• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, April 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Mengenal Penyair Legendaris Sulut Husen Mulahele 1944-1988

by Ady Putong
15 September 2018
in Kultur, Sejarah
0
Mengenal Penyair Legendaris Sulut Husen Mulahele 1944-1988
0
SHARES
108
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam sebuah forum yang khusus membahas sajak-sajak Husen Mulahele, seseorang mengajukan ‘definisi’: “Husen adalah pertama-tama sebuah integritas, selanjutnya dan selamanya ia membangun terus integritas itu untuk terutama membuat puisi, maka bahkan seutuh dirinya adalah puisi yang selalu berdaya pukau.”

Umumnya mereka yang mengenal Husen setuju dengan ‘definisi’ tersebut. Husen Mulahele, lahir di Manado 1944, di manapun ia hadir selalu bersama pancaran kesenimanannya, apapun yang ia ucapkan selalu liris, dan dalam setiap kata-kata yang ia tulis selalu hadir dirinya. Ia menulis puisi dengan kecintaan amat dalam.

Buku-buku antologi puisinya adalah Air (Surabaya: Ladang Minor, 1975), Sajak-sajak Surabaya Utara (Surabaya: Ladang Minor, 1976), Ya Nasib (Surabaya, 1977), Saujana (Surabaya,1978), dan Lenso yang diterbitkan akhir 1997 oleh Dewan Kesenian Surabaya, hampir sedasawarsa setelah penyairnya wafat 1988 di Jakarta.

Tahun 1975 mendirikan dan mengasuh Teater Ladang Minor, Surabaya. Kemudian, 1977, dalam kelompok kreatif November, bersama Peter Rohi, M. Djupri, Dr. Nurinwa, Prof. Dr. Machmud MZ dan Wayan Sumantri, menerbitkan majalah sastra dan budaya Trem, dimana Husen menjadi redaktur puisi.

Sejak 1978 sampai 1981 membina sejumlah sanggar di Manado, termasuk Teater Manandou yang ia rintis beberapa tahun sebelumnya saat masih mukim di Surabaya. Di Manado, ia dikenal sebagai motor penggerak kehidupan sastra modern.

Tak sedikit muridnya tumbuh menjadi penyair terkemuka di Sulawesi Utara, di antarannya Kamaja Alkatuuk, Iverdixon Tinungki. Sebuah sajaknya yang paling populer dan paling sering dibacakan di Manado berjudul: “Sam Ratulangi Adakah Tuan”.

Di kalangan insan pers — melalui perannya sebagai redaktur koran Mingguan Mahasiswa, Memorandum (Surabaya) dan majalah Popular (Jakarta) — Husen dikenal sebagai seniman-jurnalis.

Karena berita yang sesingkat apapun dan ihwal peristiwa yang sekecil apapun selalu digarapnya sama serius sebagai suatu karya penting, dengan pengerahan segenap kemampuan susastra serta inovasi teknis artistiknya.

Berikut petikan dari puisi Husen Mulahele, Pamit, yang berbicara tentang kematiannya sendiri. Ditulis tiga bulan menjelang wafatnya. Yang kurang-lebih menunjukkan betapa seutuh hayatnya sampai matinya menyatu dengan puisi.

PAMIT
Ini hidup telahkah sia-sia?
Dermaga hanya tersisa ampas
muntah kelasi puluhan tahun silam.

Pelayaran takkan tiba lagi di rumah tua,
pada musim pertemuan ketika kita memainkan gelak
karena kapal berangkat terus menuju haluan
dan aku harus selalu pergi, selalu mengucap:
“Selamat tinggal.”

Inikah, sayang, saat perpisahan menikam sebab?
Dalam bejana yang kian retak oleh gelisah?
Yang ditunggu telah memburam dalam kenangan,
berkarat dalam catatan.

Lalu matahari menarik sinarnya dari ubun-ubunku
dingin membungkuskan tanda pada ujung jari kakiku
dan merayap ke pusat detak yang mulai diam.

Sementara kamar sunyi, kamu membayang-bayang
cakaran suaraku dalam lembar-lembar tulisan
seperti memahami isyarat purba.

Penulis: Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: Husen Mulahelemanado
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Cantiknya Dapalan dan Kisah Perang Melawan Bajak Laut

Cantiknya Dapalan dan Kisah Perang Melawan Bajak Laut

Discussion about this post

Berita Terkini

  • GERAK Ungkap Cacat dalam Juknis Penyaluran Bantuan Bencana Gunung Ruang 25 April 2026
  • Terumbu Karang: Penjaga Kehidupan Laut dan Kepentingan Dunia 25 April 2026
  • Tragedi Lalu Lintas di Manado: Bayi 5 Bulan dan Penumpang Tewas, Dua Pengemudi Jadi Tersangka 24 April 2026
  • Dikda Sulut Diminta Turun ke SMAN 8 Manado, Bentuk Satgas Anti Pungli Jelang Kelulusan Siswa 24 April 2026
  • Manado Jadi Pusat Diplomasi Kelautan, Duta Besar CTI-CFF Bahas Ekonomi Biru Berkelanjutan 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In