BARTA1.COM– Di balik keindahan lanskapnya, sejarah kerajaan-kerajaan di Pulau Sangihe adalah kisah tentang ketangguhan menghadapi dua kekuatan besar: ambisi kolonial dan murka alam.
Jika Anda membuka peta dan membandingkannya dengan Monako atau Vatikan, kerajaan-kerajaan di Sangihe sebenarnya jauh lebih luas. Namun, sejarah seringkali lebih kejam daripada sekadar angka-angka di atas kertas yang mulai menguning.
“Wilayah kerajaan-kerajaan di Sangihe jelas jauh lebih besar dibanding kerajaan Eropa sezamannya yang kini masih tersisa,” kata Leonardo Axsel Galatang, seorang sastrawan yang pernah menginjakkan kaki di Monako.
Namun, sementara Monako lestari sebagai negeri mewah, kerajaan di Sangihe seperti Kendahe, Tabukan, dan Manganitu harus berjuang mempertahankan kedaulatan di tengah himpitan pengaruh Portugis, Spanyol, hingga VOC-Belanda.
Pada abad ke-18, pengelana F. Valentijn mencatat keragaman monarki di sini. Ada Kerajaan Kendahe yang wilayahnya membentang hingga ke Davao, Filipina, hingga Kerajaan Manganitu yang berpusat di Kauhis.
Namun, perlahan-lahan, peta kekuasaan itu mulai “mengempis“. Penjajah mulai masuk sejak 1604, membawa ideologi dan sistem baru yang perlahan menggerus otoritas tradisional para penguasa lokal.
Dan, bukan hanya peluru dan traktat Belanda yang menghancurkan singgasana. Di kaki Gunung Awu yang perkasa, sejarah terkadang dikubur oleh abu.
Kolongan, yang pernah berjaya di masa lalu, lenyap bukan hanya karena sengketa keluarga atau pertempuran melawan Portugis. Ia menghilang karena Gunung Awu memutuskan untuk terbangun dari tidur panjangnya pada Juni 1892.
Misionaris D. Brilman dalam catatannya melukiskan kengerian itu dengan tinta yang seolah masih basah. “Lautan api itu membawa kematian dan pemusnahan total ke segala penjuru,” tulisnya.
Ledakan dahsyat itu memuntahkan 45 juta meter kubik air mendidih dan abu panas yang menutupi hutan hingga ke pesisir.
Sebanyak 2.000 nyawa melayang dalam sekejap, mengubah peta politik Sangihe secara permanen.
Salah satu fragmen paling memilukan adalah temuan di sebuah gereja di Desa Bahu. Brilman mencatat bagaimana pemimpin jemaat dan anggotanya ditemukan dalam posisi tetap duduk di bangku-bangku, namun tubuh mereka telah menjadi abu yang hancur saat disentuh.
Letusan Awu bukan hanya bencana alam, ia adalah penentu akhir dari beberapa garis keturunan kekuasaan di kaki gunung tersebut.
Memasuki tahun 1900-an, jumlah kerajaan di Sangihe menyusut hingga menyisakan tiga saja: Tabukan, Manganitu, dan gabungan Kendahe-Taruna.
Kerajaan-kerajaan kecil lainnya seperti Sawang dan Kauhis terpaksa bergabung demi bertahan hidup. Transisi ini juga menandai pergeseran gelar dari “Datu” yang dipengaruhi sistem kedatuan Mindanao menjadi “Raja” di bawah pengaruh administratif kolonial Belanda.
Kini, warisan itu tersimpan dalam dentingan palu para pandai besi di Lenganeng. Mereka menempa pedang bukan lagi untuk perang, melainkan untuk menjaga ingatan.
Sejarah Sangihe adalah pengingat bahwa kekuasaan tidaklah statis. Ia mengalir, mengempis, dan terkadang meledak bersama lahar panas, menyisakan cerita-cerita tentang keberanian manusia di antara pertemuan dua benua dan ancaman gunung api. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post