oleh

Kisah Heroik Perlawanan Raja Santiago Terhadap Penjajahan Belanda

Hingga kini Raja ke-3 Kerajaan Manganitu yang dikenal dengan nama Santiago tak kunjung diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Meski demikian akhir-akhir ini namanya masuk sebagai salah satu yang diusulkan dari 3 nama (Bataha Santiago, Arnold Mononutu, dan AA Maramis)yang diusulkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara ke pemerintah pusat.

Kenapa harus Santiago? Tentu ada begitu banyak sisi cerita yang menandai perjuangan sang Raja untuk keluar dari belenggu penjajahan Kolonial-Belanda. Namun demikian yang bisa menyimpulkannya adalah perlawanan Santiago merupakan fakta sejarah, bahwa di tanah perbatasan NKRI dan Negara tetangga Filipina ada ribuan nyawa yang terbuang demi mempertahankan harga dirinya dari penjajahan itu.

Mencari jejak Santiago kini memang tidak sulit lagi. Kita akan mendapatkannya di berbagai sumber globalitas media internet. Namun penulis, menelusuri dari sumber yang dirasa mempunyai kedekatan historis dengan jejak sang Raja. Ernest Barahama (66) selain sebagai keturunan Raja Santiago, dia juga mempunyai tugas sebagai penjaga Makam Raja yang selama lima tahun mengobarkan perang perlawanan kepada penjajahan Belanda itu.

Santiago terlahir dari rahim permaisuri Lawewe, ayahnya bernama Tompoliu Raja kedua Kerajaan Manganitu. Pada masa itu wilayah (Sangihe sekarang) sementara dikuasai oleh Portugis/Spanyol yang sudah mempunyai hubungan baik dengan kerajaan Manganitu. Kedua pemimpin Bangsa itu meminta ijin kepada permaisuri Lawewe dan Raja Tompoliu untuk memberikan nama Don Sint Jogolov Santiago kalau kelak jabang bayi yang akan lahir itu berjenis kelamin laki-laki. Nama itulah yang kini melekat di tengah-tengah masyarakat dengan sebutan singkat Santiago.

Tahun 1666 di usia yang ke 39 tahun Santiago diutus ke Santo Thomas Manila-Filipina untuk mengikuti sekolah kepemimpinan selama 4 tahun. Setelah menjalani masa pendidikannya selama empat tahun di Filpina, tahun 1670 Santiago kembali ke Manganitu dan diangkat menjadi Raja ketiga Kerajaan Manganitu menggantikan menggantikan ayahnya Tompoliu. Ia memerintah 1670-1675, dan selama lima tahun itu ia lalui dengan perlawanan kepada penjajahan Belanda, karena di tahun 1668 telah tejadi peralihan penjajahan dari Portugis/Spanyol ke penjajahan Kolonialisme Belanda. Dari sinilah awal mula perlawanan Santiago digelorakan.

Pihak Belanda, mengeluarkan surat Kontrak Pajak yang berisi penguasaan hasil bumi dan pemberangusan warisan budaya (Sangihe). Ketika kerajaan-kerajaan lain telah menandatanganinya, Santiago adalah satu-satunya raja yang menolak dengan tegas menandatangani kontrak tersebut. Pihak Belanda berang, dan berbagai ancaman datang ditujukan kepada sang Raja.

Dengan tidak menandatangani kontrak tersebut, maka perang adalah konsekwensi yang harus ia hadapi.Selama lima tahun, wilayah kerajaan Manganitu dibumbuhi lautan perang. Hingga pada suatu waktu pihak penjajah Belanda mengirim tujuh armada kapal perang menyerang kerajaan Manganitu, namun demikian peperangan masih dimenangkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Santiago. Setelah itu Belanda kembali menyerang dengan pasukan yang lebih banyak lagi. Lima belas armada kapal perang diarahkan menyerang Manganitu. Serangan yang dasyat itu, membuat Santiago dan pasukannya mundur ke suatu tempat yang dinamakan Batumbakara.

Meski Santiago telah mundur, pihak Belanda tidak merasa puas sepanjang sepanjang Santiago tidak membubuhi tanda tangan pada kertas kontrak yang mereka sediakan itu. Dengan siasat liciknyapihak Belanda menyuruh dua orang pemberani yang bernama Sasebohe dan Bowohanggima.Kedua pemberani tersebut dipakai untuk mengelabui Santiago. Hingga pada suatu waktu Sasebohe dan Bawohanggima datang menemui Santiago. Mereka mengatakan, sangat menyesal karena tidak membantunyamelawan penjajah. Dengan demikian dibujuklah Santiago ke Tahuna untuk bermusyawarah dengan pemberani-pemberani lainnya guna menyusun siasat jika Belanda datang kembali mereka akan bersatu melawan.

Akhirnya Santiago memenuhi tawaran itu. Iapun berangkat ke Tahuna. Pertemuan itu diadakan di Markas Belanda (Sekarang Kodim 1301/Sangihe) yang sebelumnya dikatakan sudah kosong. Setibanya di sana Santiago di kepung dan berhasil ditangkap. Iapun dibujuk dan dipaksa menandatangani kontrak kolonial itu. Santiago tetap pada pendiriannya. Ia menolaknya dengan tegas. Dikatakannya, “apapun yang terjadi pada diri saya, saya tidak akan menandatanganinya,” kata dia.

Karena menolak menandatangani kontrak tersebut, pihak penjajah manjatuhi hukuman mati kepadanya. Ia pun melewati beberapa proses hukuman. Tubuhnya diikat dengan batu, lalu ditenggelamkan di Tanjung Maselihe. Setelah para eksekutor itu kembali ke darat, mereka kaget melihat para tentara Belanda sedang mengejar seseorang.

Ternyata Santiago sudah berada di darat. Namun demikian ia berhasil kembali ditangkap. Sesudah itu, ia pun di bawah ke Bungalawang ke markas Belanda. Kembali lagi ia dipaksa menandatangani kontrak tersebut, namun Santiago tetap menolaknya. Kali ini hukuman lebih beratpun harus dijalaninya. Tentara Belanda, menurunkan satu drum bensin. Santiago dimasukan di dalamnya lalu di bakar. Akan tetapi sehelai rambutpun tidak ada yang terbakar.

Melihat hal itu, pihak Belanda menyeret tubuh (Bokong) Santiago, diarahkan ke mulut meriam, namun senjata dengan daya ledat tinggi itu tidak berfungsi selama enam kali percobaan meledakkan. Setelah berbagai percobaan pembunuhan itu dilakukan, akhirnya mereka menggantungnya di sebuah pohon ketapang di Bungalawang tahuna. Meski demikian, Santiago bertahan sampai tiga hari. Selama tiga hari itu banyak pesan yang ia sampaikan kepada rakyat Manganitu yang menangisinya di tempat itu. satu-satunya pesannya dalam keadaan tergantung yaitu Meskipun saya mati digantung, saya tidak akan tunduk kepada Belanda.

Sang raja pun tutup usia di hari ketiga dalam gantungan. Mayatnya kemudian diturunkan, dan dimakamkan apa adanyaPada waktu pasukan Belanda sedang berpesta poramerayakan keberhasilan membunuh Santiago, Diamanti dan gaghinggihe, adik laki-laki Santiago mempergunakan kesempatan itu menggali kubur Santiago, lalu mayatnya di bawa ke Manganitu. Rerencana untuk memakamkan jenazah sang kakak, di wilayah istana pun gagal, karena Belanda telah mengetahuinya sehingga merekapun dikerjar, maka diam-diam mereka memakamkannya di Nento, sebuah tempat yang juga berada di wilayah kerajaan Manganitu. Melalui peristiwa itu, nama Bataha dilekatkan kepada Santiago, dengan arti seorang yang sakti.Tak heran jika hari ini banyak yang mengenalnya dengan sebutan Bataha Santiago.

Banyak orang menganggap bahwa Bataha Santiago mati dipenggal, dan yang terkubur di Nento hanyalah kepalanya saja. Hal demikian dibantah oleh penutur, Ernest Barahama. Ia mengatakan peristiwa pemenggalan itu bukan cerita tentang Santiago, akan tetapi sebelumnya yang dipenggal itu adalah Kakek dari Santiago, Raja Kerajaan Manganitu pertama, bernama Tolosang. “Banyak orang mengira Santiago itu dipenggal kepalanya. Padahal tidak demikian. Yang dipenggal itu adalah kakeknya, Tolosang,” kata dia.

Hal itu juga dibuktikan dengan pemugaran pertama makam Santiago di tahun 1974 oleh Depdikbud waktu itu. “Bukti keutuhan mayatnya, pada pemugaran tahun1974 posisi kuburuan Santiago itu panjang. Sementara raja pertama yang di istana hanya satu meter persegi pertanda itu hanya kepala. Kubur Santiago panjang seperti Sapela, adiknya,” jelas dia.

Demikian sedikit kisah heroik Bataha Santiago. Berbagai versi cerita mungkin bisa berbeda, hal ini dikarenakan tradisi tutur yang kental dalam masyarakat Sangihe. Namun fakta sejarah perlawanannya demi kemerdekaan tetap hidup di hati masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe, hingga kini.

Penulis: Rendy Saselah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed