Palu, Barta1.com – Roda perekonomian sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Palu, Sulawesi Tengah, terus menunjukkan daya tahannya. Salah satu potret nyata kebangkitan tersebut dialami oleh Muhammad Syarifuddin (42), seorang pedagang es campur dan es buah di Pusat Kuliner Gunung Bosa.
Dia berhasil mengembangkan usahanya setelah mendapat suntikan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT PLN (Persero) UP3 Palu.
Kesuksesan pria yang akrab disapa Udin ini tidak datang secara instan. Sebelumnya, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika lahan tempatnya berjualan menggunakan gerobak kayu sederhana terpaksa harus dikosongkan karena diambil alih oleh sang pemilik asli.
Kondisi tersebut seketika mengancam keberlanjutan mata pencaharian utamanya, menyisakan bayang-bayang ketidakpastian dalam menafkahi keluarganya setiap hari. Merespons kerentanan ekonomi di sektor akar rumput tersebut, PLN UP3 Palu turun tangan memberikan paket kemandirian komprehensif untuk menyelamatkan aset usaha mikro.
Dukungan korporasi terhadap sektor UMKM memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Mengacu pada data Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, sektor UMKM secara konsisten menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang angkanya mencapai lebih dari 60 persen, serta menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di berbagai daerah.
Bantuan yang disalurkan PLN kepada Syarifuddin tidak sekadar dana tunai yang cepat habis, melainkan fasilitas modal kerja permanen yang berkelanjutan. Paket TJSL tersebut mencakup satu unit gerai box container yang kokoh, meja dan kursi pelanggan, penyambungan instalasi listrik secara gratis, hingga seperangkat kompor induksi modern.
Dampak dari intervensi sarana fisik tersebut langsung dirasakan secara signifikan oleh Syarifuddin.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN UP3 Palu. Sebelum bantuan ini datang, saya sempat kebingungan dan takut tidak bisa menghidupi keluarga lagi karena diusir dari lahan sebelumnya,” ungkap Syarifuddin saat melayani pelanggan, Kamis (18/06/2026).
Transformasi tempat usahanya menjadi gerai kontainer yang modern dan dialiri listrik memadai telah membawa efek domino positif terhadap pendapatan hariannya.
“Kini, dengan gerai kontainer yang layak dan listrik yang memadai, usaha saya justru jauh lebih berkembang. Pelanggan semakin ramai karena tempatnya bersih dan nyaman, omzet saya pun meningkat drastis,” tambahnya.
Selain fasilitas tata ruang kedai, modernisasi peralatan melalui penggunaan kompor induksi yang diberikan PLN turut mengubah standar kerja Syarifuddin. Transformasi dari energi konvensional ke energi listrik (electrifying lifestyle) ini membuat proses penyiapan dagangan menjadi lebih cepat, efisien, dan menekan biaya operasional harian.
Aspek kebersihan dari kompor induksi juga menghilangkan masalah polusi gas buang dan asap yang kerap mengganggu kenyamanan pelanggan. Gerai yang bersih dan higienis kini menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung Pusat Kuliner Gunung Bosa untuk mampir.
Menanggapi keberhasilan mitranya, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, menegaskan bahwa program TJSL adalah wujud nyata komitmen perusahaan yang melampaui sekadar orientasi profit.
“PLN berkomitmen penuh agar kehadiran energi listrik tidak hanya menjadi penerang, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku UMKM. Melalui program TJSL ini, kami ingin memastikan bahwa usaha mikro seperti yang dijalankan oleh Pak Syarifuddin dapat naik kelas,” urai Usman.
Usman berharap capaian di Palu ini dapat menginspirasi transisi UMKM lainnya menuju kemandirian ekonomi yang lebih hijau.
“Dari yang sebelumnya serba terbatas dan penuh ketidakpastian, kini menjadi mandiri, lebih produktif, dan mapan secara ekonomi dengan memanfaatkan electrifying lifestyle yang ramah lingkungan,” pungkasnya. (**)
Editor: Ady Putong

Discussion about this post