Dahulu kala, di sebuah desa di selatan Kepulauan Talaud, ada seorang pemuda bernama Lawongo. Ia sosok pemuda yang riang dan rajin bekerja. Ia bertani dan berburu. Kebunnya luas, dan panennya berlimpah. Pada hari senggang, ia pergi menyusuri hutan untuk berburu.
Ayah dan ibunya sangat senang dengan sikap Lawongo, selain rajin, ia suka berbagi hasil panen dan buruannya dengan para tetangga. Lawongo juga dikenal pandai membuat dan memainkan suling. Ia juga mencipta lagu. Lagunya selalu indah didengar dan menyentuh hati.
Setiap kali ia memainkan suling membawakan lagunya, orang-orang yang mendengarnya merasa hanyut dalam alunan nada yang merdu itu. Orang-orang tua dan lanjut usia kadang menangis haru dibuatnya. Para gadis tergetar hatinya.
Lagu Lawongo kadang bernuansa getir dan sedih. Tapi sesekali ia memainkan nada-nada gembira yang meriangkan hati. Pada saat sendiri, di tepi pantai atau di dasan (gubuk) kebun ia kadang memainkan balun hatinya dengan nada-nada cinta yang sendu.
Gadis mana tak tersentuh dengan permainan suling Lawongo. Kemahirannya meniup alat musik kecil dari seruas bambu itu nyaris sulit dicari tandingannya. Orang-orang desanya menganggap Lawongo memang dilahirkan untuk meniup suling dan menciptakan nada-nada indah.
Sebagai seorang pemuda tampan dan bertubuh kekar, gadis mana tak menaruh hati padanya. Apalagi ia seorang yang rajin bekerja, baik hati, dan pandai memainkan suling. Tapi bagi Lawongo, cinta hanya sekali, sesudah itu sehidup semati.
Di desa itu, ada seorang gadis yang membuat hati Lawongo jatuh bertaklik. Anak gadis dari keluarga sederhana namun berparas cantik. Woi namanya. Rambutnya panjang, mengkilap bagai malam tersiram cahaya bulan. Alisnya tipis berderet bagai kirap semut hitam erat menempel di parasnya yang selalu berderai. Matanya cerah, seakan matahari selalu pagi di lindapannya. Tutur suaranya lemah lembut. Dan yang terpenting, merdu suling Lawongo seakan pemantik embun cinta untuk pasrah meleleh dari mata indahnya.
Lawongo dan Woi lalu menikah. Banyak gadis patah hatinya. Namun tak sedikit pemuda dirundung kecewa kehilangan gadis bermata indah bagai lentera. Tapi mereka berdua saling mencinta dan hidup bahagia.
Namun cinta Lawongo dan Woi ternyata tak seindah suling yang berdendang riang. Ada kemelut yang seakan datang mengintai dari sebuah padang kematian.
Pada suatu malam, Lawongo tertidur. Ia bermimpi berkelahi dengan seekor babi hutan yang bersar dan tambun. Dalam pertarungan yang sengit itu, sang babi akhirnya mati tertikam Sondappa (senjata berbentuk pisau yang berukuran besar) milik Lawongo.
Saat ia terjaga, ia mencoba mengartikan makna mimpinya. Namun sudah sekian lama, mimpi itu tak jua mampu dimaknakannya. Hanya saja ia merasa ada yang aneh dari mimpinya. Isyarat apakah ini sebenarnya?
Pagi-pagi Lawongo pamit pada Woi isterinya. Ia bergegas ke hutan untuk berburu seperti biasa. Seharian ia masuk keluar hutan namun tidak mendapat binatang yang bisa diburu. Ia kelelahan dan kehausan. Ia mencoba beristihat sambil mencicipi air dan buah kelapa muda yang dipetiknya di hutan.
Tapi aneh! Sondappa tak bisa dicabut dari buah kepala yang baru dipotongnya. Sondappa seakan menancap kuat di buah kelapa muda itu. Benar-benar tak seperti biasanya. Lawongo bersusah payah mencabutnya. Pada akhirnya pisau itu tercabut dari buah kelapa. Tapi ia begitu terkejut. Sondappa-nya berlumuran darah. Lawongo tiba-tiba disergap tanya, apa gerangan kejadian ini sebenarnya?
Dari mimpi hingga ke kejadian nyata melihat Sondappa yang berdarah-darah, sesungguhnya ini menandakan akan ada malapetaka. Perasaan Lawongo tercekam. Pikirannya dihantui berbagai praduga. Dengan gugup ia pulang menuju rumah.
Di desa ternyata ada sesuatu yang membuat gempar. Orang-orang tampak berkerumun di rumah tinggal Lawongo.
“Ada apa?” tanya Lawongo kepada orang-orang. Tapi semuanya seperti enggan menjawab. Semuanya hanya menatap Lawongo dengan pandangan yang sedih. Hati Lawongo terguncang. Ia menyeruak cepat masuk ke dalam rumah. Di sana Lawongo melihat istri terbujur kaku berlumuran darah.
“Ia mati seperti ditikam seseorang dengan Sondappa,” terangkan salah seorang sanak saudaranya. Lawongo tertunduk lemas dan pilu.
“Inilah jawaban dari mimpi dan kejadian di hutan tadi,” gumam Lawongo sedih.
Dengan berat hati Lawongo menceritakan mimpinya dan semua kejadian saat di hutan kepada sanak saudaranya.
“Jadi, sebenarnya istriku mati ditanganku sendiri,” katanya dengan duka dan pedih.
Sanak saudara mencoba menghiburnya agar bisa menghadapi kejadian itu dengan ikhlas dan berbesar hati. Tetapi bagi Lawongo, kehilangan Woi istri yang sangat ia cintai bukan perkara mudah. Karena memang tak ada niat sedikit pun dalam hatinya untuk membunuh istrinya tercinta.
“Aku mau mati bersama istriku!” Begitu ujar Lawongo tiba-tiba. Orang-orang terkejut mendengarnya.
“Mengapa harus begitu,” tegur seorang tetua.
“Ini sudah keputusanku untuk hidupku sendiri,” kata Lawongo.
Mendengar pernyataan Lawongo, semua orang tercekam dan tunduk. Tapi tak ada yang berani menegurnya. Semua sanak saudara juga tercekat diam.
“Buatkanlah peti jenazah yang ukurannya lebih besar, yang bisa menampung dua orang. Tolong buatkan juga lubang di atas penutup peti. Pasangkanlah lubang itu dengan sepotong bambu panjang sampai ke atas tanah agar aku bisa bernapas. Aku akan membawa suling ke dalam liang kubur yang akan ditiup terus menerus sampai aku mati,” ujar Lawongo.
Sanak saudara sekali lagi coba mencegah keinginan Lawongo. Tetapi tekad Lawongo sudah bulat.
Persiapan pemakaman pun dilakukan. Setelah semuanya rampung, Lowongo dan Woi istrinya pun dikuburkan bersama-sama.
Sejak saat itu, sayup-sayup terdengar bunyi suling dari dalam tanah yang terus mengalunkan lagu-lagu kesedihan. Iramanya sangat menyayat. Seakan itu irama penyesalan seorang suami yang tanpa sengaja telah membunuh istri tercintanya.
Hari berganti, waktu berlalu, lambat-laun bunyi suling itu melemah. Tiga hari kemudian, bunyi suling benar-benar berhenti. Bagi penduduk desa itu petanda Lawongo telah meninggal dunia. Terguncanglah semua perasaan sanak saudara. Lawongo telah tiada. Bersama cintanya ia meninggalkan dunia mengikuti Woi istrinya.
Di malam ketiga saudara perempuan Lawongo bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat Lawongo, kakaknya, datang padanya.
“Jangan bersedih lagi, adikku. Bangunlah. Pergilah ke pantai. Jika melihat benda putih di kaki langit dan bergerak mendekatimu, janganlah ditunjuk,” ujar Lawongo kepada adiknya dalam mimpi itu.
Pagi-pagi benar saudara perempuan Lawongo itu bergegas menuju pantai. Setibanya di sana, ditatapnya kaki langit. Benar. Ada sebuah benda sebesar titik makin lama makin besar bergerak dari arah laut dengan cepat mendekatinya.
Melihat benda putih yang semakin dekat itu, menjadi takutlah ia. Adik perempuan Lawongo ini berteriak minta tolong kepada penduduk sekitar, tapi tanpa disadarinya, ia telah mengabaikan pesan kakaknya untuk tidak menunjuk ke arah benda yang datang itu. Saat itu pula, berhentilah benda yang datang dari kaki langit tersebut di sebuah tempat di tengah laut.
Penduduk sekitar pun mengambil perahu dan pergi mendekat. Ternyata benda putih yang mereka lihat adalah sebuah pulau karang. Penduduk pun menamakan pulau karang itu Napombaru. Napombaru berasal dari kata Napo (pulau karang atau kumpulan batu karang) dan Baru atau balu (berubah).
Cerita ini berpesan secara khusus bahwa hidup manusia itu fana. Tak ada yang abadi dalam dunia. Secara umum berpesan, cinta adalah anugerah terindah dari Tuhan yang menyatukan manusia.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post