Sangihe, Barta1.com — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Liun Kendage Tahuna tengah membenahi tiga fasilitas vital yang berkaitan langsung dengan pelayanan pasien, yakni ruang perawatan anak, sistem kelistrikan, dan ketersediaan oksigen medis.
Direktur RSUD Liun Kendage Tahuna, Polideng Dalawir, mengatakan pembenahan dilakukan sebagai bagian dari evaluasi rumah sakit untuk memastikan pelayanan tetap berjalan sekaligus menyiapkan fasilitas yang lebih memadai.
Salah satu yang menjadi prioritas adalah ruang perawatan anak di ruang Anggrek. Manajemen rumah sakit memilih mempercepat pemindahan pelayanan ke gedung baru ketimbang melakukan renovasi besar terhadap bangunan lama.
“Kalau yang dikeluhkan adalah ruang perawatan anak di ruang Anggrek, itu akan segera dipindahkan ke gedung baru,” kata Dalawir saat diwawancarai pada Senin (17/8/2026).
Menurut dia, gedung baru tersebut telah dipersiapkan sejak awal tahun. Saat ini, proses persiapan tinggal menunggu pemasangan pendingin ruangan atau AC.
Dalawir mengatakan keputusan tersebut diambil setelah manajemen melakukan evaluasi pada awal tahun. Saat itu terdapat dua pilihan, memperbaiki gedung lama Anggrek atau melanjutkan persiapan gedung baru.
Dengan keterbatasan anggaran, rumah sakit memilih mempercepat pemanfaatan gedung baru yang direncanakan menjadi lokasi pelayanan secara permanen.
“Dalam keterbatasan anggaran, kami memilih untuk mempersiapkan bangunan baru yang akan ditempati selanjutnya secara permanen,” ujarnya.
Ia mengakui ruang Anggrek saat ini belum sepenuhnya ideal. Sejumlah fasilitas membutuhkan pembenahan, termasuk AC yang mengalami kebocoran dan kondisi bangunan yang belum dicat.
Namun, menurut Dalawir, anggaran yang tersedia lebih diarahkan untuk mempercepat kesiapan gedung baru.
Jika seluruh fasilitas selesai, pelayanan anak ditargetkan segera dipindahkan ke gedung tersebut. Ruang baru itu nantinya akan melayani pasien kelas I, II dan III serta dilengkapi AC.
Panel Induk Listrik Sempat Korslet
Persoalan fasilitas lain yang berdampak terhadap pelayanan adalah sistem kelistrikan. Dalawir menjelaskan gangguan listrik sebelumnya terjadi akibat kerusakan pada instalasi dan korsleting di panel induk listrik.
Panel tersebut menjadi jalur utama distribusi listrik dari bangunan lama hingga bangunan baru. Bahkan, pasokan dari genset berkapasitas 1.000 KVA tetap harus melewati panel tersebut.
“Walaupun genset memiliki kapasitas 1.000 KVA, tetap harus melalui panel itu. Jadi ketika panel terganggu, aliran listrik juga tidak bisa menyala,” katanya.
Menurut Dalawir, panel induk tersebut telah diperbaiki. Namun, saat dilakukan penggantian komponen yang rusak dan pemasangan instalasi baru, kembali ditemukan korsleting.
Perbaikan kemudian dilakukan oleh tenaga instalasi hingga sekitar pukul 01.00.
“Masih ada korslet, tetapi sudah berhasil diperbaiki,” ujarnya.
Mesin Oksigen Menurun Setelah Tujuh Tahun
Di sisi lain, RSUD Liun Kendage juga menghadapi keterbatasan fasilitas produksi oksigen. Dalawir mengatakan penyediaan oksigen saat ini dilakukan melalui kerja sama operasional dengan pihak penyedia.
Namun, mesin yang digunakan telah mengalami penurunan fungsi karena sudah berusia sekitar tujuh tahun.
Jika sebelumnya mesin mampu menghasilkan hingga sekitar 50 tabung oksigen per hari, kini kapasitasnya harus dibatasi untuk mencegah kerusakan yang lebih parah.
“Sekarang kapasitasnya kami batasi supaya mesin tidak jebol,” katanya.
Dalam kondisi saat ini, produksi berada pada kisaran 20 hingga 24 tabung per hari apabila mesin dipaksakan bekerja.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan ketika kebutuhan pasien melampaui kapasitas produksi.
“24 tabung artinya 24 orang. Begitu ada orang ke-25, itu sudah menjadi persoalan. Begitu juga orang ke-26 atau ke-27,” kata Dalawir.
Karena itu, rumah sakit menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan sistem oksigen terpusat. Dalawir mengatakan proposal pembangunan sistem tersebut telah disiapkan bersama pemerintah daerah dan berhasil meraih juara pertama dalam sebuah kompetisi.
Rumah sakit kini mencari dukungan pembiayaan melalui sejumlah sumber, mulai dari investor, Kementerian Kesehatan, hibah hingga Dana Alokasi Khusus. “Ke depan kami ingin oksigen sudah tersedia di setiap tempat tidur, di kepala tempat tidur atau bedhead, sehingga tersedia outlet oksigen,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, oksigen dapat dialirkan langsung ke tempat tidur pasien melalui instalasi yang tertanam di dinding. Petugas tidak lagi harus mengambil atau memindahkan tabung oksigen secara manual.
Dalawir mengatakan pembenahan ruang anak, sistem kelistrikan dan fasilitas oksigen menjadi bagian dari upaya rumah sakit memperbaiki kualitas pelayanan.
“Jadi tindak lanjut kami adalah mempercepat proses di bangunan baru dan menyiapkan fasilitas yang lebih baik,” katanya.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post