Minut, Barta1.com – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Betina Issue, Yayasan Konservasi Tangkoko, Kedai Kana, dan Lamp of Bottle berkolaborasi menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Menolak Punah. Kegiatan kolektif ini berlangsung hangat dan penuh makna sejak sore hingga malam hari di Kedai Kana Sukur, Airmadidi, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan nobar ini mendapat dukungan dari Brian Khatiandago selaku owner Kedai Kana Sukur Airmadidi, sebagai bentuk komitmen dalam mendukung tumbuhnya gerakan dan ruang kreatif komunitas lokal.

Tidak hanya menghadirkan pemutaran film, acara ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan menarik, seperti diskusi terbuka, pasar barter pakaian layak pakai yang dapat ditukar atau diberikan kepada mereka yang membutuhkan, serta pameran seni instalasi dan lukisan yang memanfaatkan sampah plastik sebagai medium karya.
Acara ini dipandu dengan hangat dan santai oleh Sriwati Olii dari Yayasan Konservasi Tangkoko, sementara sesi diskusi dimoderatori oleh Inska dari Betina Issue. Diskusi tersebut mengupas isi film dari berbagai sudut pandang yang saling terhubung, mulai dari isu lingkungan, keadilan sosial, hingga peran individu dalam menghadapi krisis ekologis.
Tiga penanggap utama turut memberikan perspektif mereka. Nurrul Nelwan, seorang perempuan pembuat film independen, membagikan pandangannya mengenai bagaimana isu lingkungan hadir dan direspons dalam dunia kreatif yang ia geluti. Ia juga menyoroti persoalan yang diangkat dalam film melalui sudut pandang perempuan di tengah kondisi sosial saat ini.
“Saat ini perempuan dieksploitasi melalui industri fast fashion. Kita juga dapat melihat adanya persoalan kelas yang berakar pada ketimpangan ekonomi, di mana kelas atas menikmati estetika kelestarian, sementara kelas bawah terjebak dalam eksploitasi produksi dan konsumsi,” ungkap Nurrul.
Sementara itu, Cindy Samiaji, yang akrab disapa Iin, seorang penggiat lingkungan sekaligus seniman, menyoroti ancaman mikroplastik terhadap ekosistem dan generasi mendatang yang tergambar dalam film tersebut.
“Untuk itu, mari kita konsisten memperjuangkan lingkungan serta mengkritisi berbagai kebijakan yang dinilai belum berperspektif pada lingkungan dan hak asasi manusia, termasuk hak untuk mendapatkan air bersih yang bebas dari mikroplastik,” ujar Iin.
Seorang penggiat thrifting dari Airmadidi juga mengajak para peserta untuk kembali memandang konsumsi dari sisi kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Ia mendorong penggunaan pakaian bekas atau cabo dengan kesadaran penuh sebagai upaya memperpanjang masa pakai pakaian dan mengurangi limbah tekstil.
Acara ini turut dihadiri oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Solidaritas Pecinta Alam Gunung Klabat (SPAMU), berbagai komunitas lokal, serta sejumlah individu yang memiliki kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan.
Di akhir kegiatan, para peserta sepakat bahwa ruang-ruang kreatif seperti ini perlu terus dirawat dan diperbanyak. Selain menjadi wadah bertukar gagasan, ruang semacam ini juga penting untuk memperkuat solidaritas dan kesadaran kolektif di tengah masih terbatasnya jumlah masyarakat yang secara aktif peduli terhadap isu sosial dan lingkungan, serta masih adanya sekat-sekat antarkelompok yang perlu dijembatani bersama. (*)
Ediror : Mekel Pontolondo


Discussion about this post