Minahasa, Barta1.com – Laki-laki Gereja Protestan Maluku (GPM) Imanuel Ternate bersama Pria Kaum Bapak Jemaat Eben Haezar GMIM Manembo, Langowan Selatan, melaksanakan berbagai kegiatan penguatan iman di GMIM Eben Haezar Manembo, belum lama ini.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat relasi antargereja sekaligus membangun kebersamaan sebagai bagian dari satu tubuh Kristus. Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Imanuel Ternate, Pdt. Yonas Abraham Leleury.
“Kegiatan kami bersama Pria Kaum Bapak Jemaat Eben Haezar GMIM Manembo dan laki-laki Jemaat GPM Imanuel Ternate ini bertujuan memperkuat relasi antargereja sebagai bagian dari satu tubuh Kristus,” ungkap Yonas.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk semakin mempererat kebersamaan di antara laki-laki gereja, baik di lingkungan GPM maupun GMIM.
“Di tengah kehidupan bersama, kegiatan ini menjadi upaya untuk mempererat kebersamaan di antara laki-laki gereja, baik itu di GPM maupun di GMIM,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah agenda yang dilakukan. Salah satunya adalah mendesain bentuk ibadah kreatif yang biasa dilaksanakan di GPM. Selain itu, digelar pula seminar yang membahas tentang restorasi serta peran laki-laki gereja di ruang publik.
Seminar tersebut, kata Yonas, diarahkan untuk melihat bagaimana peran laki-laki dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan iman, baik di tengah keluarga, kehidupan berjemaah, maupun dalam membangun relasi di tengah masyarakat.

Ia menegaskan, laki-laki memiliki tanggung jawab penting dalam memperkuat ketahanan iman keluarga. Karena itu, kehadiran laki-laki diharapkan benar-benar membawa kesejukan dan kedamaian dalam kehidupan keluarga, yang selanjutnya dapat memberi dampak positif dalam kehidupan berjemaah dan bermasyarakat.
Selain penguatan iman, kegiatan tersebut juga diisi dengan penanaman pohon sakura. Proses penanaman dilakukan oleh pimpinan GPM Imanuel Ternate bersama panitia pelaksana.
Menurut Yonas, kegiatan menanam tersebut menjadi bagian dari upaya menggerakkan kembali semangat laki-laki gereja dalam berkebun dan bercocok tanam. Gerakan itu sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat ketahanan pangan lokal masyarakat dalam menghadapi berbagai perkembangan dan tantangan global.

“Kegiatan kami juga berkaitan dengan penanaman pohon sakura. Ini bertujuan menggerakkan kembali semangat laki-laki gereja dalam berkebun dan bertanam sebagai bagian dari gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan pangan lokal masyarakat, sehingga kita memiliki kekuatan dalam menghadapi berbagai perkembangan dan peristiwa global,” ucapnya.
Ia menilai, apabila keluarga diperkuat melalui gerakan menanam, hasil yang diperoleh bukan hanya dapat dikonsumsi sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi kehidupan keluarga.
“Kita melihat bahwa gerakan menanam dalam keluarga dapat menjadi salah satu kekuatan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, bahkan menjadi sumber pendapatan bagi kehidupan keluarga,” ujarnya.
Di sisi lain, Yonas juga menyoroti persoalan lingkungan yang semakin serius di tengah perkembangan zaman. Berbagai kerusakan lingkungan akibat proses pembangunan, termasuk dampak aktivitas pertambangan, menjadi perhatian bersama.
Karena itu, gerakan menanam bibit pohon diharapkan dapat menyadarkan laki-laki gereja untuk semakin peduli terhadap persoalan lingkungan.
“Gerakan menanam bibit pohon ini menyadarkan kita sebagai laki-laki gereja untuk peduli terhadap persoalan lingkungan, karena lingkungan adalah ruang yang Allah berikan kepada kita untuk dijaga dan dipelihara,” imbuhnya.
Menurutnya, memelihara dan menanam bibit pohon pada hakikatnya sama dengan memelihara kehidupan. Semangat tersebut juga terus dikembangkan di Gereja Protestan Maluku melalui berbagai gerakan pemberdayaan keluarga, seperti Gerakan Keluarga Menanam (GKM), Gerakan Keluarga Melaut, beternak, hingga memasarkan hasil usaha keluarga.
“Gerakan-gerakan ini bertujuan agar setiap keluarga memiliki kemampuan untuk memperkuat kehidupannya. Ini juga merupakan bagian dari proses pemberdayaan bersama,” jelasnya.
Kegiatan tersebut turut diisi dengan puji-pujian sebagai bagian dari upaya memperkuat spiritualitas laki-laki gereja. Yonas mengatakan, perkembangan dunia yang semakin pesat, termasuk kemajuan teknologi informasi (IT) dan penggunaan media sosial, turut memengaruhi kehidupan masyarakat.
Karena itu, laki-laki gereja juga dituntut mampu mengambil peran positif dalam perkembangan tersebut sehingga teknologi dan media sosial dapat digunakan untuk hal-hal yang membangun kehidupan bersama.
Sebagai rangkaian penutup, kegiatan dilanjutkan dengan agenda wisata rohani dengan mengunjungi sejumlah tempat. Menurut Yonas, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat sekaligus memperdalam semangat pelayanan, khususnya bagi laki-laki gereja.
“Wisata rohani ini menjadi kesempatan bagi kami untuk semakin memperkuat dan memperdalam semangat dalam melayani, terlebih dalam panggilan sebagai laki-laki gereja,” pungkasnya. (*)
Editor: Meikel Pontolondo

Discussion about this post