Datang ke dunia dalam kondisi tak normal. Hanya satu kaki, karena sejak lahir tanpa kaki kanan, tak lantas membuat Sutardy Mayore, lelaki kelahiran Bitunuris, Kabupaten Kepulauan Talaud, 16 Maret 1992, patah semangat menjalani hidupnya.
Mengandung 9 bulan sampai melahirkan, impian dari setiap orang tua terhadap anak yang akan lahir dengan baik, tapi berbeda dengan keadaan Tardy, sapaan akrab lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Manado ini.
Anak adalah titipan Tuhan. Apapun adanya. Separuh atau seutuhnya, harus dibesarkan, sama halnya kasih sayang kedua orang tua kepadanya.
Tardy anak ke tiga dari tiga bersaudara, pasangan Hugu Mayore seorang nelayan dan Paulina Tamaheng, seorang ibu rumah tangga. Memperjuangkan hidup dengan keadaan seperti ini merupakan bentuk kasih sayang Tuhan kepadanya.
Ketika kecil Tardy seperti anak-anak lainnya. Belajar merangkak dan berjalan sempurna. Namun prosesnya berbeda. Berusaha berjalan, dan akhirnya umur 3 tahun dia hanya bisa berjalan mengunakan tongkat yang sering menemaninya, ke manapun dia pergi.
Dengan keadaan fisik seperti ini, Tardy sering mendapatkan ocehan-ocehan dari keluarga sampai menyudutkan kehidupannya, tapi ocehan tersebut menjadikan motivasi dirinya untuk menjalani hidup dan menguatkan mentalnya.
Berjalannya waktu anak pulau asal Talaud ini, mengikuti pendidikan selayaknya anak-anak normal lainnya. Berbagai proses yang harus dilewati, sampai Tardy menyelesaikan pendidikan SD Inpres Bitunuris, SMP Negeri 3 Lirung, SMK Kristen Karya Baharu Salibabu.
Ketika menyelesaikan pendidikan SMK, dia sempat dua tahun bekerja di sebuah rumah makan, untuk mengumpulkan biaya masuk perkuliahan.
Pada akhirnya tahun 2014, Tardy memutuskan masuk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Manado dengan Program Study Teknologi Hasil Perikanan.
Di kampus Tardy aktif dalam berbagai kegiatan, dan tahun 2016 diapun terpilih menjadi Ketua Rukun Persaudaraan Mahasiswa Bitunuris (Permabit) se-Sulut Periode 2016/2017.
Dalam kehidupan sehari-hari Tardy baik kepada setiap orang, suka menyapa dan pandai bergaul.
Mendaki Gunung
Suatu saat Tardy memiliki mimpi untuk melakukan pendakian diberbagai gunung yang ada di Sulut. Terbenak dalam pikirannya, apakah ia bisa melakukan perjalanan dengan kondisinya seperti ini.
Tapi tekad dan semangatnya membuat dirinya mencapai puncak Gunung Soputan sebanyak 5 kali, Gunung Klabat 7 kali pendakian dan Gunung Lokon 4 kali pendakian.
Tahun 2018 dia menjelesaikan studinya dan diwisuda dengan predikat mahasiswa cumlaude. Keberhasilan yang ia dapatkan semuanya didedikasikan kepada kedua orang tuanya dan keluarga.
Kebahagianpun bertambah ketika ia diterima sebagai peneliti di Wildlife Konservation Society (WCS).
“Menjalani hidup itu harus penuh rasa syukur. Dan jangan pernah menertawakan kekurangan orang lain. Jalani hidup kita dengan banyak berbuat baik, karena kehidupan, kesehatan, pekerjaan dan pasangan hidup Tuhan yang mengaturnya,” ujarnya ketika menutup perbincangan dengan Barta1.com, Senin (25/2/2019).
Peliput : Meikel Eki Pontolondo


Discussion about this post