oleh

Saya Tidak Percaya Karir Politik Elly Akan Berhenti Sebagai Bupati

-Fokus, Opini-10.382 views

Catatan: Amato Assagaf

Elly Engelbert Lasut adalah politisi yang memainkan politik seperti seorang musisi memainkan musik. Permainan keduanya adalah hiburan, bahkan ekstasi bagi orang lain. Dengan Elly, politik keluar dari rutinitasnya yang bersifat formal dan kaku. Bersifat personal pada satu sisi, namun begitu publik di sisi yang lain.

Maksudnya, Elly memainkan politik dari kualitas dan kreativitas personalnya yang, sudah sejak dari prosesnya, bisa dinikmati oleh orang banyak. Dan itu dia lakukan dengan menyiasati demokrasi sebagai tangga nada bagi resital politiknya. Karena itulah, saya tidak percaya bahwa karir politik Elly akan berhenti sebagai bupati.

Sejak tahun 2014 ketika kami pertama bertemu untuk membicarakan rencananya maju dalam pemilihan gubernur Sulut, saya tidak bisa lagi melihat Elly “hanya” sebagai seorang bupati. Tahun 2018 kemarin, dia terpilih lagi sebagai bupati Talaud. Tapi di luar formalitas itu, saya tidak melihat wajah seorang bupati.

Masa bagi Elly untuk mengurus sebuah wilayah kecil, sebetapapun pentingnya itu, tampaknya telah berakhir. Ketika Indonesia diguncang prahara ekonomi global di satu sisi dan menguatnya politik identitas di sisi yang lain, Sulawesi Utara membutuhkan pemimpin dengan kapasitas setingkat Elly Lasut.

Ini bukan kampanye E2L for Sulut, meskipun juga bukan penilaian yang harus dianggap obyektif. Sulit bagi saya yang telah lama mengikuti perkembangan politik di tanah kelahiran saya ini tanpa mencoba mengulang ingatan akan tokoh-tokohnya yang terbaik. Salah satunya adalah Elly Engelbert Lasut.

Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan peran dan sumbangsih Elly bagi Sulawesi Utara dalam karir panjangnya sebagai seorang politisi. Tulisan ini hanya ingin menjadi lonceng peringatan bahwa dimensi yang lebih dalam dari ketokohan seorang politisi adalah samarnya latar bagi langkah politik sang tokoh.

Kita sudah pernah meributkan gagasan rekonsiliasi Jokowi-Prabowo. Untuk kepentingan apapun, gagasan itu kemudian menimbulkan beragam reaksi. Yang paling keras barangkali adalah penolakan beberapa kelompok dalam aliansi Prabowo. Saat itu kita mencoba menebak apa langkah Prabowo.

Para penolak rekonsiliasi di kubu Prabowo kini harus kecewa bahwa tokoh puncak mereka itu ternyata menyambut uluran tangan Jokowi. Persoalan yang kemudian kita hadapi adalah kesamaran latar pikiran Prabowo untuk mengambil langkah yang sekira tidak terlalu populer bagi sebagian pendukungnya.

Elly Lasut adalah jenis tokoh politik dengan latar yang sama-samar dalam langkah politiknya. Ini kerap membuat cemas beberapa pihak di sekitarnya. Selain bahwa kesamaran itu sudah menjadi tuntutan taktis dan strategis, juga bahwa Elly tidak mudah untuk diramalkan. Dan ini jadi serius saat kita mendekati pilgub Sulut.

Baca Juga: Elly Lasut Sebagai Zoon Politicon

Saya yakin, hingga detik ini tidak banyak orang yang tahu apakah Elly akan maju dalam kontestasi pilgub Sulut atau tidak. Tapi menyadari kesamaran itu, barangkali pertanyaan harus kita balik. Apakah ada cukup energi dari rakyat Sulut untuk mendorong Elly ikut dalam kontestasi pada 2020 nanti?

Saya tidak tahu jawaban untuk pertanyaan itu tapi saya tahu apa jawaban saya secara pribadi sebagai bagian dari rakyat Sulut. Ya, saya punya cukup energi untuk mendorong Elly maju sebagai calon gubernur pada 2020 nanti. Tentu saja sembari membayangkan ada begitu banyak saya yang lain yang akan melakukan itu.

Pada sebuah kongkow-kongkow dengan beberapa wartawan asal Nusa Utara, saya pernah ditanya kenapa saya begitu bersimpati pada Elly Lasut. Saya memberikan dua jawaban. Satu bersifat subyektif dan satu lagi obyektif. Yang subyektif adalah kerinduan saya yang sekira urgen akan seorang pemimpin bagi Sulut.

Dan dengan pemimpin saya maksudkan seorang politisi yang sesungguhnya politisi. Bukan politisi yang bersembunyi di bawah spanduk populistis sebagai rakyat biasa yang peduli dengan masalah di daerahnya atau profesional tetek bengek yang ingin membangun Sulut. Kenapa?

Baca Juga: Elly, Hillary dan Pilgub 2020

Karena berhadapan dengan persoalan besar Indonesia ke depan nanti, Sulut dituntut untuk, pertama, mampu berdiri sendiri secara ekonomi. Itu bukan dengan cara menutup diri dan mengupayakan sebentuk pembangunan yang diarahkan negara. Tapi diplomasi ekonomi-politik daerah yang sadar akan dampak positif maupun negatif dari kapitalisme global.

Kedua, Sulut dituntut berperan aktif dalam melakukan konsolidasi kebangsaan untuk menghadapi serangan politik identitas dalam berbagai macam bentuknya. Politik identitas, setidaknya di negeri ini, erat berkelindan dengan narasi post-truth yang membikin resah itu.

Sedemikian sehingga kita tidak bisa lagi menunjuk satu pihak sebagai semata pemainnya. Ancaman penguatan identitas Islam dalam politik hari ini bisa memicu penguatan identitas lain sejenis. Dan itu akan tersalur lewat pipa-pipa logika pasca kebenaran; serbuan hoax dan hilangnya kepercayaan akan yang baik dan benar.

Persilangan antara kedua guncangan itu – guncangan ekonomi global dan guncangan politik identitas – di tingkat nasional akan berujung pada munculnya populisme otoritarian, seperti yang ditulis oleh Dani Rodrik dalam sebuah artikelnya di media online Project Syndicat yang telah saya terjemahkan.

Adapun di tingkat daerah, seperti di Sulut, kita akan menyaksikan persebaran rasa cemas akan keamanan ekonomi dan kepastian nilai yang bisa mengendap menjadi keresahan sosial. Dalam skala kita di Sulut, itu bisa berujung pada ledakan kemarahan oleh sebab yang mungkin tak kita sangka.

Sebagai politisi dengan kapasitas petarung di arena konflik, saya yakin, Elly Lasut pasti bisa mengantisipasi dampak dari kedua guncangan tersebut. Dibicarakan dari sudut identitarian, Elly adalah turunan Minahasa yang dua kali memenangkan pilkada di Nusa Utara.

Itu terlalu jelas sebagai kode bagi kemampuannya keluar dari bingkai identitas sempit dan memasuki bingkai identitas nasionalisme-hunitarian yang lebih luas. Dan saya tidak percaya dia bisa melakukan itu di luar karir politiknya yang panjang untuk memberinya taktik dan strategi politik yang matang.

Dibicarakan sebagai pemimpin, Elly tidak pernah melangkah dalam ruang hampa masalah. Baik sebagai bupati maupun ketua partai politik, dia tidak pernah mencari aman dalam bertindak. Bersiasat iya, berkhianat tidak.

Ironisnya, dia harus membayar keberaniannya menghadapi masalah dengan mendekam sebagai tahanan dalam kasus yang nyaris menelikung karir politiknya. Dan Elly, seperti Jimbaro, sadar bahwa politik harus dibalas dengan politik.

Lebih dari itu, dengan keberanian menghadapi masalah, kita bisa cukup yakin bahwa persoalan mencari ruang bagi pembangunan ekonomi Sulut di tengah kebijakan ekonomi nasional yang terjepit dalam perang dagang saat ini, adalah cap politik seorang Elly Lasut.

Di sini kita bicara soal diplomasi ekonomi-politik daerah pada dua arah. Ke dalam, mengarah pada kebijakan ekonomi nasional dan, ke luar, mengarah pada guncangan ekonomi global.

Menjadi sahabat Jokowi untuk urusan ke dalam bukan sebuah jaminan dalam mengamankan ekonomi daerah. Menjadi mitra Jokowi, itulah jawabannya. Adapun urusan keluar membutuhkan keberanian untuk mengambil langkah yang tak jarang tidak populis dan independen terhadap kepentingan politik jangka pendek.

Siapa yang bisa memegang tanggungjawab untuk duduk di kursi gubernur Sulut dalam masa yang kelak paling bergolak seperti itu? Yang bisa bersiasat dengan kebijakan ekonomi nasional sembari berdiplomasi dengan kekuatan global untuk mengamankan Sulut dari dampak perang dagang?

Saya yakin Sulawesi Utara memiliki banyak politisi hebat. Tapi jika harus menyebut nama, untuk saat ini, saya hanya berani menyebut nama Elly Engelbert Lasut. Karena memang hanya nama itu yang secara subyektif bisa saya pertanggungjawabkan.

Lalu apa jawaban obyektif saya terhadap pertanyaan para wartawan asal Nusa Utara tadi? Sederhana, pahami dengan benar jawaban subyektif saya. Itu sudah cukup untuk memberikan kisi-kisi obyektif akan ketokohan seorang Elly. Tanggapan mereka hanyalah permintaan agar saya menuliskan jawaban itu bagi media mereka.

Dan inilah tulisannya. (***)

(Amato Assagaf adalah sastrawan, pegiat di Padepokan Puisi dan belakangan terjun ke dunia politik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed