• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Oktober 28, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Menelusuri Epik Samudera di Garis Darah Pelaut Nusa Utara

by Iverdixon Tinungki
15 Desember 2025
in Budaya
0
Epik samudera orang pelaut-pelaut Nusa Utara. (Gambar: Ilustrasi AI_

Epik samudera orang pelaut-pelaut Nusa Utara. (Gambar: Ilustrasi AI_

0
SHARES
84
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM–Tak ada lagi garis dalam peta pelayaran dunia saat ini yang tak pernah dilintasi oleh pelaut-pelaut tangguh dari Nusa Utara—sebutan bagi kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Kisah penjelajahan mereka terdengar bagai dongeng yang terlepas dari era moyang-moyang tua, sebuah epik yang menegaskan bahwa Nusa Utara adalah salah satu dari bangsa pelaut terbesar yang pernah ada.

Kisah penjelajahan mereka terdengar bagai dongeng yang terlepas dari era moyang-moyang tua, sebuah epik yang menegaskan bahwa Nusa Utara adalah salah satu dari bangsa pelaut terbesar yang pernah ada.

Bagi mereka, lautan bukanlah sekadar batas, melainkan rumah keseharian yang berada dalam perlindungan dewa agung mereka, “Tagaroa”.

Jejak mereka terentang melintasi bumi, dari dermaga-dermaga niaga tersibuk di Asia hingga perairan paling beku di kutub. Kapten Max Malumbot Kaaro, seorang nakhoda kapal niaga berbendera Jepang, suatu kali bersaksi tentang luasnya kiprah mereka.

“Bahkan di belahan kutub utara, di kapal-kapal pemecah es ada pelaut Sangihe Talaud,” ungkapnya, menorehkan peta mental yang mustahil dibayangkan oleh orang darat.

Ia menambahkan, organisasi pelaut Sangihe di Singapura atau Jakarta mengoleksi ribuan nama dengan marga-marga unik, yang ciri khasnya terletak pada konsonan ‘L’ dan ‘R’, sebuah penanda identitas dan metaforsa profesi leluhur.

Rasa tak cukup hanya membaca literatur kebaharian negeri itu memaksa saya untuk terjun langsung, ikut berbasah-basah dalam arus dan ombak untuk memahami semangat kelautan mereka.

Lebih dari setahun, saya menyempatkan waktu belajar seluk beluk tradisi laut di pulau-pulau Selatan Sangihe, sembari mencatat aneka budaya lisan dan menulis reportase. Inilah sesi petualangan yang membuka pemahaman saya tentang denyut tradisi bahari orang-orang Nusa Utara yang sesungguhnya.

Maka, pada pagi buta 31 Desember 1987, saya memilih duduk di bagian haluan perahu Pamo, sementara Madunde, lelaki 50 tahun yang sering bepergian dengan perahu ke pulau-pulau di wilayah Mindanao, memegang kemudi.

Setelah memikul dan memasang dua unit mesin Enduro 75 PK di buritan, kami meninggalkan pesisir pulau Para. Tujuan kami adalah pembayaran dan penjemputan kopra di pulau Kalama, Kahakitang, dan Mahengetang.

Perjalanan pulang menjelang sore itu mendadak diselimuti kecemasan. Kurang lebih 10 ton kopra telah terpacal rapih dalam perahu ketika angin barat keras mulai bertiup. Jarak antar pulau yang biasanya ditempuh hanya 30 menit hingga 1 jam, kini menjadi urusan yang rumit dan menegangkan.

Badai kencang menyapu, dan saat hujan ikut menderas, permukaan laut mulai terlihat seperti mendidih, perpaduan angin dan bintik air terasa laksana cambukan perih di kulit.

Di tengah ombak yang membumbung tinggi, yang menakutkan bagi saya adalah seandainya perahu kayu itu pecah. Saya bertanya-tanya dalam hati, keberanian dan ketenangan macam apa yang dimiliki juru mudi itu?

Madunde nampak begitu tenang mengemudikan perahu, bahkan ia bersenandung dengan ekspresi riang. Tanpa ekspresi kekhawatiran sedikit pun, ia menenangkan kegelisahan saya dengan senyum tipis. “Tenang saja, ini belum seberapa,” ucapnya.

Anehnya, saat kami tiba di pulau Para, tak satu orang pun yang bertanya tentang cuaca buruk yang baru saja kami lewati. Di sana saya berkesimpulan bahwa ombak dan badai telah menjadi bagian dari keseharian mereka, suatu hal yang tak lazim lagi diperbincangkan. Hal semacam ini adalah penampakan nyata dari ‘jiwa kebaharian’ yang mereka miliki.

Kesimpulan ini dipertegas oleh Kapten Vecky Kainage, seorang Master Marine yang saya wawancarai pada tahun 2015.

Mendengar kisah saya bersama Madunde, Kapten muda berperawakan gagah ini hanya tersenyum kecil. “Ombak di pulau-pulau Sangihe tak seberapa ukurannya bahkan saat badai paling keras sekalipun. Pelaut-pelaut kita telah kenyang dibanting ombak raksasa yang menghempas di bentang samudera,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak cukup hanya dengan Ilmu Pelayaran untuk menjadi pelaut sejati, seseorang harus punya jiwa kebaharian.

“Beruntung bagi anak-anak Nusa Utara, di mana jiwa pelaut itu sudah ada dalam darah. Kita semua putra Tagaroa, karena itu, laut adalah dunia kita yang sesungguhnya,” tegas Kapten Kainage, meruncingkan akar tradisi maritim mereka pada sebuah nama dewa kuno.

Mari meruncing pada Tagaroa, Dewa Laut yang telah hidup ribuan tahun dalam mitologi suku bangsa Sangihe Talaud—sosok yang juga dikenal dan dipuja oleh kaum Maori di Selandia Baru, penduduk kepulauan Hawaii, dan Pulau Paskah.

Tagaroa, atau dilafalkan sebagai ‘Taghaļoang’ dalam sastra bahari “Sasahara” Nusa Utara, adalah sang penguasa sekaligus nama samudera itu sendiri, terkadang juga disebut ‘Mawendo’.

Robert S. Suggs, ahli antropologi dari Columbia University, mencantumkan nama Tagaroa sebagai asal segala dewa dan pencipta segala yang ada dalam bukunya “The Island Civilizations of Polynesia”.

Penyebutan ini diperkuat oleh John Rahasia dalam karyanya, “Tagaroalogi”, yang memaparkan hasil penyelidikan mendalamnya tentang Tagaroa sebagai Maha Dewa Samudera, atau “Lord of the Sea”, bagi penduduk Indo-Pasifik.

Penyelidikan John Rahasia menggunakan pendekatan antropologi budaya berhasil memperkenalkan Tagaroa dalam konteks wilayah geografis yang disebutnya sebagai “The Indo-Pacific Archipelago” atau “dunia keenam Tagaroa”.

Wilayah ini membentang luas dari Pulau Madagaskar di Barat hingga Pulau Paskah di Timur, dari Jepang di Utara hingga Selandia Baru di Selatan. John menjelaskan bahwa nama Tagaroa muncul dalam beragam ejaan—Tangaroa, Tangaloa, Ta’aroa—namun kesemuanya merujuk pada Penguasa Lautan Teduh yang agung itu.

Bagi John Rahasia, adalah sebuah kesalahan serius ketika pelaut-pelaut Eropa mengambil nama dewa Laut Tengah, Oceanus, dan memberikannya pada kawasan Lautan Teduh menjadi Oceania.

Upaya penemuan kembali Tagaroa ini, menurutnya, adalah upaya melawan dan menghapus dominasi serta kolonialisme Eropa.

Penduduk The Indo-Pacific Archipelago adalah putera-puteri Tagaroa, bukan Oceania, yang leluhurnya berasal dari lembah sungai Mengkong dan bermigrasi melintasi samudera, diantar oleh perahu sakti “Dumalombang” yang menjadi simbol ras naga pelaut bagi orang Nusa Utara.(*)

Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Nilai-bilai kebaharian Nusa Utara. (Gambar: Ilustrasi AI)

DUA SAJAK LAUT BERLATAR SEJARAH NUSA UTARA KARYA IVERDIXON TINUNGKI

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Ferdi Samsudin Suarakan Kritik Lewat Puisi, “Rimba yang Dikhianati Negeri” 28 Oktober 2026
  • Sumpah Pemuda di Manado Panggung Perlawanan, Isu Reklamasi hingga Dugaan Pembakaran Gunung Klabat Disuarakan 28 Oktober 2026
  • Justman Entjaurau Sampaikan Terima Kasih, Tegaskan Persaudaraan IKA POLIMDO Tak Berakhir oleh Masa Jabatan 28 Oktober 2026
  • Momentum Sumpah Pemuda ke-98, Garda Marhaenis Muda Sulut: Nasionalisme Indonesia Jawaban Permasalahan Bangsa 28 Oktober 2026
  • Normans Luntungan Kritik RDP Komisi II DPRD Sulut: Dinilai Sekadar Seremonial, Tak Bisa Ubah Anggaran 28 Oktober 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In