Diponegoro nomor 25 Manado, pukul 18.30 wita itu.
Beberapa jam kemudian, messenger saya kedap-kedip. Banyak kawan dalam pesan merasa khawatir dengan tulisan saya yang provokatif itu.
Kekhawatiran mereka mendasar, mengingat ada keterlibatan aktor besar dan salah satu pesohor teater Indonesia, Eric MF Dayoh, dalam gelaran tersebut, dan bahkan terlibat sebagai pemeran utama, Vasili Svietlovidoff. Mereka yakin, dengan segala kapasitas intelektualnya, Eric akan segera menerkam saya.
Apakah saya harus surut? Tidak! Karena, titik paling menarik dari drama-drama Chekhov adalah cinta.
Dan saya membayangkan Pearly Eirene dan Latirka Toar adalah bayangan lain dari dua tokoh Chekhov dalam ‘Nyanyian Angsa’ yakni Vasili Svietlovidoff, seorang komedian berumur 68 tahun dan Nikita Ivanitch, seorang promter (pembisik).
Mereka adalah para lansia yang penuh satire, dirubung persoalan psikiatri, tahanan masa lalu di tengah tubuh yang mulai rontok dihisap usur.
“Ketika baru-baru aku naik ke pentas, semasih gairah remaja bergejolak, aku ingat seorang wanita yang jatuh cinta karena aktingku. Dia sangat cantik, tinggi semampai, muda, suci, tak bercela, berseri-seri laksana fajar musim panas. Semuanya dapat tembus menyinari kegelapan malam.” Bukankah ini diucap Vasili Svietlovidoff, mengenang masa mudanya?
Namun apa yang ia alami saat berusia 68 tahun? “Dengan sangat riang mabuk kepayang, aku berlutut di hadapannya. Lalu aku mohon demi kebahagiaan, dan berkatalah ia: tinggalkan pentas! Kau mengerti? Dia dapat mencintai akting. Tetapi, buat mengawininya tidak!” keluh Svietlovidoff, menyentil cinta lamanya yang pergi begitu saja.
Bukankah benar, cinta ternyata sangat berbahaya, apalagi di usia 68 tahun. Menurut Carl Jung, cinta di usia ini hanya tamasya ke masa kanak-kanak, suatu dorongan untuk kembali ke suatu situasi intim ketika kita menyusu pada ibu dalam perasaan damai.
Sumpah! Aku tidak bermaksud jahat pada Pearly Eirene dan Latirka Toar yang saya sebut sebagai sepasang manusia yang sedang dilanda cinta. Tapi aku juga tak lupa pada kisah tragis Raja Edward III yang mengesampingkan seluruh negara untuk berpaling pada wanita yang dicintainya.
Mengapa saya harus meminjam Carl Jung untuk menganalisis cinta berbahaya Pearly Eirene dan Latirka Toar? Dalam “Memories Dreams Reflections” –buku ditulis, Carl Gustav Jung– dia dikenal sebagai seorang psikiater Swiss dan perintis psikologi analitik. Pendekatan Jung terhadap psikologi sangat unik dan berpengaruh luas, ditekankan pada pemahaman “psyche” melalui eksplorasi dunia mimpi, seni, mitologi, agama serta filsafat.
Bagi Jung, kepribadian merupakan kombinasi yang mencakup perasaan dan tingkah laku, baik sadar maupun tidak sadar. Jung menekankan pentingnya keseimbangan dan harmoni. Ia memperingatkan bahwa manusia modern terlalu banyak mengandalkan sains dan logika, bahwa manusia akan mendapat manfaat dari pengintegrasian spiritualitas serta apresiasi terhadap dunia bawah sadar.
Dan Jung mengatakan, cinta itu umurnya tidak panjang. Seorang lelaki yang mengatakan “engkau cantik sekali hari ini” kepada kekasihnya, setelah 365 hari kemudian ia akan merasa kecantikan kekasihnya datar-datar saja.
“Cinta tak lebih dari nyala caudate nucleus dalam pangkalan saraf yang jejak kimiawinya sama dengan efek obat gangguan jiwa,” tulis Jung.
Dan saya yakin Pearly Eirene dan Latirka Toar menyadari, di mana cinta paling membara yang mengantar suatu pasangan dalam perkawinan sekali pun, usianya hanya empat tahun. Ya… hanya empat tahun. Lalu, pudar, dan merosot sekadar hubungan persahabatan, atau bahkan kemitraan ekonomi dua orang yang terikat rekening bank.
Sebagaimana sudah saya sentil pada bagian awal tulisan, drama-drama Chekhov adalah cerita tentang kehilangan cinta, cinta pada waktu yang salah dan cinta yang tidak pernah didapat.
Apakah dapat diramal, cinta Pearly Eirene dan Latirka Toar akan berakhir dalam suatu situasi tragis? Saya akan menuliskannya untuk anda pada seri tulisan berikutnya. (*)


Discussion about this post