Manado, Barta1.com — Nama Jade Michelle tentu tak asing lagi di kalangan seniman. Kali ini, kiprahnya hadir dalam pameran MEMOAR, bersama dua rekan seniman, Vanessa Kerepowan dan Trifena Tuna.
Karya ketiganya terpajang di TFS HQ Tikala, Manado yang digarap oleh Home Art Creator, dan dapat dinikmati setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 23.00 Wita, hingga Jumat, 28 Agustus 2026.
Perempuan berparas cantik ini mengaku ketertarikannya terhadap dunia seni, khususnya seni lukis, telah tumbuh sejak dirinya masih kecil.
“Sejak kecil saya sering ikut lomba melukis maupun mewarnai, bahkan sering juara. Dari talenta itu saya mencoba mengembangkan hingga saat ini,” ungkap Jade kepada Barta1.com.
Kecintaannya terhadap seni pun telah melahirkan begitu banyak karya. Bahkan, ketika ditanya berapa jumlah karya yang telah dibuatnya, Jade mengaku sudah tak lagi mampu menghitungnya.
“Saya sudah banyak membuat karya, sudah tidak teringat lagi berapa banyak. Ada yang menggunakan akrilik, mix media, dan pensil,” jelasnya.
Dalam pameran MEMOAR, perempuan berlatar pendidikan sastra inggris itu menampilkan tujuh karya yang terdiri dari lima karya kanvas dan dua instalasi. Seluruhnya memiliki keterkaitan cerita dengan tema underwater atau kehidupan di bawah air.

“Lima karya kanvas dan dua instalasi saling berkesinambungan ceritanya. Tema yang saya ambil itu underwater. Semua menceritakan kondisi di bawah laut, namun maknanya lebih ke filosofikal daripada literal. Karena di situ ada gambar jam yang airnya di dalam,” ucapnya.
Menurut dia, salah satu karya berupa jam tersebut diberi makna “Calibration”, yang menggambarkan perjalanan seorang individu melewati waktu.
“Karya itu menceritakan setiap individu melewati setiap menit, setiap detik, dan setiap hari yang berubah. Kita tidak lagi menjadi individu yang sama ketika melewati hal-hal berbeda setiap harinya. Dan kita itu dikalibrasi oleh waktu,” katanya.
Rumah yang Tak Selalu Berupa Bangunan.

Karya berikutnya berjudul “Home Is a Feeling”, yang memperlihatkan koral atau karang dengan seekor ikan di tengahnya.
Jade mengatakan, ikan tersebut merupakan representasi dirinya. Karya ini mengeksplorasi gagasan bahwa rumah tidak selalu berarti sebuah lokasi fisik atau bangunan.
“Lukisan Home Is a Feeling memperlihatkan satu ikan di antara karang-karang. Itu menggambarkan saya sendiri. Karya ini mengeksplorasi tentang rumah bukan sebagai lokasi fisik. Saya bisa menemukan rumah di mana pun berada, tapi bukan dalam bentuk bangunan. Seperti sahabat, bahkan perasaan rumah itu ditemukan di tempat-tempat yang sebelumnya tidak diduga, di luar relasi darah,” tambahnya.

Selanjutnya, dirinya juga menampilkan karya berbentuk piring yang memperlihatkan sumpit dan seekor ikan, dengan judul “Shared Table”.
“Di dalam lukisan Shared Table ini, ikan yang menjadi ikonnya adalah ikan goropa (Ikan Kerapu), yang menjadi ikan favorit saya. Dua sumpit yang ditempel itu mengartikan salah satu hal yang disukai secara pribadi, karena dahulu saya tidak pernah makan semeja bersama keluarga,” tuturnya.
Melalui karya tersebut, ia mencoba mengabadikan dan menghargai momen makan bersama, ketika sebuah meja makan menjadi ruang untuk bertukar cerita dan informasi.
“Saya mencoba menghargai momen di mana makan semeja sambil bertukar cerita. Dalam satu meja itu banyak pertukaran informasi, banyak pertukaran cerita, serta sharing yang terjadi di meja makan,” tambahnya.
Laut sebagai Metafora Ingatan.

Jade juga menghadirkan karya yang tergabung dalam sebuah instalasi berjudul “I Wish Remembered More.”
Karya ini menggambarkan laut dengan pusaran-pusaran yang menyerupai black hole. Bagi Jade, gambaran tersebut merupakan metafora tentang cara kerja otak manusia.
“Karya I Wish Remembered More menggambarkan sebuah laut yang memiliki vortex-vortex seperti black hole, tapi yang ada di laut. Itu menggambarkan otak kita yang punya bagian berbeda serta informasi-informasi yang diproses pada bagian itu,” ucapnya.
Di tengah karya tersebut terdapat sebuah botol yang menjadi simbol informasi yang tidak sepenuhnya sampai atau tersimpan dalam otak.
“Misalnya kita menyampaikan satu kata, kemudian tidak teringat katanya apa, namun sudah di ujung lidah. Otak kita seperti laut, isinya banyak, tapi tidak bisa mengungkapkannya,” jelasnya.
Menyelami “The 49th Dive”
Selain itu, terdapat instalasi lainnya yang diberi judul “The 49th Dive.”
Jade menjelaskan, karya tersebut lahir dari sebuah cerita yang ia dengar ketika dirinya berada pada posisi sebagai seorang pendengar dari seseorang yang telah melakukan penyelaman hingga ke-49 kalinya.
“Pertanyaannya, kenapa dinamakan The 49th Dive? Itu menggambarkan sebuah cerita, di mana saya berada di posisi sebagai seorang pendengar seorang diver, di mana orang itu sudah diving ke-49 kali. Saya sendiri seorang yang awam untuk di bawah laut, mungkin hanya snorkeling saja,” imbuhnya.
Dari cerita tersebut, kemudian dia mencoba membangun imajinasi tentang dunia bawah laut melalui karya. Hal itu kemudian dituangkan dalam bentuk ikan-ikan dengan bentuk yang berbeda-beda.
“Working Memory” dan Jejak Pikiran
Karya lainnya adalah instalasi “Working Memory”, yang menghadirkan draf-draf skripsi di bagian belakang karya.

“Secara tidak langsung kita menaruh viewer sebagai posisi saya. Viewer yang saat ini melihat bagaimana cara kita untuk berpikir. Working Memory itu ada draf skripsi asli, yang ceritanya ditolak-tolak dosen. Ini kan ujung-ujungnya menjadi sampah, nah itu dimanfaatkan. Jadi, di setiap lukisan itu ada draf skripsi di dalamnya,” katanya.
Di dalam Working Memory, terdapat sketsa konsep, brainstorming judul, deskripsi, hingga sketsa lokasi tempat proses brainstorming dilakukan, yakni Cafe XXI Mantos 3.
“Rocky Bottom”: Titik Terendah yang Mengarah pada Cahaya.

Karya terakhir yang berukuran cukup besar, yakni 1 x 1 meter, diberi judul “Rocky Bottom.”
Karya tersebut menampilkan pemandangan dari bawah laut ketika pandangan diarahkan ke atas. Di bagian tengah terlihat sepasang ikan pari yang seolah sedang berputar dengan warna yang sama.
“Gambar besar itu sebuah pemandangan dari bawah laut, saat melihat ke atas. Kemudian di tengah-tengahnya ada ikan pari sepasang yang terlihat berputar, tapi warnanya sama. Ini menceritakan tentang saling menyeimbangkan, tapi dalam keharmonisan,” ungkapnya.
Nama Rocky Bottom sendiri memiliki makna yang lebih dalam. Bagi Jade, istilah tersebut menggambarkan titik terendah dalam kehidupan manusia.
“Kenapa namanya Rocky Bottom? Karena ini menyebut bagian dari titik terendah dalam sebuah kehidupan. Sebenarnya titik terendah itu bukan hanya satu. Titik terendah itu ada banyak, karena kehidupan itu naik turun, naik turun, naik lagi,” jelasnya.
Namun, bagi Jade, titik terendah bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, dari titik tersebut seseorang masih dapat menemukan alasan untuk kembali melihat ke atas.
“Secara personal juga melihat, titik terendah itu bukan sesuatu yang membuat kita menyerah. Namun, saat melihat ke atas ada cahaya yang mengartikan solusi, misalnya dalam bentuk lisan atau pertemuan dengan seseorang yang dapat mengubah perspektif kita dalam melihat kehidupan,” pungkasnya.
Melalui MEMOAR, Jade Michelle tidak sekadar menghadirkan gambaran tentang laut. Ia mengajak pengunjung menyelami ruang yang lebih dalam: tentang waktu, rumah, ingatan, hubungan, proses berpikir, hingga titik terendah dalam kehidupan. Laut dalam karya-karyanya menjadi ruang metaforis tempat manusia bercermin, mengingat, dan menemukan kembali makna perjalanan dirinya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post