Manado, Barta1.com — Seminar anti radikalisme yang bergulir di aula Institut Agama Islam (IAIN) Manado, Kamis (27/12/2018) menjadi upaya penghadangan terhadap paham radikalisme yang mengancam kaum cendekiawan kampus.
“Saya kategorikan radikalisme itu seperti memaksakan ajaran yang tidak sepaham dengan kehidupan kita bersama,” ujar Ruchman Bushori MA selaku Kepala Seksi Kemahasiswaan Dikti Islam, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, salah satu pembicara di hadapan 1.000 peserta seminar tersebut.
Dia mengingatkan cendekiawan kampus untuk tidak terkontaminasi hal tersebut. Hati-hati pula, lanjut dia, pada kekuasaan dengan jumlah massa besar yang bisa disalahgunakan.
“Mahasiswa harus dibekali dengan pemahaman anti radikalisme, jangan sampai masalah seperti ini masuk ke area kampus,” kata dia.
Narasumber berikutnya, Dr Nasruddin Yusuf M.Aq dari Majelis Ulama Indonesia Sulut, mendorong pemerintah lebih tegas lagi memerangi radikalisme. Kelalaian dikhawatirkan bisa membawa korban yang lebih besar, bom bali contohnya kata dia.
“Kendadi di Sulawesi Utara toleransi masih tinggi kita harus tetap waspada terhadap radikalisme,” jelas Nasruddin
Ahli Pers Yoseph Ikanubun menjelaskan pemahaman terhadap radikalisme dilakukan jurnalis lewat tulisan berita.
“Tanpa melupakan validitas data karena butuh berbulan-bulan untuk melengkapi data,” kata mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado, seraya mengajak mahasiswa yang mau belajar jurnalistik untuk peka terhadap isu-isu menyesatkan.
Seminar tersebut diinisiasi Lembaga Pers Mahasiswa Suara Mahasiswa, atau LPM Suam, IAIN Manado. Beberapa lembaga ikut diajak menjadi penyelenggara, seperti MUI, ECS II, Kementerian Agama RI, mahasiswa Bidik Misi IAIN Manado, AJI Manado serta Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Manado. Pimpinan IAIN turut mendukung kegiatan tersebut. (*)
Penulis: Meikel Eki Pontolondo

Discussion about this post