• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, Juni 16, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sastra

Dari Siwoghi ke Sawangino, Lanskap Tagulandang Biaro Dalam Sajak

by Agustinus Hari
29 Mei 2019
in Sastra
0
Dari Siwoghi ke Sawangino, Lanskap Tagulandang Biaro Dalam Sajak
166
SHARES
193
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sajak-Sajak Iverdixon Tinungki

LEMBAH SIWOGHI

kabut turun di Siwoghi
di perempatan waktu mendaki
sebuah prasasti memahati senja di Buha
orangorang dusun
menyeberangkan mimpi

andaikan pucukpucuk Daihango
berbunga putih seputih puisi
ia akan melukisi teduh lautan
tegar merendam ombak
kristal garam

antara mimpi dan keteduhan
lelakilelaki selalu turun mendayung
di kaki gunung mencuram ini
sebijak penempah sejati
membentuk cekung langit
segaris pelangi

kabut pun turun melumat airmata
menjadi bintik kisah
entah kemana senja membawa
pesan yang dirajutnya

dan seperti kamu, aku mau menulis;
“dalai abekaroro, mapia kadeho”
(jahat jangan berhinggap, baik biarlah bersinggah)

di setiap lembar airmata yang memar
aku mencari muara di balik langit memerah

BUNGA GANOPE
(Perjalanan di Buang)

serimba apapun pengelanaan
aku selalu tiba pada mekarmu
pulaupulau dengan halaman tanah berbatu
menumbuhi Ganope di jejak perahu

pulaupulau selalu indah
taburan warna sederhana
bungabunga Ganope merimbun
memanggil hujan melintas khatulistiwa
turun di pelepah sagu

ketika itu anakanak akan bermain dengan lugu
seperti Ganope berbagi wangi kau hidu
di bawa perahu ke semua ujung waktu

PANTAI BUHIAS

cintaku beri aku tinta dan pena
buat menulis kilau tawa nelayan
usai menjaring kegembiraan di luas samudera

mereka kekasih laut
yang terus menempa ombak
dalam hidupnya

pantaipantai berias kecantikan
derap dayung dan mesin
selalu melabuh seperti nyanyian
di unggun kehidupan

laut yang garang berbagi teduh pagi ini
bayangan mahkota karang
tampak di mata langit bening dan terang

aku menemukan pasir dengan jutaan jejak
yang pergi dan kemari
menyempurnakan laut mengapungkan perahu
yang selalu tiba di pantai hidupku

MINANGA

di Palangka pohon randu tumbuh dan rentah
memandang bulan sore terbit di Bongkongkaka

tujuh bukit menangis mengalirkan air sungai Minanga
buat kekasihnya, teluk yang menyaga

hatiku bersampan di kebeningan kisah Sinandiri
gadis yang terus bernyanyi di teluk menanti kekasih

di tengah kampung orang mengali akar batu Minanga
menemukan Minanga menjalar dalam darahnya

sebuah pelabuhan telah berdiri
melabuhkan sejarah pelayar
mencari Sinandiri hingga ke bukit Siwowi

di puncak Fandorong langit begitu bersih
melukis legenda kekasih yang sepi sendiri

NELAYAN BIARO

mereka telah biasa
menghitung bulat purnama
bagai memutar jantera
di pasang surut hidup

mereka telah biasa
menaru musim di hati
ditisiknya sendiri
buat penat berhenti

padang nelayan adalah kelapangan dada
menerima waktu dan kisahnya
hingga tiba isyarat tak saja beban
riang pun pergi

kecipak air laut pada kayuhan dayung
mengisahkan asin yang sama
kecuali derai tawa, seperti ombak
punya waktu memecah dan redah

mereka telah biasa
mendengar kabarkabar
penghiburan mengibar kebohongan
kepalsuan
tetang nasib nelayan digadai
tak pernah bersampai
kecuali laut biru sabar
menaikan pasang, merebahkan surut
mengajari hidup tak perlu berebut

mereka telah biasa
menjinakkan daya kehidupan
dengan nyanyian berabadabad
dinyanyikan dengan kesabaran yang sama

MENYUSURI HASI

akan kunamai setiap pesisir
sambil menandai musim
kapan arus dan angin kembali
hingga tujuan dan waktu punya peta
dan makna sendiri

di usia perjalanan jelang senja
aku menemukan barisbaris lithany laut
pada perahuperahu mengapung

dari pulau ke pulau mereka berlayar
hingga pelayaran menjadi kekal
dalam hidup mati

ya Allah maha nangkhoda
telah Kau tetapkan hidup
adalah pelayaran

di laut yang kususur ini
kususur pula jalan
menuju dikau

MEMANDANG PULAU RUANG

pada jazirah batubatu hitam
dan pasir yang legam
kucium bau api yang geram

di sini berabadabad lahar selalu mengalir
tapi berabadabad hidup tak kalah mendesir

di pantaipantai Laimpatehi dan Pumpente
nelayannelayan membangun perahu merajut jala
siapa mengajar daya bertahan selain Tuhan
dimana hidup tak boleh menyerah

dan aku memandang orangorang terus mendayung
di depan pulau dengan gunung puncaknya terpancung
dalam semangat tak pernah murung

DI PERKEBUNAN BOWOLEU

di perkebunan Salak Bowoleu
aku menimba manismu

tak lagi kupikir duri merimpang jalan
sebab cinta selalu menemukan pulang

aku terpana pada ketiak daun
yang memunculkan tongkol
dengan selindris bunga
mari kawinkan lagi hatiku

di sini kumbangkumbang bijak
menjalani ritus alam
menikahkan serbuk sari
menjadi buah yang sepat
tapi denganmu hidup terasa lengkap

di bawah atap palma ini
bagaimanapun asamnya hidupku
cuma padamu cintaku merimbun

DI BUKIT PASIR RUANG

di bukit pasir pulau Ruang
anak Maleo menggali jalan menuju hutan
hutan telah habis dibabat orang

ia terbang ke langit mencari induknya
di langit Elang mengintainya

ia kembali ke liang pasir yang menetaskannya
tapi tak ditemukanya rumah baginya
kecuali desis ular terdengar lapar
di balik gundukkan semak liar

di iris matanya yang merah kecoklatan
kubaca isyarat gelisah tergenang bagai lautan
jambulnya mengeras, paruhnya berwarna jingga
membayangkan kenyamanan hidup di dalam cangkang

tapi sekali terlahir pilihan tinggal hidup atau mati
ia pun terbang ke sana ke mari menandai benua
di atas peta panas kawah yang bergerak membentuk lava

mahluk fana, akan mengerti dimana hidup tak lain
padang pertarungan penuh luka nestapa

KISAH PELAUT TUA

(dalam pelayaran dari Buang ke Sawangino
Bersama Opa Hersen)

ia bercerita tentang kekasihnya laut
dengan bau garam merebahkannya di malam
tahuntahun percintaan sarat pelayaran
seperti perempuan katanya, gelombang itu tangan

pada gelombang
ia menemukan taman samudera
tak berbatas cakrawala
terus menjelajah menuju kaki purnama
dimana di sana cinta lebih bercahaya

pulau dan benua cuma tempat mengaso
begitu juga gadisgadis cantik berbagi gincu di dada

pelaut itu pengelana, sahabat badai langit tanpa cahaya
jangan bertanya berapa gadis telah dicumbunya
atau berapa banyak minuman telah dikecapnya
ia akan berkata: semua tak sebanding lautan
yang membuat dahaga sesungguhnya terpuaskan

empat puluh lima tahun pelayaran menjadikan port seakan stasiun
siapa tak ingin mencium bau garam di selangkangan laut
tanpa laut pulau dan benua tak saling berpaut

tapi, ia harus berpisah dengan kekasihnya karena usia, katanya
laut dan pelaut ternyata cinta ditakdir tak selalu bersama

PESISIR BALEHUMARA

tuanglah samudera ke dalam gelas hingga penuh
biar kusesap nyeri ampas sejarahku, juga sejarahmu

Balehumara dan bau bidadari turun dari perahu
dengan derap penari istana kembang melati
bibirnya ranum muram masa lalu

di depan, pulau Ruang mengapung. ada jejak pisau
darah hitam mengguris di kening laut tua itu

ketika sisa panoramic memapar sisi abadi dari ingatan
berkata: di sini langit selalu tenang menghapus merah senja
menidurkan pasir lelap diusap debur ombak
begitu nelayan belajar ikhlas itu bukan kalah

lalu menyembur harum Roa di asap panggang perapian
juga derak bunyi kayu bakar menjelma renung masa kini
bukankah api berkobar itu setua usia pesisir ini
jala dirajut dulu, kini masih ditebar hingga ke mimpimimpi

setidaknya kini antara luka pisau dan laut
kutemukan ruhku sendiri
menimang bulan sabar
membuka barisbaris cahaya.
sehari seinci
hingga purnama dulu
menyatu di bulat purnama hari ini

BAU GARAM DI LAMANGGO

aku mencium bau garam di Lamanggo
mencium pesan samudera di matamu
betapa luas bentang tantangan
di sini hidup tak lain mengasah keasinan

aku tiba di malam kental oleh cerita laut
bulan bundar bertengger di langit pulaunya
menerawang cahaya di pucuk bakau isyaratkan risau
melaburi perjalanan anakanak gelombang ke pulau

perahu dan kapal melabuh di Sawangino
juga cerita seberang bau parfummu
menerbangkan tekukur ke padang ilalang
hilang di balik gersang desa nelayan

kota dan kampung selalu berbeda
tak saja warna, juga nasibnya

nelayan berburu ikan terbang
memasang jaring di tengah malam
kutangkap dendang mereka
terjepit karang, tertampar ombak
pecah bagai butiran garam

KETIKA TEKUKUR PERGI

barisan tanjung di telukteluk ini adalah Biaro
tanah kolokolo dengan kisah pekur tekukur

ketika tekukur pergi
bijibiji hitam matang gugur sendiri
betapa sepi laut melipat bumi

aku melihat sepi di sepanjang padang karang
alangalang menguning di bawah batang pandan

“tekukurku dimana kau kini
kurindu pekurmu di malam murung”

jauh cintaku bersembunyi
di barisbaris bukit
di barisbaris laut
di barisbaris kenangan

MALAM DI PANTAI BUANG

serupa perahu
rindu mengapung
mendebur dan asin

pasir menggigil, sepi bertaring
menguliti jejak matahari kemarin
mengkilapkan rambutmu

berapa waktu aku tak bertemu
kecuali bertemu sepi selalu itu

di pucukpucuk ketapang gelap
deru perahu melintas
deru hati menetas
terbang bersama meteorit
lenyap di ladang samudera
gulita dan senyap

malam selalu runtuh
dalam ingatan
tentang matamu

Barta1.Com
Tags: biaroiverdixon tinungkiTagulandang
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Bongkar Peredaran Narkoba, Polisi Ini Diganjar Penghargaan

Bongkar Peredaran Narkoba, Polisi Ini Diganjar Penghargaan

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Politeknik Menguat Menjadi Universitas, Polimdo ? 16 Juni 2026
  • SMK Solagratia Tongkaina dan Polimdo MoA, Maryke Sampaikan 4 Poin Penting 16 Juni 2026
  • Setelah Dua Tahun Jadi Plt, Davidson Djarang Akhirnya Dilantik Pimpin Dukcapil Sangihe 15 Juni 2026
  • Kapolres Albert Zai Pimpin Peletakan Batu Pertama Bedah Rumah di Makawidey 15 Juni 2026
  • Michael Thungari Pastikan Seluruh Korban Gempa Sangihe Dapat Bantuan Darurat 15 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In