SAWAKKA
kenduri bidadari
pesta penghulu mata angin
batu hitam. batu kata
bisa ya bisa
bertamburlah!
tetua menghunus belati
menyatu moyang
brengbreng. tarian lepas
hati menepung dan lepas
ombak adalah sejarah tua tak kenal rentah
merentak disetiap tubuh mencari sebuah pucak mantra:
siapa engkau
aku naga. naga menyan berwarna ungu dan merah
wewangian liang hati asal cinta bertubah
berapa rupa bunga
berapa tangkai melati
untuk kudupa pada bumi
aku hanya minta kau mengingatku bagai kekasih
sulihlah mimpi hutanhutan ingin tumbuh
laut tak kau lupa
katakata tak beku
jadi?
mari menari dengan arakku
darah pulau karang selalu mendidih
–di pagi hari saat matahari tiba
ada dunia di balik kita berbisik—
AKU PERNAH SAMPAI DI ARANGKAA
aku pernah sampai di Arangkaa
di dusun kering
di tempat mimpi selalu tak mungkin
dan luka api masih berdarah
seuntai lagu di langit
dari suara seekor kunang
dipantul dinding batu
mengkremasi kujur tua bulan kesepian
aku pernah sampai di Arangkaa
di padang puisi yang luput ditafsir penyair
dan senja lenyap di tanjung
bagaimana membedakan riang dan kabung
di bawah patung Larenggam letih setua abu
dan sudah senyap perayaan suasa pemetik tradisi
hanya bau angus catatan sejarah
tengkorak hancur dalam gua
seorang nenek tua bungkuk mengayam pandang
dengan kemerdekaan irama jarinya
ia tak punya sehelai bendera
buat dikibar bersama duka
MAKATARA
pohonpohon kayu besi yang daundaunnya mengkilap
taklit memandang sejarah arus menderam
dalam pesta tambur yang sudah dimulai dari abadabad jauh
mereka masih mengenang mahapati elang
datang dalam wujud burungburung legenda
dari majapahit sejak tahun 1293
paporong hitam, merah, dan putih
gemerlap di atas kepala
bungabunga hutan pulau bersama melepas bau magisnya
memanggil makatara yang hilang dari peta
puluhan lelaki berbaris
tangan mereka menyimpan derap
tersemai dari darah pertama
pemberani lautlaut nusantara
mereka masih menyimpan tempur di hulu dada
batubatu bersusun
dan ombakobak kasar menamparnya
ia tak beringsut
datu telah mencelupkan hatinya
dalam rendaman bunga sepatu dan menuru
masih mantra hingga kini pada setiap langkah, tatapan mata
tak ada yang remuk di sini
ketika di tahun 1987 aku menyambangi budaya dan bau ikan
dalam taritarian perahu dan sebuah rekonstruksi pertempuran
anakanak menghafal dengan benar;
“uda makat raya”
meski jejaknya kini hilang dari sejarah
sejak mpu prapanca usai menulis nagarakertagama
MENGENCANI HENING AMPADOAP
aku mendengar suara pulau
di ampadoap
dihari bergenang sinar
air terjun
hutan wallacea
nuri dan sampiri yang gembira
Tuhan bernyanyi sendiri tanpa katakata
aku mendengar. mendengar dengan takjub
suarasuara riang dan hidup
denyar
gelombanggelombang yang tak pernah tidur
dan rumput seakan punya mulut
bersenandung
aku jatuh cinta, kembali jatuh cinta pada pulau
sejarah tua ibu
melabuhku sehidu bau rahim
bunga lili
dan semak yang leli
aku kembali lahir
kembali lahir sebagai anak utara
anak yang digendong laut
rentak perahu
dan maut yang duduk di ujung biduk
DAPALAN
antara pasang umaendo atolla
antara bulan lattu naworaa
kucari engkau ya Derro
antara dua sungai kecil
aku ingin menari bersamamu
merayakan bondang
meriangi alenda
bagai puisi bagai darah
bagai hidup bagai arah
kucari engkau dalam nama baraatta
dalam magunde, dalam megaloho
kucari batu baliang
kucari guru gelombang yang hilang
juga Etengan sang moyang
penyeduh pasang
sejarah laut yang kurayakan
di Manahe
tak ada lagi tiga puluh lima lelaki
siapa berjaga di laut raya ini
untuk kemudi punya arah melabuh diri
pohonpohon panamburin dan kapuracca
menjuluri tanjung yang tak kaubaca
doa daun gugur ke tanah
menangisi telenggo patah pucuknya
dalam usia yang siasia
Derro ya Derro
berkayuhlah di sini, di kisah anak hilang ini
dierang liang mengguruh hari yang padam
di kaki yang berjalan tak bertemu padang
antara dua sungai kecil
aku ingin menari bersamamu
merayakan bondang
meriangi alenda
bagai puisi bagai darah
bagai hidup bagai arah
MORONGE
bumi itu penutur yang sabar
mendaunkan kita
sebidang tanah dongeng
tentang padi
tentang pagi memantik seulas nyala api
pabila angin bertiup ke ladang
petani mengarib nyanyian
dan air mata sekam pecah di tangan
menyusun riwayat kematian
akhirnya aku tahu
bumi itu kekasih dan dongeng
benih yang tersebar
akan menjelma tugu garam
buram dan tajam
di sebidang masa lalu itu
kita mendengar kegembiraan
dan cibiran
saling memburu
dalam catatan seorang gelandangan
RAINIS
di bukit Yambu
kupanggil Ramensa
perahu lama di sini berkisah
cinta tumbuh sebagai buah
dalam siasat manis dan sepatnya sejarah
di bukit Yambu
kupanggil Yambu
Ramensa mendekapku
aku bagai kekasihnya
–sejak lahir aku didongengkan tanah
dan debu tumbuh jadi manna
mereka yang menenun air mata
mengisaki riang tergeletak pada rekah bunga
dan burung dara beterbangan
mengayam sebuah sarang
dan sepasang sayap tumbuh di punggungku
aku terbang
aku terbang dalam dongeng pulau ini
dalam doa moyang tua
sejak buah nenas pertama matang
dan Parangeng kusajakkan dalam catatan uban
PULAU KARANG NAPOMBARU
seekor kunang
menukik ke samudera
meniupkan suling dari abad yang hilang
seekor kunang
menukik ke samudera
mereguk api di liang cinta dan tangisan
–pulau karang inilah yang mendongengkannya
ada sepasang kekasih mengalahkan kematian
karena apa yang lekap di langit
lekap pula di dunia
mati hanyalah sebuah penyeberangan
dari tanah ke tanah
dari fana ke cinta
DAMAU
putri pergi ke seberang
pergi pula segenggam tanah
Ramensa, cinta hendak ke mana
padamu nyawa
sejarak kaki dengan tanah
PULUTAN
wahai Mannatta Larrossa
tempa padaku sebila sandappa
biar kutakluk semua naga
dari tujuh pintu damai bertubuh
beri aku matamu
dengan matamu
kupandang samudera
kusongsong gelombang
mengaji maut atau dendang
tempa padaku puratangngamu
akan kudekap Arrussuello untukmu
BANNADA
bila purnama bulat sempurna di Bannada
pohon Lungkang kembali mengubah warna daunnya
entah kepada siapa cinta hendak ia dongengkan
dari zaman ke zaman
antara bumi dan khayangan
manusia selalu yang bersalah
ada jeda cemas dan jerit dibibitkan
dan manusia dibanalkan oleh tafsir
seakanakan
sejak janin getir adalah takdir
penyusup yang membentuk sejarah lahir
lalu,
dalam pendar purnama dan mekar pucuk bunga
manusia dipaksa membuka simpul rahasia dijerat dewa
habislah seluruh usia dilalap langit selalu tak bersalah
TALAUD
puncak piapi menyimpan rahasia hutan
magma gunung telah lama mati tertimbun humus
melecutkan pucuk kayu hitam dan besi menjejar langit
dalam barisan pohon, batang rotan dan semak pakis
bertempur seperti serdadu kelembaban
mengalahkan angin kering melayukan urat
nyanyian luri di resik zaman
mengabar gemuruh lebat hujan tropis
mengkilapkan sayapsayap merah hijau birunya di labirin awan
memayungi kebun palawija, kacangkacangan yang gemuk
kelapa, cengkeh, cokelat, kopi, sagu, aren tegak bahagia
kegembiraan petani bertebar seperti sumur harta kaisar dan ratu
penuh manikam permata tak habis terpakai seumur waktu
Maleo bertelur di gembur pasir
membiarkan matahari mengarami anaknya
menetas di pangku pengasihan alam
buat kemeriahan pesta langit
di tepi bumi yang alami
ketang kenari mengerat kelapa menyisahkan remah
buat satwa yang lemah
anaianai melobangi tiang rumah
bertengkar dengan semut hitam yang mencuri telurnya
di balik dentum ambora, tanjung ombak abadi
yang terus bergelora
menggairahkan anakanak penyu belajar berenang
melecut gairah semangat kebaharian anak nusa
o, di dataran pulaupulau indah ini…
harusnya tak menetas rinai geram perbudakan
luka terbuka abad silam menanah di gema nanaungan
pengudusan kenduri Mahadia Ponto-Pasilawewe
menjatuhkan Kabaruan seharga kepingan logam mas kawin
lalu memborgol kepak gagah bangsa raja Elang
menjadi tekukur taklukan di kerangkeng pasar jual beli
di mangsa makaampo, dihisap lintah kopeni
persis di lekuk pantai molek menggeriapkan warnawarni ikan
tataplah dari Wowonduata pelampung air mengangkat pulau
seperti tangan Tuhan langsung membentuk lekuk tubuh anak gadis
meliuk gemulai membersitkan kecantikan sempurna hamparan karang
yang menebing dan datar atau menggembul
di dada benua berkilau perak pasir putih
pulaupulau tropis Pasifik yang dimasak dua musim
menjadi nona berpinggul padat memancar gairah
di ranjang beludru hijau pepohonan hutan
yang merebahkan tubuhnya membuka terusan jembatan pulau
dari tinonda sampai napombalu laksana kereta surga
menuju kutai, philipina, malaka, batavia
dan dunia baru di abad yang belum tiba
kelelawar terbang di tengah malam
suruk mengintai dengan gigi yang tajam
anakanak muda mabuk di gigir zaman
kakerlak mencari kesunyian di lemari pakaian
o, marilah keluar dari kamar kekhilafan
menjahit zaman yang disobek keangkuhan
bermalasan tak membuat kenyang
mencangkul ladang, menangkap ikan mencahayakan martabab
mengejar ilmu dan kearifan mendatangkan kebijaksanaan
hingga lantai bumi tak menjadi lebih tua dari umurnya
karena retak oleh nafsu dan sesumbar kuasa
jangan biarkan anak dimangsa ular di tepi jalan
buayabuaya di sungai biarlah mereka memakan babi hutan
bukan perempuanperempuan kita yang dulu melangir rambutnya
buat keharuman peradaban
bukankah di nanusa samudera masih mendengar suara manusia
mengisi ikan di lumbung doa di cekukan karang
gelatik, beo dan elang masih menggetarkan angkasa
dalam nyanyian tambur di pentas manee dan sawakka
ini waktunya mabua ton’na zaman
udah makat raya bukan payung air mata
tapi benteng utara yang gagah
buat sejarah baru
setelah zaman kesatria Arangkaa

Discussion about this post