Sajak-Sajak Iverdixon Tinungki
LEMBAH SIWOGHI
kabut turun di Siwoghi
di perempatan waktu mendaki
sebuah prasasti memahati senja di Buha
orangorang dusun
menyeberangkan mimpi
andaikan pucukpucuk Daihango
berbunga putih seputih puisi
ia akan melukisi teduh lautan
tegar merendam ombak
kristal garam
antara mimpi dan keteduhan
lelakilelaki selalu turun mendayung
di kaki gunung mencuram ini
sebijak penempah sejati
membentuk cekung langit
segaris pelangi
kabut pun turun melumat airmata
menjadi bintik kisah
entah kemana senja membawa
pesan yang dirajutnya
dan seperti kamu, aku mau menulis;
“dalai abekaroro, mapia kadeho”
(jahat jangan berhinggap, baik biarlah bersinggah)
di setiap lembar airmata yang memar
aku mencari muara di balik langit memerah
BUNGA GANOPE
(Perjalanan di Buang)
serimba apapun pengelanaan
aku selalu tiba pada mekarmu
pulaupulau dengan halaman tanah berbatu
menumbuhi Ganope di jejak perahu
pulaupulau selalu indah
taburan warna sederhana
bungabunga Ganope merimbun
memanggil hujan melintas khatulistiwa
turun di pelepah sagu
ketika itu anakanak akan bermain dengan lugu
seperti Ganope berbagi wangi kau hidu
di bawa perahu ke semua ujung waktu
PANTAI BUHIAS
cintaku beri aku tinta dan pena
buat menulis kilau tawa nelayan
usai menjaring kegembiraan di luas samudera
mereka kekasih laut
yang terus menempa ombak
dalam hidupnya
pantaipantai berias kecantikan
derap dayung dan mesin
selalu melabuh seperti nyanyian
di unggun kehidupan
laut yang garang berbagi teduh pagi ini
bayangan mahkota karang
tampak di mata langit bening dan terang
aku menemukan pasir dengan jutaan jejak
yang pergi dan kemari
menyempurnakan laut mengapungkan perahu
yang selalu tiba di pantai hidupku
MINANGA
di Palangka pohon randu tumbuh dan rentah
memandang bulan sore terbit di Bongkongkaka
tujuh bukit menangis mengalirkan air sungai Minanga
buat kekasihnya, teluk yang menyaga
hatiku bersampan di kebeningan kisah Sinandiri
gadis yang terus bernyanyi di teluk menanti kekasih
di tengah kampung orang mengali akar batu Minanga
menemukan Minanga menjalar dalam darahnya
sebuah pelabuhan telah berdiri
melabuhkan sejarah pelayar
mencari Sinandiri hingga ke bukit Siwowi
di puncak Fandorong langit begitu bersih
melukis legenda kekasih yang sepi sendiri
NELAYAN BIARO
mereka telah biasa
menghitung bulat purnama
bagai memutar jantera
di pasang surut hidup
mereka telah biasa
menaru musim di hati
ditisiknya sendiri
buat penat berhenti
padang nelayan adalah kelapangan dada
menerima waktu dan kisahnya
hingga tiba isyarat tak saja beban
riang pun pergi
kecipak air laut pada kayuhan dayung
mengisahkan asin yang sama
kecuali derai tawa, seperti ombak
punya waktu memecah dan redah
mereka telah biasa
mendengar kabarkabar
penghiburan mengibar kebohongan
kepalsuan
tetang nasib nelayan digadai
tak pernah bersampai
kecuali laut biru sabar
menaikan pasang, merebahkan surut
mengajari hidup tak perlu berebut
mereka telah biasa
menjinakkan daya kehidupan
dengan nyanyian berabadabad
dinyanyikan dengan kesabaran yang sama
MENYUSURI HASI
akan kunamai setiap pesisir
sambil menandai musim
kapan arus dan angin kembali
hingga tujuan dan waktu punya peta
dan makna sendiri
di usia perjalanan jelang senja
aku menemukan barisbaris lithany laut
pada perahuperahu mengapung
dari pulau ke pulau mereka berlayar
hingga pelayaran menjadi kekal
dalam hidup mati
ya Allah maha nangkhoda
telah Kau tetapkan hidup
adalah pelayaran
di laut yang kususur ini
kususur pula jalan
menuju dikau
MEMANDANG PULAU RUANG
pada jazirah batubatu hitam
dan pasir yang legam
kucium bau api yang geram
di sini berabadabad lahar selalu mengalir
tapi berabadabad hidup tak kalah mendesir
di pantaipantai Laimpatehi dan Pumpente
nelayannelayan membangun perahu merajut jala
siapa mengajar daya bertahan selain Tuhan
dimana hidup tak boleh menyerah
dan aku memandang orangorang terus mendayung
di depan pulau dengan gunung puncaknya terpancung
dalam semangat tak pernah murung
DI PERKEBUNAN BOWOLEU
di perkebunan Salak Bowoleu
aku menimba manismu
tak lagi kupikir duri merimpang jalan
sebab cinta selalu menemukan pulang
aku terpana pada ketiak daun
yang memunculkan tongkol
dengan selindris bunga
mari kawinkan lagi hatiku
di sini kumbangkumbang bijak
menjalani ritus alam
menikahkan serbuk sari
menjadi buah yang sepat
tapi denganmu hidup terasa lengkap
di bawah atap palma ini
bagaimanapun asamnya hidupku
cuma padamu cintaku merimbun
DI BUKIT PASIR RUANG
di bukit pasir pulau Ruang
anak Maleo menggali jalan menuju hutan
hutan telah habis dibabat orang
ia terbang ke langit mencari induknya
di langit Elang mengintainya
ia kembali ke liang pasir yang menetaskannya
tapi tak ditemukanya rumah baginya
kecuali desis ular terdengar lapar
di balik gundukkan semak liar
di iris matanya yang merah kecoklatan
kubaca isyarat gelisah tergenang bagai lautan
jambulnya mengeras, paruhnya berwarna jingga
membayangkan kenyamanan hidup di dalam cangkang
tapi sekali terlahir pilihan tinggal hidup atau mati
ia pun terbang ke sana ke mari menandai benua
di atas peta panas kawah yang bergerak membentuk lava
mahluk fana, akan mengerti dimana hidup tak lain
padang pertarungan penuh luka nestapa
KISAH PELAUT TUA
(dalam pelayaran dari Buang ke Sawangino
Bersama Opa Hersen)
ia bercerita tentang kekasihnya laut
dengan bau garam merebahkannya di malam
tahuntahun percintaan sarat pelayaran
seperti perempuan katanya, gelombang itu tangan
pada gelombang
ia menemukan taman samudera
tak berbatas cakrawala
terus menjelajah menuju kaki purnama
dimana di sana cinta lebih bercahaya
pulau dan benua cuma tempat mengaso
begitu juga gadisgadis cantik berbagi gincu di dada
pelaut itu pengelana, sahabat badai langit tanpa cahaya
jangan bertanya berapa gadis telah dicumbunya
atau berapa banyak minuman telah dikecapnya
ia akan berkata: semua tak sebanding lautan
yang membuat dahaga sesungguhnya terpuaskan
empat puluh lima tahun pelayaran menjadikan port seakan stasiun
siapa tak ingin mencium bau garam di selangkangan laut
tanpa laut pulau dan benua tak saling berpaut
tapi, ia harus berpisah dengan kekasihnya karena usia, katanya
laut dan pelaut ternyata cinta ditakdir tak selalu bersama
PESISIR BALEHUMARA
tuanglah samudera ke dalam gelas hingga penuh
biar kusesap nyeri ampas sejarahku, juga sejarahmu
Balehumara dan bau bidadari turun dari perahu
dengan derap penari istana kembang melati
bibirnya ranum muram masa lalu
di depan, pulau Ruang mengapung. ada jejak pisau
darah hitam mengguris di kening laut tua itu
ketika sisa panoramic memapar sisi abadi dari ingatan
berkata: di sini langit selalu tenang menghapus merah senja
menidurkan pasir lelap diusap debur ombak
begitu nelayan belajar ikhlas itu bukan kalah
lalu menyembur harum Roa di asap panggang perapian
juga derak bunyi kayu bakar menjelma renung masa kini
bukankah api berkobar itu setua usia pesisir ini
jala dirajut dulu, kini masih ditebar hingga ke mimpimimpi
setidaknya kini antara luka pisau dan laut
kutemukan ruhku sendiri
menimang bulan sabar
membuka barisbaris cahaya.
sehari seinci
hingga purnama dulu
menyatu di bulat purnama hari ini
BAU GARAM DI LAMANGGO
aku mencium bau garam di Lamanggo
mencium pesan samudera di matamu
betapa luas bentang tantangan
di sini hidup tak lain mengasah keasinan
aku tiba di malam kental oleh cerita laut
bulan bundar bertengger di langit pulaunya
menerawang cahaya di pucuk bakau isyaratkan risau
melaburi perjalanan anakanak gelombang ke pulau
perahu dan kapal melabuh di Sawangino
juga cerita seberang bau parfummu
menerbangkan tekukur ke padang ilalang
hilang di balik gersang desa nelayan
kota dan kampung selalu berbeda
tak saja warna, juga nasibnya
nelayan berburu ikan terbang
memasang jaring di tengah malam
kutangkap dendang mereka
terjepit karang, tertampar ombak
pecah bagai butiran garam
KETIKA TEKUKUR PERGI
barisan tanjung di telukteluk ini adalah Biaro
tanah kolokolo dengan kisah pekur tekukur
ketika tekukur pergi
bijibiji hitam matang gugur sendiri
betapa sepi laut melipat bumi
aku melihat sepi di sepanjang padang karang
alangalang menguning di bawah batang pandan
“tekukurku dimana kau kini
kurindu pekurmu di malam murung”
jauh cintaku bersembunyi
di barisbaris bukit
di barisbaris laut
di barisbaris kenangan
MALAM DI PANTAI BUANG
serupa perahu
rindu mengapung
mendebur dan asin
pasir menggigil, sepi bertaring
menguliti jejak matahari kemarin
mengkilapkan rambutmu
berapa waktu aku tak bertemu
kecuali bertemu sepi selalu itu
di pucukpucuk ketapang gelap
deru perahu melintas
deru hati menetas
terbang bersama meteorit
lenyap di ladang samudera
gulita dan senyap
malam selalu runtuh
dalam ingatan
tentang matamu


Discussion about this post