Barta1.com– Mei 2023, saya dipercayakan memberikan catatan latar historis terkait Jalur rempah untuk pameran seni rupa bertajuk: “Trayektori Imaji: Laut, Pulau dan Jalur Rempah”, yang berlangsung di Gedung Pasar Rakyat Trikora, Kota Tahuna, Sangihe. Dan itu merupakan kesempatan yang mewah bagi saya. Mengapa?
Kisah perdagangan dan pelayaran dari era yang jauh itu dalam sejarahnya telah menjadi ruang kemilau yang memicu intuisi komponis kelahiran Salzburg, Wolfgang Amadeus Mozart melihat dunia timur lewat gubahan-gubahan musiknya.
Bahkan penyair Jerman Johann Wolfgang von Goethe pernah menulis sebuah bait “Dort , im reinen und rechten! Will ich menslichen geschelecthen! In des ursprungs tiefe dringen” (ke sanalah, ke kesucian dan kesalehan, aku kan kembali ke asal mula ras manusia).
Demikian. Seperti para perupa yang menampilkan karyanya kali ini, saya memandang, narasi sejarah, kemaritiman, tradisi, sosial, pengalaman mobilitas dan kosmopolitanisme tak lain merupakan ruang bernas bagi imagi dan tafsir. Begitu saya memulai catatan ini dari sebuah puisi:
Suatu Hari di Pulau Kawio
siapa menyangka
pernah tiba di sini
Juan Sebastian del Cano
atapatap hijau mangrove
dan laut yang kutatap
diramaikan ikan bersirip dan kakap
kubayangkan kesepakatan Tordisalles
semua samudera baiklah disusur
sebagai bukti bumi bulat bagai bola
dan di tebing batu pasir putih ini
kapten del Cano pertama kali menyakini
manusia tak bisa lari dari peta hidupnya sendiri
aku mendengar ada musik hispanik
diramu malam dusun
mengiringi penari
di pesta hari anakanak bumi
aku ikut bernyanyi
dan menghanyutkan lamun
jauh ke sana ke layar masa lalu
yang berarak mencariku di sebuah pantai nan bisu
Hal tersublim bagi saya saat sampai di pulau Kawio, suatu Ketika di tahun yang lama, yang terbayangkan adalah era Magellan tahun 1519. Di sana pernah tibah Juan Sebastian del Cano, seorang kapten kapal yang memimpin ekspedisi Ferdinand Magelhaens.
Begitu Sangihe Talaud, di peta sejarah niaga dunia adalah salah satu kawasan lintasan persaingan dagang dan perebutan hegemoni kekuasaan di masa lalu. Sebagai kawasan di perairan laut Sulawesi, Sangihe Talaud masuk dalam enam Jalur Niaga –disebut juga Jalur Rempah– terpenting di abad ke-15.
Alex John Ulaen dalam “Nusa Utara: Dari Lintasan Niaga ke Daerah Perbatasan”, menyebutnya sebagai daerah yang masuk pada kawasan perniagaan Laut Sulawesi.
Peran Nusa Utara (Kepulauan Sangihe dan Talaud) adalah sebagai tempat transit penting dari dua jalur perniagaan utama menuju Pulau Rempah. Yakni, bagi para pedagang yang datang berlayar dari arah barat, Malaka, yang biasanya akan berlayar menuju Pulau Rempah dengan menyusuri laut di bagian utara Pulau Borneo, lalu berbelok ke arah timur menuju Laut Sulu, transit di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi ke Pulau Rempah Maluku Utara.
Sedangkan dalam jalur pelayaran lain, adalah yang biasa dilalui oleh para pedagang dari daratan Cina yang berlayar melalui wilayah barat Kepulauan Filipina, menuju ke Laut Sulu, transit sebentar di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi manuju ke Pulau Rempah.
Dua jalur pelayaran inilah yang nantinya akan diikuti oleh Bangsa-Bangsa Barat ketika mereka hendak menuju ke Pulau Rempah pada awal-awal kedatangannya di Nusantara.
Dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia, boleh dikatakan jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting dibanding sejarah jalur sutra yang berhulu di Cina.
Di era Marco Polo (1254-1323), catat misionaris D. Brilman, disebutkan Venesia dan Genoa telah menjadi gerbang bagi rempah-rempah asal Timur Nusantara, terutama pala, cengkih, fuli dan lada untuk pasar Eropa.
Di era yang sama, alur perdagangan Hindia juga memasok hasil bumi Negeri Timur ini lewat pelabuhan-pelabuhan laut tengah dan laut hitam. Dari sana, barang-barang itu kemudian diangkut orang Italia ke kota-kota pelabuhan mereka, kemudian dipasarkan ke seluruh belahan Eropa. Terutama pala, cengkih, fuli dan lada dipakai dalam jumlah besar untuk jamuan dan ramuan.
Anthony Reid, kutip NuuN, menyebut tahun 1400-1650 sebagai zaman perdagangan di wilayah Asia Tenggara dengan keadaan pasar yang amat menggembirakan. Pengaruhnya tidak hanya ke Eropa dan Laut Tengah, tetapi juga sampai ke Cina dan Jepang.
Ketika itu, kota pelabuhan merupakan pusat perekonomian regional, politik, dan kebudayaan yang menonjol.
Menurut data tersebut, para pedagang dari Melayu, Arab, Persia, dan China membeli rempah dari Nusantara, kemudian dibawa dengan kapal ke Teluk Persia dan didistribusikan ke seluruh Eropa melalui Konstantinopel (Istanbul) di wilayah Turki saat ini, dengan harga mencapai 600 kali lipat.
Di antara abad ke 13 hingga Abad ke 16, perdagangan rempah-rempah merupakan sumber kemakmuran bagi beberapa negara Eropa yang wilayahnya berbatasan dengan Laut Mediterania, hingga memunculkan negara-negara kota di Eropa.
Dalam catatan D. Brilman, seorang misionaris Eropa yang pernah bertugas di Sangihe Talaud sejak 1927 disebutkan, pada bulan September 1509 beberapa kapal Portugis di bawah komando Diego Lopez de Sequaria telah berangkat ke Asia Timur, di mana mereka tiba di Makal, melalui yang kini di sebut Hindia Belanda.
Pada tahun 1511 mereka merebut kota dagang Malaka yang sangat maju, di bawah pimpinan d’Albuquerque. Orang Portugis menemukan rempah-rempah yang berasal dari Hindia yang diperdagangkan di tempat itu, namun mereka belum sampai ke negeri asalnya.
Baru pada bulan Desember 1511 beberapa kapal di bawah komando Antonio d’Abreu di kirim oleh d’Alburqueque dengan maksud untuk menemukan negeri rempah yang sangat diharapkan itu.
Masih belum berahkir tahun 1511, sampailah armada ini di Gresik, di pulau Jawa, dan dari sana mereka ke Banda, di mana waktu itu untuk pertama kalinya orang Eropa membeli rempah-rempah langsung dari orang pribumi penghasilnya. Hubungan antara Eropa dengan Maluku telah di mulai.
Pada mulanya, ungkap Brilman, orang Portugis tidak menganggap wilayah-wilayah ini sebagai suatu wilayah jajahan baru. Jauhnya jarak dari Malaka dan Goa rupanya telah menjadi salah satu sebab, mengapa orang tidak mementingkan ‘’pemerintahan’’ tetapi justru mereka cukup puas mendirikan kantor-kantor dagang.
Hal ini berubah waktu tetangga mereka dari Eropa, yaitu orang Spanyol, juga ingin menjadi tetangga mereka di Hindia, karena pada bulan November 1512 mereka mendarat di Tidore, pulau yang bermusuhan dengan Ternate.
Di bawah pimpinan Fernando de Magelhaen (atau Magellaan) mereka telah menemukan jalan laut yang baru ke pulau-pulau rempah-rempah Hindia, melalui yang sekarang disebut selat Magellaan, kepulauan Philipina, dan kepulauan Sangihe Talaud.
Dengan penemuan itu, orang Portugis sama sekali tidak senang dan menganggap pendudukan orang Spanyol di Maluku sebagai tindakan yang mungkin tidak sah.
Untuk mengendalikan persaingan antara Spanyol dan Portugal, maka Paus Alexander VI telah menarik garis batas terkenal, yang menentukan bahwa dari daerah-daerah yang baru ditemukan, bagian yang terletak di sebelah timur garis itu kepada Spanyol.
Dalam perjanjian Tordesillas pada tanggal 7 Juni 1494, satu dan lain hal, tulis Brilman, diuraikan lebih lanjut oleh kedua raja yang bersangkutan dan garis batas ditentukan pada 370 mil sebelah barat dari kepulauan Tanjung Verde dan pulau-pulau Asur.
Menurut pembagian ini Maluku terletak di bagian yang ditentukan kepada Portugal, yang sejak saat itu bertindak lebih kuat.
Dalam bulan Februari 1522 sebuah armada Portugis mendarat di bawah komando Antonio de Britto di pulau Banda, yang tiba pada bulan Mei berikutnya di Ternate dan pada tanggal 24 Juni tahun itu juga sudah dimulailah pembangungan suatu benteng.
Sementara itu, sebelum masa VOC – Belanda, pada tahun 1594 Raja Siau Ketiga Winsuļangi (1591-1639) atau yang dikenal dengan nama baptis Don Jeronimo Winsuļangi mengikat perjanjian kerjasama keamanan dan perlindungan dengan gubernur Spanyol untuk wilayah Asia (Filipina) di Manila.
Sejak itu kerajaan Siau dijaga oleh Spanyol. Nanti pada tahun 1677 Siau ditundukkan oleh Belanda dengan mempergunakan Sultan Ternate Kaitjil Sibori sebagai pelaksana.
Tercatat sejak 9 November 1677 kerajaan ini menjadi bagian dari wilayah yang tunduk pada kehendak VOC – Belanda sebagaimana perjanjian lange contract yang ditandatangani Raja Franciscus Xaverius Batahi.
Banyak kerajaan di Sulawesi Utara diklaim sudah sejak abad ke-16 berada di bawah supremasi Ternate. Kerajaan Tagulandang oleh Kesultanan Ternate dianggap sebagai kerajaan bawahan.
Kontrak yang diteken Laksamana François Wittert dengan Ternate Juli 1609, sebagai penegasan konvensi pertama 26 Mei 1607, telah menyebut Pangasare atau Tagulandang sebagai kerajaan di bawah mahkota Ternate, termasuk Sangihe.
Maka, sejak kontrak tersebut, dengan dalih sebagai ‘pelindung’ Ternate termasuk kewajiban untuk membantu melawan orang-orang Spanyol yang diberikan Sultan Ternate, di mana kontraknya mencakup semua kerajaan di bawah Ternate; Kompeni Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie) telah menggunakan pengaruh kuat untuk monopoli perdagangan dan membangun koloni.
Pendekatan ditempuh dengan memelihara dan giat menjalin hubungan persahabatan sekaligus hubungan politik dengan penduduk di Sangihe, termasuk dengan Tagulandang.
Gubernur Maluku Wouter Seroyen bahkan di tahun 1646 telah membangun garnisun militer di Tagulandang. Ia pun memerintahkan penduduk untuk menanam cengkih (nagelboomen).
Cengkih Tagulandang telah terkenal sejak lama. Karena orang-orang Spanyol di Siau pertama memperolehnya dari Tagulandang, seperti dicatat Ds. Gualterus Peregrinus.
Di tanggal 23 Juni 1664 Raja Tagulandang meneken kontrak politik dengan Kompeni Belanda diwakili Gubernur Maluku Anthony van Voorst. Ini menjadi langkah berani Tagulandang, juga pertanda begitu longgarnya ikatan antara Ternate dan Tagulandang.
Kontrak tersebut menjadi perjanjian yang pertama terjadi dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Tanaman cengkih Tagulandang tahun 1653 diberantas seperti di tempat lain dalam wilayah Gubernemen Maluku atas perintah Gubernur Jacob Hustaard.
Valentijn mencatat di tahun 1680 ditemukan kembali satu pohon cengkih yang telah ditebang. Kemudian pula ditemukan tahun 1683 menurut missive Gubernur Jenderal Cornelis Speelman 19 Maret 1683.
Penjelajah Spanyol, Ferdinand Magellans, dalam perjalanan terkenalnya mengelilingi bumi, kutip Ulaen dari catatan pribadi Antonio Pigafetta tertanggal, 28 Oktober 1521 menyebutkan sebagai berikut: “Tanggal 28 Oktober 1521, berlayar ke selatan-tenggara, kami melewati delapan buah pulau, sebagian dihuni dan sebagian tidak berpenduduk. Mereka menamainya Cheava (Marore?), Cavio (kawio), Cabiao (Kamboleng), Camanuca (Mamanuk/matutuang), Cabaluzao (Cawaluso), Cheai (Dumarehe). Lipan (Lipaeng) dan Nusa (Nusa). Pulau Sanghir (Sangihe-Besar) merupakan pulau terbesar di gugusan Kepulauan Sangihe. Di sana terdapat empat raja, yakni raja Matandatu, raja Laga, raja Bapti, dan raja Parabu.”
Sementara, Robertus Padbrugge, seorang pegawai VOC yang berkunjung ke daerah ini pada 1677 mengungkapkan, gugusan kepulauan Sangihe Talaud selain letak geografisnya yang strategis sebagai tempat transit, juga memiliki beberapa komoditi penting yang sangat dicari kala itu seperti minyak kelapa (coconut oil) dan kopra (Ulaen, 2016: 43-44).
Demikian rempah dari tanah Timur Nusantara, tak saja punya kisah panjang dan dramatis. Namun berperan signifikan dalam membentuk sejarah peradaban maritim dunia.
Utamanya Banda dan kepulauan Maluku. Namun, pala dan cengkeh hingga kini masih tumbuh subur di Sangihe Talaud dan Minahasa. Tanaman endemik Timur Nusantara ini tercatat sudah merajai pasar dunia sejak era yang sangat tua.
Seorang astronom Yunani tinggal di Alexandria, Mesir, bernama Claudius Ptolomaeus pada abad ke-1 Masehi (M), menulis Guide to Geography. Karya Ptolomaeus itu adalah sebuah peta kuno yang mencantum nama Barus, kota pelabuhan kuno yang menjadi tempat komoditas aromatik rempah, yang diburu oleh bangsa Yunani, Romawi, Mesir, Arab, Tiongkok, dan Hindustan.
Fakta sejarah lebih mencengangkan dipapar situs NuuN.id mengutip Direktorat Sejarah Kemdikbud RI melalui website kemdikbud.go.id. Data itu menyatakan adanya bukti-bukti, cengkeh telah digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengawetkan mumi di Mesir Kuno, sementara, pala sudah dikenal oleh masyarakat Yunani dan Romawi sejak tahun 24 SM.
Perdagangan rempah di Nusantara juga secara masif meninggalkan jejak peradaban yang signifikan berupa peninggalan situs sejarah, situs budaya, hingga melahirkan beragam produk budaya yang terinspirasi dari alam Nusantara yang kaya.
Tampak sekali, di masa lalu orang-orang berbagai bangsa berbondong-bondong ke Nusantara tidak semata untuk berdagang, tetapi lebih pada untuk membangun peradaban, sebagaimana kini terefleksi dalam kanvas perupa hari ini.
Karena memang seperti juga para geographer sebagai perupa bumi, pada akhirnya, seniman adalah para perupa perdaban.(*)
Penulis/ Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post