Manado, Barta1.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Unsrat, Ferdi Samsudin, menyuarakan kritik terhadap kerusakan lingkungan melalui sebuah puisi berjudul “Rimba yang Dikhianati Negeri.”
Puisi tersebut dibacakannya dalam agenda peringatan Hari Sumpah Pemuda bertema “Refleksi Gerakan Pemuda di Sulawesi Utara” yang digelar di Pantai Karangria, Tuminting, Kota Manado, Rabu (28/10/2026).
Menariknya, puisi tersebut merupakan karya Ferdi sendiri. Melalui rangkaian kata yang sarat makna, ia menggambarkan kerusakan hutan, kebakaran lahan, serta tanggung jawab pemerintah dalam melindungi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Berikut puisi “Rimba yang Dikhianati Negeri” karya Ferdi Samsudin.
RIMBA YANG DIKHIANATI NEGERI
Di rahim khatulistiwa,
pernah tumbuh hijau yang begitu setia,
menadah hujan, memeluk semesta,
menjadi napas bagi segala yang bernyawa.
Namun, kini langit mengenakan jubah kelabu,
matahari kehilangan wajahnya,
dan angin pulang membawa kabar duka,
dari rimba yang perlahan menjadi abu.
Pohon-pohon tumbang tanpa sempat berpamitan,
akar-akar tercerabut dari ingatan,
burung-burung kehilangan alamat kepulangan,
sementara api menari di atas kehancuran,
melahap warisan yang tak mampu dibeli oleh zaman.
Wahai Indonesia,
tanah yang dahulu dipuji karena hijaunya,
mengapa luka yang sama terus kau terima?
Mengapa setiap kemarau menjadi perayaan bagi bara,
dan setiap kepulan asap menjadi berita yang perlahan tenggelam ditelan lupa?
Pada 2023, sekitar 1,16 juta hektare hutan dan lahan terbakar. Pada 2024, ratusan ribu hektare kembali menjadi saksi. Angka-angka itu tercatat dalam laporan,
tetapi berapa banyak tangis yang tak masuk hitungan?
Berapa banyak kehidupan yang kehilangan perlindungan,
sementara rimba menanggung dosa dari keserakahan penguasaan?
Wahai penguasa yang duduk di balik meja kekuasaan, pernahkah kalian mendengar jeritan yang tak bersuara? Pernahkah kalian mencium perih dari udara yang tercemar,
atau melihat masa depan yang perlahan terbakar di hadapan mata rakyat yang tak punya pilihan selain bersabar?
Jangan biarkan jabatan menjadi singgasana kealpaan, jangan biarkan kewenangan sekadar hiasan pidato kenegaraan.
Sebab rakyat tidak membutuhkan janji yang menjulang ke angkasa,
ketika rumah mereka masih diselimuti kabut derita.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah—di antara kalian, siapa yang sungguh mendengar? Siapa yang menjaga sebelum bara membesar? Siapa yang mengawasi sebelum rimba terbakar? Dan siapa yang akan berdiri ketika alam menuntut pertanggungjawaban?
Aku tahu, tidak semua tangan berpangku, tidak semua mata berpaling dari pilu. Namun, kerja yang belum cukup tetap harus diperbaiki, dan tanggung jawab yang belum tuntas tak boleh disembunyikan di balik janji.
Sebab negara bukan sekadar nama pada lambang, melainkan keberanian melindungi yang tak mampu melawan. Kekuasaan bukan sekadar hak untuk memerintah, melainkan kewajiban menjaga kehidupan agar tak punah.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut turut melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas, di antaranya Aliansi Tolak Reklamasi, LBH Manado, WALHI, PMII Metro, KOPRI Metro, Gusdurian Manado, IMM, BPK Oi Manado, Aliansi Perempuan Indonesia, Betina Issue, Kohati, HMI Cabang Manado, Korps IMMAWATI Sulut, Badan Tadzkir Unsrat, GMKI Komisariat Solafide, serta GMKI Cabang Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post