Manado, Barta1.com – Kelompok Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mendapat pelatihan Peningkatan Kapasitas Manajemen Usaha sebagai upaya mendorong nelayan meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan.
Kegiatan yang berlangsung Kamis (3/9/2026) dan telah dilaksanakan dari tanggal 2 hingga 4 September 2026. Pelatihan tidak hanya membahas pengelolaan usaha, tetapi juga mendorong kelompok nelayan mengembangkan hasil tangkapan menjadi produk bernilai ekonomi, seperti abon ikan cakalang dan bakso ikan.
Manager Science and Fisheries Rare Indonesia, Wahid Suherfian, mengatakan kegiatan ini bertujuan menyegarkan kembali pemahaman kelompok mengenai konsep PAAP. “Jadi PAAP itu bukan hanya wilayah yang dilindungi, tapi juga harus dikelola dan masyarakat juga harus mendapatkan manfaat yang lebih dari ini,” ujar Wahid.
Menurutnya, hasil tangkapan nelayan perlu didorong agar memiliki nilai tambah sehingga manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat semakin besar. “Salah satunya dengan cara ini kita dorong untuk jadi ada usaha abon ikan, usaha bakso ikan. Nah ini yang dua ini yang mau kita dorong,” katanya.
NELAYAN DIDORONG PAHAMI KEUANGAN USAHA
Wahid menjelaskan, salah satu fokus pelatihan adalah membantu kelompok nelayan memahami manajemen keuangan usaha secara sederhana. Dengan pencatatan yang baik, nelayan diharapkan dapat mengetahui secara pasti biaya produksi, hasil penjualan hingga keuntungan yang diperoleh.
“Kita mau dorong bagaimana caranya mereka untuk me-manajemen keuangannya dengan baik secara sederhana. Supaya nanti ketika ditanya berapa keuntungannya, mereka tahu, bukan hanya rasa-rasa, oh untung, tapi berapa-berapanya itu yang enggak tahu,” jelasnya.
Materi pelatihan mencakup periode produksi, biaya proses produksi, hingga hasil penjualan. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara penyimpanan produk, proses pengurusan legalitas usaha, serta pentingnya memiliki standar operasional prosedur (SOP).
Wahid mengatakan legalitas menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan kelompok usaha, termasuk izin untuk produk usaha rumah tangga atau PIRT. “Kita juga ingin dorong, kira-kira saat ini teman-teman kelompok itu sudah di tahap mana, kira-kira dokumen mana yang belum lengkap, yang itu ingin kita bantu lengkapi,” ujarnya.
Sementara SOP dibutuhkan agar kualitas produk tetap konsisten meskipun terjadi pergantian anggota kelompok. “Supaya nanti ketika ada pergantian kelompok atau misalnya ada beberapa orang yang berhalangan hadir, itu bisa diganti oleh kelompok lainnya dan rasanya tetap konsisten, supaya masyarakat dan juga konsumen yang membeli juga tidak kecewa,” tambah Wahid.
ABON CAKALANG MULAI DIKEMBANGKAN KELOMPOK PAAP
Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah abon ikan cakalang oleh Kelompok PAAP Kumeke Nanas, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Ketua Divisi Bidang Usaha Kelompok PAAP Kumeke Nanas, Titi Baswan, mengatakan usaha abon cakalang tersebut mulai dirintis sejak Januari 2026.
Produksi dilakukan secara bertahap. Pada produksi pertama, tujuh orang anggota terlibat dan menghasilkan sekitar 17 bungkus abon dari lima kilogram ikan. Produksi berikutnya menggunakan 15 kilo gram ikan dan menghasilkan sekitar 120 bungkus. Namun untuk produksi ketiga dengan bahan baku 15 kilo gram ikan turun 86 bungkus. Produk abon cakalang tersebut dijual dengan harga Rp35 ribu per bungkus.
Namun, pemasaran produk saat ini masih terbatas di lingkungan kelompok nelayan dan belum masuk ke supermarket. Kondisi tersebut membuat produk abon cakalang tersebut belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Titi berharap produk yang mereka kembangkan dapat semakin dikenal dan memiliki pasar yang lebih luas. “Harapan kami produk abon ikan cakalang lebih dikenal oleh masyarakat Sulawesi Utara,” ungkapnya.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Ny. Rosita Manoppo-Pobela, S.E., M.Si, menyatakan pemerintah siap membantu dari sisi pemasaran.
Editor: Agustinus Hari

Discussion about this post