Oleh: Veldy Reynold Umbas
Kemenangan Jokowi, usai putusan Mahkamah Konstitusi (MK), menegaskan kebijakan luar negeri Jokowi 5 Tahun silam akan berlanjut terus apakah menguntungkan Amerika atau China. Apalagi menariknya, Jokowi menang justru di tengah memuncaknya ketegangan perang dagang Amerika dan China belakangan ini.
Pidato kemenangan pasca keputusan MK justru dilakukan di depan tangga pesawat sesaat sebelum Jokowi bertolak menuju KTT G20, sebuah konferensi tingkat tinggi negara-negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia di mana Indonesia salah satu negara anggota.
Jokowi memang boleh dibilang piawai memainkan dawai politik luar negeri dengan harmonis. Saat di ruang tunggu, Jokowi terlihat akrab dengan Donald Trump yang bahkan santai menerima permen pemberian Trump.
Tapi, sebelum masuk ke ruangan sidang, Jokowi tak luput menyalami Xi Jingping sebagai bentuk keakraban pada negara raksasa dagang dunia tersebut.
Beberapa hari sebelum G20, sejumlah media internasional sudah menyorot soal isu perang dagang AS-China dan semua mata seolah-olah memelototi Trump dan Xi. Lalu yang lain hanyalah sekadar bagian percikan kecil dari benturan besar dua kekuatan ekonomi dunia.
Eeits, sebentar dulu. Donnald Trump, yang konon sangat temperamental, justru berusaha terlihat akrab dengan Jokowi. Ingat permen tadi. Namun jangan salah, bukanlah Jokowi kalau langsung jumawa lantaran Presiden negara adidaya sekaliber Trump berusaha baik-baik pada tukang mebel asal Solo ini.
Kembali ke tahun 2015, ketika Jokowi berkunjung di Amerika di mana sebuah kunjungan yang sangat singkat karena masalah asap yang sangat meluas di Sumatra. Padahal, isu yang merebak ketika itu adalah AS berusaha merayu Jokowi agar Indonesia masuk menjadi negara anggota Trans Pasific Partnership (TPP) di mana Amerika ketika itu masih menjadi ketuanya. Dan China memang menolak masuk dalam TPP.
Namun sayangnya Jokowi dengan diplomatif menolak karena dianggap kurang menguntungkan bagi Indonesia. Benar saja, di tahun 2017, di awal-awal Administrasi Trump justru menarik diri dari TPP tersebut.
Padahal, isu Pasific memang menarik karena rata-rata negara besar dunia justru berada pada wilayah pacific termasuk Amerika dan China. Jadilah tiga negara besar dalam lingkar bibir pacific, seperti Amerika, China dan Indonesia justru bukan menjadi anggota TPP. Ini tentu menarik karena, justru sekarang ini sedang terjadi perang dagang antara Amerika dan China yang belakangan ini tensinya mulai memuncak.
Di KTT G-20 ini, Jokowi dengan kemenangan pasca keputusan MK pasti lebih percaya diri dan dengan kepala tegak akan membawa martabat negara besar Indonesia, bukan hanya diperhintungkan tapi menjadi negara penentu kebijakan internasional. Karena itu, Trump dan Xi pasti akan berusaha memikat hati si kurus tapi enerjik itu.
Dan, saat saya melihat Jokowi di antara Trump dan Xi pada KTT G-20 itu, saya sebagai rakyat kecil yang memilihnya pada 17 April lalu akan tersenyum lebar dengan satu tarikan nafas panjang dan mata yang tak berkedip sedikitpun, sambil berkata, “memang ndak salah pilih.” Selamat Pakde, Jokowi, jayalah bangsa Indonesia. Merdeka. (*)
Penulis, wartawan senior serta pemerhati masalah politik dan pemerintahan

Discussion about this post