Manganitu, sebuah kerajaan bahari yang banyak dicatat berbagai literatur Eropa, baik oleh para misionari dan juga pelaut-pelaut era Spanyol, Portugis dan VOC Belanda. Kerajaan ini eksis selama 344 tahun.
Berdiri pada tahun 1600 hingga 1944. Didirikan oleh raja Boo atau disebut juga Liung Tolosang (1600-1630). Pusat pemerintahannya di Kauhis, pulau Sangihe. Berikut ini kami sajikan urutan raja-raja yang pernah memimpin kerajaan tersebut, sebagaimana lansiran situs Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia:
List of kings Manganitu
1) 1600-1645: Tolosang (Liungtolosang)
Raja pertama kerajaan Manganitu yang berpusat di Bowongtiwo.
2) 1645-1670: Tompoliu (putra raja Tolosang)
Memindahkan pusta kerajaan di Tatahikang. Meninggal tahun 1670 dan dimakamkan di Tiala.
3) 1670-1675: Bataha Santiago/ nama sasahara (Putra raja Tompoliu)
Nama Baptis Don Sint Jugov Santiago. Lahir Tahun 1622. Memindahkan pusat kerajaan dari Tatahikang kembali ke Bowongtiwo.
4) 1675-1694: Charles Diamanti ( Adik dari Bataha Santiago)
Memindahkan pusat kerajaan dari Bowongtiwo ke Paghulu. Raja ini menandatangani kontrak dengan Belanda 10 Desember 1677. Pada saat inilah Kerajaan Manganitu berada dibawah pengaruh Belanda.
5) 1694-1725: Marthin Joutulong Takaengetang
Putra dari Raja Tabukan bernama Don Fransiskus Makaampo Yuda I. Pada saat itu pusat kerajaan dipindahkan lagi dari Paghulu ke Tatahikang. Pada masa ini Kerajaan Manganitu mendapat wilayah baru di bagian Manganitu Selatan, dengan batas dari Batumpuikang sampai ke Bitungmahangu. Raja Takaengetang memerintahkan rakyat menggali terusan di daerah Batunang dan menjadi awal kelahiran pulau Batunderang.
6) 1725-1750: Marthin Don Lazaru
Pada masa ini pusat kerajaan dipindahkan dari Tatahikang ke Paghulu. Pada saat yang sama, Paghulu diubah menjadi Karatung.
7) 1750-1770: Salmon Grahun Darunaling Katiandagho
Pada masa ini pusat kerajaan dipindahkan dari Paghulu ke Manganitu, Raja inilah yang memprakarsai penimbunan rawa-rawa dengan batu karang.
8) 1770-1785: Marthin Lombangsuwu Katiandagho
Putra dari Raja S.G.D. Katiandagho. Meninggal di pulau Balut karena membantu saudaranya yang sedang berperang.
9) 1785-1792: Daniel Katiandagho Darunualing II
Dimakamkan di Tabukan.
10) 1785-1792: Bagunda Katiandagho
Adik dari raja Daniel Katiandagho.
11) 1817-1848: Dirk Mokodompis Lokombanua III
Putra dari Jogugu Darongke.
12) 1846-1855: Jacob Bastian Tamarol – Tampungan
13) 1855-1860: Hendrik Corneles Jacob Tamarol – Nonde
Makamnya ada dibawah mimbar Gereja Petra Manganitu.
14) 1860-1864: Jacob Laurens Tamarol – Kasehang
Dimakamkan di Lapepahe – Manganitu selatan.
15) 1864-1880: Manuel Mokodompis Hariraya – Tanawata
Setelah Raja ini wafat maka kerajaan Managanitu diperintah oleh: 5 orang presidensi pengganti Raja: After King‘s death, the kingdom was ruled by Managanitu: 5 people substitute Kings:
1) 1880-1881: S. Tingkue – Pontolaeng
2) 1881-1882: J. Makahekung – Manginteno
3) 1882-1883: D. Katiandagho – Kirahang
4) 1883-1886: Salmon Katiandagho Wintuaheng
5) 1886-1892: Lambert Pontoh
Setelah melalui pemerintahan presidensi pengganti raja maka diadakan lagi pengangkatan raja.
After the reign of king substitutes, there were again kings.
1) 1892-1905: J. E. Mokodompis Tampilang
2) 1905-1944: Wellem Manuel Pandensolang Mokodompis
3) 1945-1949: Alexander Abrosius Darondo (Ambong)
Pada tahun 1912 Wilayah kejoguguan Tamako dari kerajaan Siau diserahkan kepada Kerajaan Manganitu. Oleh Raja Wellem M.P. Mokodompis, tahun 1916 pusat kerajaan Manganitu dipindahkan ke Tamako. Nama kerajaan berubah menjadi Kerajaan Manganitu Tamako.
Willem M.P. Mokodompis menjabat raja Tahuna pada tahun 1928-1930 karena raja Christian Ponto dibuang Belanda ke Luwuk – Sulawesi Tengah.
Tahun 1944 raja Willem M. P. Mokodompis ditangkap oleh tentara Jepang bernama Yamamoto dengan alasan Raja Willem M.P. Mokodompis adalah mata-mata Belanda. 19 Januari 1945 dipancung kepalanya oleh tentara Jepang di tanjung Tahuna.
Diangkat menjadi raja Manganitu setelah pensiun dari Jogugu Manganitu, sesudah Raja Darondo tidak ada lagi pengangkatan Raja. (sumber: sultansinindonesieblog.wordpress.com)
Editor: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post