Manado, Barta1.com – Kualitas tenaga pendidik di Politeknik Negeri Manado (Polimdo) tidak perlu diragukan. Hal ini dibuktikan melalui prestasi membanggakan di tingkat internasional, dengan meraih peringkat ketiga dalam ajang The 15th China Innovation & Entrepreneurship Competition, divisi AI + Construction Machinery, yang berlangsung di Tiongkok, 29 Oktober 2026.

Prestasi tersebut diraih oleh tim dosen Polimdo yang terdiri dari Ir. Rudolf E.G. Mait, ST., MT., sebagai ketua tim, bersama Ir. Farly Kalumata, MT., dan Steven Richard Kamurahan, ST., M.Ar., sebagai anggota.
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengusung karya berjudul TerraSight AI — Automated Volumetric Progress Monitoring for Earthwork Operations, yakni sistem pemantauan progres pekerjaan tanah secara otomatis berbasis analisis volume dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Berangkat dari prestasi tersebut, Ir. Rudolf mengatakan bahwa keberhasilan bersaing di tingkat internasional menjadi bukti bahwa memilih Polimdo sebagai tempat menempuh pendidikan merupakan keputusan yang tepat.
“Polimdo itu sudah berprestasi, dibuktikan dengan prestasi dunia. Ke depan, diharapkan banyak adik-adik yang belum bergabung dengan Polimdo, silakan bergabung. Di sini kalian akan maju bersama tim dosen yang inovatif, tentunya untuk membuat masa depan semakin maju,” ungkap Rudolf, saat di wawancara di Ruangan Rapat lantai 3 Polimdo, Selasa (3/11/2026).
Ia juga berharap ke depan mahasiswa Polimdo dapat dilibatkan dalam berbagai proyek berskala besar. Menurutnya, pengalaman meraih prestasi di tingkat internasional menjadi modal sekaligus kepercayaan diri bagi para dosen untuk membimbing mahasiswa agar mampu bersaing di panggung dunia.
“Kami sudah punya pengalaman menang di tingkat internasional. Jadi, kami sudah percaya diri untuk membimbing anak-anak kami agar bisa bersaing di tingkatan dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai pencapaian tersebut diharapkan dapat menciptakan atmosfer baru dalam dunia pendidikan vokasi, sekaligus menunjukkan bahwa Polimdo memiliki kemampuan untuk tampil dan berkompetisi di tingkat global.
“Ini kiranya menjadi atmosfer yang baru dari dunia vokasi, di mana Polimdo mampu untuk keluar dan bersaing di tingkatan global. Di sini kita mampu, mampu berprestasi,” tuturnya.
Sementara itu, Ir. Farly Kalumata mengungkapkan bahwa selama kurang lebih tiga hingga empat hari berada di Tiongkok, ada banyak pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh. Salah satu hal yang paling berkesan baginya adalah kuatnya rasa cinta masyarakat Tiongkok terhadap negara mereka.
“Yang saya bisa pelajari, betapa cinta tanah airnya mereka,” ungkap Farly.
Ia menjelaskan, hal tersebut terlihat dari penggunaan bahasa Mandarin dalam berbagai aktivitas hingga transaksi pembayaran yang menggunakan mata uang negara tersebut.
Menurutnya, pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi para dosen muda yang berkesempatan melakukan penelitian melalui dukungan Polimdo. Ia menilai masih banyak hal yang dapat dikembangkan, terlebih saat ini tim sedang menunggu kedatangan sejumlah peralatan pendukung penelitian.
“Segala sesuatu harus berbahasa China, pembayaran harus menggunakan mata uang mereka. Di situ ada pembelajaran yang bisa dipetik bahwa kita sebagai dosen muda yang melakukan penelitian ini, dengan kesempatan yang diberikan oleh Polimdo, sebenarnya masih banyak yang akan dilakukan lagi. Namun, saat ini sedang menunggu alatnya tiba,” jelasnya.
Ia memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan laboratorium Polimdo akan dilengkapi dengan peralatan baru yang dapat menunjang pengembangan ide serta mendukung proses pembelajaran.
Dengan demikian, ide penelitian tidak hanya berhenti sebagai gagasan atau karya tulis ilmiah, tetapi dapat diwujudkan menjadi produk terapan yang bisa dimanfaatkan secara langsung.
“Jadi, ide bukan hanya sebuah gagasan atau paper, tetapi menjadi sebuah produk terapan yang bisa diakses. Contoh pengembangan ke depannya untuk apa yang dibuat itu masih dalam pembahasan internal tim,” ucapnya.
Farly menambahkan, pengembangan TerraSight AI tidak akan berhenti pada produk yang saat ini telah dihasilkan. Ke depan, tim berencana mengembangkannya menjadi sebuah website sehingga dapat diakses melalui internet, bahkan ditingkatkan menjadi aplikasi yang bisa diunduh secara langsung.
Ia melihat potensi pasar di sektor nikel dan pertambangan di Sulawesi Utara cukup besar. Peluang tersebut dinilai dapat membuka ruang kerja sama bagi Polimdo, khususnya dalam pengembangan teknologi yang berkaitan dengan industri pertambangan.
“Ke depannya, potensi pasar untuk nikel dan tambang di Sulut cukup besar. Artinya, ketika potensi ini terbuka, kerja sama dengan Polimdo tidak hanya pada pekerjaan alat berat, tetapi juga pekerjaan teknologi lainnya, seperti pelaporan, pemantauan, proses monitoring dan sebagainya, pasti akan terbuka,” katanya.
Lebih jauh, pengalaman mengikuti kompetisi di Tiongkok juga memotivasi dirinya untuk terus mendorong transformasi teknologi, khususnya di Jurusan Teknik Sipil Polimdo.
Menurutnya, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini mulai diarahkan ke sistem digital. Salah satu contohnya adalah proses survei dan peminjaman peralatan yang tidak lagi menggunakan formulir atau blangko, melainkan cukup dengan memindai QR barcode.
Melalui sistem tersebut, informasi mengenai foto, jumlah, jenis, hingga kondisi peralatan saat dipinjam dan dikembalikan dapat diketahui dengan lebih mudah.
“Hari ini kami mulai mengembangkan aplikasi LMS. Kami melihat dari beberapa mahasiswa tingkat akhir, mereka hanya mengambil atau menyalin materi dari AI dan Google. Untuk mencegah hal itu, kami sudah mengembangkan literatur pembelajaran secara dinamis dan digital,” jelasnya.
Ia mencontohkan, dalam pembelajaran perhitungan struktur dan balok, mahasiswa nantinya tidak hanya memperoleh hasil akhir dari perhitungan, tetapi juga dapat melihat seluruh tahapan proses penyelesaiannya.
Dengan begitu, mahasiswa tidak sekadar melihat dan mengambil jawaban, melainkan benar-benar memahami proses serta tahapan yang harus dilakukan.
“Jadi, mahasiswa nantinya bukan hanya melihat dan mengambil hasil, tetapi proses-prosesnya juga akan mereka ketahui,” tambahnya.
Di sisi lain, Steven Richard Kamurahan mengakui bahwa keikutsertaan dalam kompetisi internasional tersebut telah membuka wawasan baru mengenai perkembangan teknologi dan peran generasi muda dalam dunia inovasi.
“Ternyata di luar sana yang berperan itu yang muda-muda. Dengan harapan ke depannya kami menjadi tonggak sejarah yang memulai dari dosen-dosen. Semoga ke depannya akan dikirim mahasiswa Polimdo untuk berlomba di kancah internasional,” tuturnya.
Menurut Steven, kemampuan mahasiswa perlu terus ditingkatkan melalui keterlibatan dalam berbagai proyek yang nantinya dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi internasional.
Ia berharap langkah awal yang dilakukan para dosen saat ini dapat menjadi pintu pembuka bagi mahasiswa Polimdo untuk tampil dan mengukir prestasi di tingkat dunia.
“Saya berharap untuk saat ini dimulai dari kami, yang mungkin ke depannya akan melibatkan mahasiswa. Sejujurnya, kita harus menerima teknologi. Kita tidak bisa menolak teknologi, karena setiap tahun akan terjadi perkembangan,” imbuhnya.
Steven juga menceritakan bahwa selama berada di Tiongkok, dirinya melihat pemanfaatan teknologi AI dan satelit dalam pekerjaan penggalian tanah. Bahkan, teknologi telah digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan rumah tangga, termasuk melalui peralatan yang dirancang untuk membantu aktivitas di dapur.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa perkembangan teknologi harus diikuti dengan kemampuan untuk beradaptasi dan terus berinovasi.
“Kami telah membuat sejarah. Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan teknologi. Polimdo bergerak bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga ke tingkatan internasional, karena peluang untuk keluar lebih besar. Tipsnya hanya tekun dan selalu mengasah diri untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di Polimdo,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post