• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, Agustus 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Traveling Obyek

Keindahan Pantai Pantera Ranowangko dan Lokasi Konservasi Buaya

by Agustinus Hari
22 Januari 2019
in Obyek, Traveling
0
Keindahan Pantai Pantera Ranowangko dan Lokasi Konservasi Buaya

Pantai Pantera dengan pasir putihnya. (FOTO: EKI/BARTA1)

158
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

MINAHASA, BARTA1.COM – Berbagai tempat wisata di Sulawesi utara menjadi sorotan dunia. Bukan apa-apa, karena lokasi wisata tersebut selain dijadikan tempat liburan, juga untuk lokasi studi banding dan penelitian. Ironisnya, masih banyak tempat wisata lain yang belum terekspos keindahan alamnya.

Seperti halnya di Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, dengan keindahan Pantai Ranowangko 2. Pantai ini sering disebut masyarakat adalah Pantai Pantera dengan panjang 4,4 kilo meter pasir putih halus.

Selain keindahan pasir putih, Pantai Pantera sudah menjadi tempat konservasi penyu, tarsius specrum dan buaya muara.

Tak hanya tiga satwa yang dilestarikan itu, pantai ini juga sebagai Daerah Perlindungan Laut (DPL) seperti karang, bakau, lamun dan biota laut lainnya.

Masyarakat Pantai Pantera memiliki kuliner khas yakni dabu-dabu kayuna yang terbuat dari batang pepaya muda. Kemudian juga memamerkan kerajinan-kerajinan yang terbuat dari batok kelapa sebagai oleh-oleh untuk pengunjung.

“Kegiatan konservasi penyu dilakukan sejak 2005 dengan swadaya masyarakat tanpa intervensi dari berbagai pihak manapun,” ungkap Alexander Wales, Ketua Tim Konservasi Pantai Pantera.

Menurutnya, ada lima jenis penyu yang sering naik dan bertelur, diantaranya penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik, penyu tempayan dan penyu lekang. “Ada juga tarsius spectrum yang keberadaan berada di hutan pantera membuat kami bingung. Dulunya ada sejenis tarsius yang terlihat di siang hari, bulunya berwarna merah maron, sampai saat ini kami tak tahu jenis tarsius apa ini,” ungkap Wales.

Masyarakat sendiri telah memetakan Pantai Pantera dengan pengetahuan dan alat seadanya tanpa ada intervensi dari berbagai pihak. “Dari hasil pemetaan akhirnya kami mengetahui kuntur laut, dalamnya laut, jumlah biota laut, karang, lamun dan lain-lain,” tuturnya.

Hanya saja, dari berbagai kegiatan konservasi minim pengetahuan dan perlengkapan. “Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan dalam upaya pengadaan perlengkapan untuk kegiatan konservasi. Tujuannya agar lebih mudah mencari sebuah data yang ada di area Pantai Pantera,” ungkapnya sembari menambahkan Pantai Pantera juga kekuarangan air bersih.

Maria Angelika Ina Burgerhausen, relawan asal Jerman saat berkunjung selama tiga hari mengungkapkan Pantai Pantera sangat bagus. Masyarakatnya ramah. “Saya senang bisa belajar mengenai konservasi penyu. Apa yang saya pelajari selama tiga hari, akan saya sampaikan ke negara saya mengenai keindahan Pantai Pantera. Sayang sekali jika tidak dirawat dan diperhatikan ekowisata dan kekayaan alamnya,” beber Maria.

Peliput : Meikel Eki Pontolondo

Barta1.Com
Tags: konservasi buayaminahasapantai panteratanawangko
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Jerman Serahkan Pembangkit Listrik Atasi Krisis Listrik Sulut

Jerman Serahkan Pembangkit Listrik Atasi Krisis Listrik Sulut

Discussion about this post

Berita Terkini

  • YBM PLN Gelar Khitanan Gratis untuk 79 Anak di Kecamatan Galang 24 Agustus 2026
  • Bebas Padam, PLN Siagakan Listrik Cadangan 24 Jam di Likupang Tourism Festival 2026 24 Agustus 2026
  • Sinergi PLN dan TNI AL di Sangihe Gembleng Fisik Mental Petugas Yantek Tahuna 24 Agustus 2026
  • Refleksi 21 Tahun Komisi Yudisial: Dari Sulut Soroti Penguatan Anggaran dan Budaya Hukum 24 Agustus 2026
  • Redam Aksi Tawuran Pasar Tua dan Kombos, AKBP Arie Sulistyo Imbau Selesaikan Konflik Dengan Komunikasi 24 Agustus 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In