Manado, Barta1.com — Tak banyak yang bisa merayakan hidup layaknya Asep Hidayat. Lelaki 58 tahun asal Jawa Barat ini telah melewati 4 dasawarsa usianya dalam dunia tanpa listrik. Asep memilih bersahabat dengan alam dan mengawal kelestarian ekosistem di Gunung Cakrabuana.
Maka keseharian hidup Ketua Komunitas Lestari Alam Terpadu Jawa Barat ini jauh dari keuntungan yang bisa didapatkan dari beragam teknologi yang bisa didapat dari tenaga listrik. Apakah dia merasa kesulitan? Tidak, Asep justru gembira dengan pilihannya.
“Saya mencintai alam karena ini pemberian Tuhan,” kata Asep yang diundang sebagai salah satu pembicara dalam diskusi lintas pihak dengan Komunitas Peduli Sungai (KPS) Sulawesi Utara, di Swiss-belhotel Maleosan Manado, Kamis (08/08/2019).
KPS sendiri merupakan mitra kerja Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, lembaga pemerintah pusat yang berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Menjaga alam juga wajib dengan sikap dan penguasaan diri yang sebenar-benarnya. Karena itu saat melakukan baktinya pada alam, Asep tak segan mengkritisi kekuatan yang jauh lebih besar dari dia. Pemerintah misalnya, atau juga pemilik modal.
“Karena dengan menjaga alam sama dengan kita menjalankan tugas yang Tuhan perintahkan, untuk itu saya memilih menjadi musuh para perusak alam karena kalau terjadi kerusakan akibatnya akan dirasakan anak-cucu,” jelas Asep
Pada Barta1 usai diskusi Asep menyatakan pemangku kebijakan di Sulut sebenarnya lebih bersahabat dibanding daerah asalnya.
“Saya percaya ke depannya Sulut, dalam hal ini Kota Manado akan lebih baik, ketika ada kerja sama yang baik dari KPS,” sebutnya.
“Yang penting kerja saja, jangan dulu pikirkan rupiah,” pesannya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post